Perbuatlah Apa Yang Engkau Kehendaki Orang Lain Perbuat Terhadapmu

Kali ini aku ingin menulis catatan kehidupan ini, sebuah catatan yang sengaja aku tuliskan, karena inilah yang terjadi dalam kehidupan ini dari saat yang lalu sampai kepada saat sekarang. Ya, hanya ingin untuk menuliskannya saja.

Perbuatlah Apa Yang Engkau Kehendaki Orang Lain Perbuat Terhadapmu – Jakarta, 11 Agustus 2019

Setahun yang lalu aku kembali ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, merantau dan mencoba untuk terus mau merasakan nikmatnya kehidupan di tanah orang lain. Ya, sebenarnya tanah kita juga sih, soalnya ini kan masih  INDONESIA. Negara kita tercinta.

Ya, aku masih ingin merasakan saat-saat dimana isi kantong menipis atau banyak hal lainnya yang mungkin sedikit nikmat kalau dipikir-pikir. Ya, saat dimana kita tidak menginginkan sesuatu terjadi tapi itu tetap terjadi, itulah kenikmatan yang sesungguhnya dari sebuah kehidupan. Itulah yang ingin aku rasakan.

Nge-kost itu pasti. Ya, aku mencari sebuah tempat untuk membaringkan kepala pada saat malam, karena siang adalah saat untuk pergi mencari beberapa kertas yang dapat digunakan untuk menyambung hidup di perantauan.

Di tempat dimana aku tinggal, terdapat 3 kamar (“ruangan”), yang 2 sudah terisi (“Aku dan tetanggaku”) dan yang satunya belum.

Seiring berjalannya waktu, aku biasanya membersihkan kamar kostku itu kalau bukan sabtu ya pasti minggu. Setiap minggu aku melakukannya dan aku masih bersifat egois, yaitu membersihkan apa yang aku gunakan (“kamar kost”).

Di samping kostku, ada semacam teras, seperti itu tidak diperhatikan, baik olehku maupun oleh tetanggaku. Ya, begitu juga dengan didepan kamar kost kami, jadi kelihatan atau terlihat sedikit kotor, baik itu berdebu atau terlihat seperti node-noda kotoran.

Tempat untuk menyimpan sampah pun kadang berantakan. Ya, karena ketika malam, ada beberapa pasukan (“Tikus”) yang datang untuk mencabik-cabik pelastik yang ada di sana. Sehingga ketika pagi, semuanya jadi berantakkan.

Karena melihat hal itu, aku merasa bahwa aku harus membersihkan, jadi ketika aku mau membersihkan kamar kost-ku, aku juga harus membersihkan didepannya, begitu juga disampingnya. Ya, karena kalau tidak, tidak ada yang mau memperhatikannya, baik aku maupun tetanggaku.

Karena masing-masing dari kami hanya membersihkan tempat dimana kami pakai, tidak lebih dari itu dan hanya sampai disitu.

Setiap minggu aku selalu membersihkannya. Ya, tidak selalu, tapi disaat aku merapikan kost tempat dimana aku pakai, pasti aku juga akan melakukannya untuk yang didepan dan untuk yang disampingnya.

Ya, aku melakukannya.

Hal yang paling menyakitkan dan itu terkadang ada ialah ketika kita telah membersihkannya dan orang lain yang mengotorinya. Ya, terkadang itu membuat kita merasakan hal yang tidak seharusnya kita pikirkan.

Iya, karena satu kata yang mungkin dapat terucap untuk saat-saat seperti ini ialah:

“Jika kamu tidak sanggup untuk membersihkan apa yang kamu kotori, setidaknya jangan kamu kotori apa yang telah dibersihkan”.

Iya, mungkin seperti itu. Sehingga ya sama seperti biasa, jika sudah terlihat kotor, ketika aku membersihkan kamar kost tempat dimana aku pakai, maka aku juga akan membersihkannya dan tidak hanya itu, aku membersihkan semuanya, termasuk di depan kamar tetangga kostku.

Jika aku hanya menyapu, maka aku menyapu juga didepan kamar kostnya, begitu juga jika aku nge-pel.

“Bukan bermaksud sombong atau sok rajin, tapi aku hanya ingin membagikan cerita disini, cerita dari apa yang engkau inginkan orang lain perbuat terhadapmu, perbuatlah juga demikian terhadap mereka”.

Seiring berjalannya waktu, aku tidak tahu kapan kita masing-masing memiliki kesadaran itu atau kapan kesadaran itu datang, tapi ya seperti biasa, karena aku hanya bisa membersihkan antara waktu sabtu dan minggu (“karena hari lain aku harus bekerja”) jadi ya seperti itu.

Ketika sampah sudah berserakkan, lantai sudah mulai kotor, aku hanya membiarkannya sampai aku memiliki waktu dan ketika aku pulang dari kantor, semuanya telah rapi dan bersih.

Aku tidak tahu siapa yang membersihkannya, tapi intinya ialah bukan aku dan kalau bukan aku, pasti tetangga kostku, karena di atas hanya ada kami. Ya, mungkin seperti itu.

“Kesadaran itu datang disaat ada yang mau memancingnya”.

Dan hal lain selain itu ialah sama seperti menjemur pakaian di depan. Ya, kadang kalau sudah masu maghrib dan jemuran tetangga kostku masih ada bergantungan dan ia tidak ada atau lagi keluar, aku mengangkatnya dan menggantungkan pakaian tersebut di bagian dalam teras.

Ya, hal tersebut kulakukan dan sama seperti demikian juga yang terus ia lakukan, ketika aku menggangung pakaianku dan pergi kerja, ketika pulang semua sudah berada di dalam teras kontrakkan.

Sebenarnya itulah kisah dimana: “Apa yang kita kehendaki orang lain perbuat terhadap kita, kita juga harus perbuat terlebih dahulu kepada orang tersebut”.

Dan masih banyak kisah-kisah lain yang mungkin tidak dapat diceritakan disini, karena terlalu banyak kisah kehidupan yang sama seperti judul catatan kehidupan ini.

Mungkin hanya itu cerita kehidupan untuk saat ini, sekian dan salam untuk catatan kehidupan ini.