Hidup Dan Pelajaran Yang Diajarkan

Kali ini aku ingin menulis tentang hidup dan pelajaran yang diajarkan dalam kehidupan ini, ya, ini adalah cerita kehidupan, cerita dari sebuah kehidupanku sendiri yang ingin kutuliskan sebagai sesuatu yang mungkin dapat mengingatkanku di lain waktu yang akan datang.

Hidup Dan Pelajaran yang Diajarkan – Jakarta, 27 Februari 2020

Terkadang aku masih menjadi budak dari sesuatu yang namanya uang. Ya, aku sadari itu dan itu benar adanya, karena ketika aku tidak menyadarinya, aku telah menjadi budaknya. Ehem, it’s a true story of my life.

Kenapa aku bisa menjadi budak uang?

The only one reasone yang paling mendasar dari pertanyaan itu ialah ketika aku mengeluarkan uangku, hati ini terasa berat, antara rasa tidak ikhlas itu ada, karena setiap aku harus melakukannya, selalu rasa emosi dan lebih kepada membenci diri ini, itu terasa semakin besar.

“Karena semakin besar uang yang aku keluarkan, maka semakin besar pula ketidakikhlasan aku untuk melakukannya”.

Dan ketika itu terjadi, sometimes I feel, I don’t have to be anything.

Sure, it’s a true story of my life. And Ya, I don’t realize something, something that I have to learn from this situation, something big more than anything in my life.

It’s about something, something yang harus aku pelajari dan yang terus diajarkan kepadaku sampai aku lulus dalam masalah itu dan jika aku tidak lulus, itu pasti akan terus diajarkan dan aku menyadari itu, karena setiap waktu aku melaluinya.

Aku pernah menonton sebuah film yang mengatakan bahwa:

“Kekuatan terbesar manusia itu bukan dari 5 panca indra yang dimiliki atau yang terlihat, tapi kekuatan terbesar manusia itu berasa dari dalam tubuh mereka”.

Aku menyadari itu jauh sebelum aku menyadari bahwa film ini terdapat pelajaran penting dari kata-kata tersebut dan yang memang benar adanya, ya, it’s about desires, keingianan dan yang ada dalam daging ini.

“Semakin besar keinginan yang ada padamu, maka semakin kecil pula kekuatan sejati yang ada dalam dirimu” – Me, 27 Februari 2020.

That’s why, everyday aku selalu ingin membunuh keinginanku dan aku tidak menyadari bahwa keinginan untuk membunuh keinginanku juga merupakan sebuah keinginan dan yang harus aku lupakan.

Ya, terkadang aku hanya menyadari satu hal dan itu hanya terkadang, ketika aku mengetahui atau mengingat diriku, keinginanku menjadi tidak ada dan sama sekali apapun itu menjadi tidak berarti, tapi sayangnya itu hanya terkadang, karena aku terlalu banyak lupa tentang aku.

Ya, sekarang aku masih belajar untuk tidak melupakan siapa aku dan setelah itu mungkin aku akan merdeka dari yang namanya keinginan, karena ketika aku tidak melupakan siapa aku, aku telah merasakan sebuah kemerdekaan, yaitu aku tidak menginginkan apapun, ya, apapun.

Dan itulah pelajaran pertama untuk saat ini. Belajar untuk tidak melupakan siapa aku.

Sekian dan salam untuk catatan kehidupan ini.