Kotoran Yang Busuk

Kali ini aku ingin menuliskan tentang “Kotoran yang busuk”, sebuah kata atau sebuah kalimat yang mungkin akan tercatat disini ialah apa yang sekarang terpikirkan.

Kotoran Yang Busuk – Jakarta, 20 Oktober 2020;

Ada segumpal kotoran yang busuk, terlihat seperti tertata rapi pada tempat disamping pinggiran jalan yang sedang dilalui oleh manusia.

Dilirikpun tidak, dihindari iya, dan terkadang diludahi. Setiap manusia yang melewatinya, memalingkan wajahnya dan menutup hidungnya.

Ia tetap berada di sana, tetap berada ditempat dimana iya berada. Ia tidak pernah ingin untuk menjadi kotoran tapi itulah adanya dia.

Ia masih disana, menunggu dan berharap akan datangnya hujan, agar dapat membersihkan dirinya sendiri, sehingga entah ia dapat menjadi berarti atau hilang tanpa jejak. Entahlah.

Semakin lama ia semakin mengering, cahaya mentari seolah-olah membakarnya. Iya bersyukur dalam kesakitannya, karena sekalipun itu menyakitkan, setidaknya busuknya semakin berkurang.

Sungguh, siapakah yang dapat menyukainya, setidaknya tidak meludahinya atau tidak memalingkan wajahnya, ketika berpapasan dengannya. Tidak, tidak ada seorangpun, ya, tidak ada seorangpun.

Ia masih di sana dan tetap berada disana. Mengumpulkan harapan untuk dapat terus bertahan menanti tetesan air hujan membasahi tubuhnya.

Karena satu yang ia tahu, ketika ia telah tersapu bersih dengan murninya air hujan yang turun dari langit, ia akan menjadi sesuatu yang tidak pernah diduga mereka yang pernah melewatinya.

Saat itu, apa yang ia terima dari manusia ketika ia menjadi kotoran, demikian pula manusia itu akan menerima apa yang pernah mereka berikan kepadanya.

Demikianlah cerita tentang kotoran yang busuk, yang masih berada dipinggiran jalan dan yang masih menantikan tetesan air hujan untuk melenyapkannya agar ia dapat menjadi apa yang seharusnya.

Sekian dan salam untuk cerita hari ini.