Aku Dan Catatanku

Ku berdiri di penghujung malamku,
Ku tahu pagiku sebentar lagi menjemputku.
Ku berdiri dengan 3 catatan ditanganku,
Kubawa dengan semangat dan kutunjukkan kepada TUANku.

TUANku tahu catatanku,
IA melihatnya dan aku tahu IA tahu itu.
Sekarang aku menunggu pagiku,
Ternyata ia tak kunjung datang,
Karena malamku barulah saja dimulai.

TUANku pergi meninggalkanku,
IA menjadikanku ada lalu meninggalkanku.
Terkadang aku menantang-NYA dan tidak percaya pada-NYA,
Ketika aku sadar aku tahu bahwa itulah sifat manusiaku.

Sedikit rasa kesal kadang ada padaku,
Karena IA menjadikanku ada lalu meninggalkanku.
Sungguh, tidak ada yang lebih sakit dari hal itu,
Ketika TUAN yang menjadikanmu meninggalkanmu.

IA meninggalkanku dalam malamku,
IA melepaskan aku sendiri berjalan dalam jalanku.
Aku tahu IA melihat dan mengawasiku,
Tapi sakit itu ada ketika IA mengabaikanku.

Dalam perjalanan dalam malamku,
Banyak catatan yang kutuliskan.
Catatan agar aku cepat sampai dalam pagiku,
Sebuah catatan keabadian yang aku maksudkan.

Catatan ini dituliskan dengan tinta kehidupan,
Di dalam sebuah kertas kehidupan,
Dan dimateraikan dengan materai keabadian.

Maksudku ingin menunjukkan kepada TUANku,
Bahwa aku sudah siap menggapai pagiku.
Tapi apalah daya hidup yang ada padaku ini,
Catatan yang buat kusobek hingga tak berarti.

Tapi 3 Catatan awalku masih ditanganku,
Catatan yang tak akan pernah kubuang dan kusobek,
Walaupun masa berganti masa,
Sampai kapanpun itu akan tetap ada.

Tapi sayangnya yang lain yang setelah itu,
Yang kutulis dengan tinta yang sama,
Di kertas yang sama dan materai yang sama,
Ku bawa tapi kusobek dan kubuang hilang tanpa jejak.

TUANku melihat dan mengawasiku,
Memalingkan wajah-NYA daripadaku,
Memanjangkan malamku,
Dan meninggalkanku.

Aku tahu waktunya akan datang,
Ketika aku berdiri di penghunjung malamku,
Tapi aku tidak tahu kapan itu akan terjadi,
Karena TUANku masih marah padaku.

Kadang aku berdiri di tengah malamku,
Melihat banyaknya bintang yang TUANku ciptakan,
Melihat dan merasakan kehidupan yang ada padaku,
Dan meminta IA untuk mengambilnya kembali.

Memintanya menghilangkan semua tentang aku,
Aku yang IA tahu tujuan IA menjadikanku.
Tapi IA tetap terdiam dan terus mengabaikanku,
Memalingkan wajah-NYA dariku dan melupakanku.

Sekarang aku hanya bisa beharap pada malamku,
Supaya IA cepat berakhir dari jalanku.
Berharap pada TUANku supaya ia menoleh padaku,
Memperpendek malamku dan membawa pagiku padaku.

Jika sekiranya hari itu adalah akhir dari tubuh ini,
Aku akan tetap sadar bahwa itulah kebaikan TUANku.
Aku akan pergi duduk di tempat terdalam dari siksaan,
Agar murka TUANku terhadapku menjadi tawar.

Aku ingin berjalan sendiri ke sana,
Membakar tubuh ini hingga tersisa debu dan bara,
Supaya amarah TUANku menjadi tiada,
Karena yang IA ciptakan ini telah tiada.

Sungguh, aku ingin melakukannya,
Aku ingin membakar tubuh ini di sana.
Agar TUANku tahu bahwa aku membenci tubuhku,
Dan aku mengasihi-NYA lebih dari apapun.

Aku Dan Materai Kehidupanku.