Catatan Buat Tatapan

Kali ini,
saya ingin menulis sebuah 
“Catatan Buat Tatapan”,
karena inilah tatapan sepi
tanpa
makna yang jelas dari seoarang penatap.
yah,
Bukan Ke PD’an
atau
apapun itu, tapi tidak taulah,
apa itu namanya
yang penting dan yang jelas ini hanya ingin
tuk
dicatat dari sebuah kejadian menatap.
Jika cuma hanya ingin menatap,
maka
saya tidak akan bertanya mengapa
tatapan itu dilakukan,
karena
saya hanya akan memberikan
waktu
kepada seorang penatap untuk menatap
sampai
akhir,
dimana ia telah tahu atau menemukan
sebuah
sisi kebosanan dari tatapan yang sering ia keluarkan
kepada
seorang pribadi yang belum jelas ( istilah kasarnya ).
Jika ia menatap,
ada 
beberapa kemungkinan yang terjadi
atau
yang sering terlintas di pikiran sang penatap.
yang pertama
“mungkin ia suka untuk melihat,
atau
tertarik untuk menatap,
karena 
ada beberapa alasan diantaranya 
ialah
karena ia penasaran saja sama yang ditatap”
yang kedua
“Mungkin juga ia kasihan atas apa yang telah diperbuat
oleh orang yang ditatap,
karena
ia telah mendengar bahwa 
orang yang ia tatap itu menyukainya,
sehingga ada 
rasa hiba dari dia,
bahwa
kasihan juga dia yah, orang seperti dia
tapi sukanya
sama orang seperti saya,
gimana yah?
beda level ( istilah kasarnya )”
yang ketiga
“mungkin karena dia berpikir bahwa,
orang
ini terlalu kepedean”.
yang keempat
“ingin coba-coba,
sehingga membuat orang yang ditatap itu ke pd’an
atau
ingin membuat orang yang ditatap itu
salah tingkah”.
yah, itulah mungkin beberapa alasan yang dapat saya berikan
mengapa seseorang itu ditatap.
tatapan tanpa makna yang jelas,
itulah
yang terjadi dan sedang atau sering ditemukan.
oleh karena itu,
inilah kata yang dapat ditemukan jika dibaca,
 
Jika cuma hanya mentap
yang bisa diberikan,
kapan
semuanya bisa berjalan?
kapan semuanya bisa bicara?
kapan semuanya bisa mengerti dan memahami?
dan
kapan pula semuanya akan tahu?
karena semuanya
itu
hanya sesuatu yang  penatap dan ditatap tidak tahu lah apa itu istilahnya,
tapi
tak apalah, biarkan tatapan itu terus terjadi,
itu hak sang penatap,
lagian tidak ada hukum dan aturan yang mengatur,
karena
tidak ada yang tahu,
apakah besok engkau masih bisa menatapnya lagi atau tidak,
lagian
itulah kesempatan anda untuk menatap,
jika
anda tak sanggup untuk berbicara.
lakukan terus,
terus,
dan
terus.
hingga waktu berbicara,
kalau
inilah saatnya atau akhir dari tatapanmu,
karena
orang yang ditatap
kini
telah tinggal atau pergi ke
ruang waktu yang beda,
sehingga
kesempatan dan ucapan yang diberikan
kepada sang penatap
ialah
terimakasih atas tatapan tanpa makna yang tidak diketahui
tersebut,
karena sekarang 
aku
yakin
tak mampu tuk menemukan tatapan itu
atau
aku
yakin juga,
engkau pasti akan sangat senang karena
yang ditatap
kini telah membuat sang penatap bebas untuk menatap.
 
 kesekian harinya,
biarlah ada hari tatapan terakhir,
jika memang  
mulut masih tak sanggup untuk berbicara,
jika memang
ego membuat semuanya jadi bertahan,
jika memang
malu telah menutup semua kemungkinan,
jika memang
semua itu hanya kasihan yang terlintas,
jika memang
itu memang tak pantas atau tak bisa dikeluarkan.
hingga
sekian
dari
Penulis.
 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.