Catatan Hidupku Dan Pendidikanku

Aku terlahir kedunia ini pasti punya tujuan,
mungkin tujuannya itu adalah untuk menikmati hidupku.

tapi ketika aku terlahir,
tangisan pertamakulah yang didengar, bukan tawaku.

aku menagis, karena aku tahu bahwa di dunia aku pasti akan sedikit dipersulit,
dipersulit oleh orang sesamaku dari aturan yang telah mereka buat.
Jujur, aku bukan menangis karena sulit menjalani aturan yang dibuat,
tapi karena aku berpikir bahwa kenapa harus orang disekitarku yang mempersulit sesamanya.

Setelah aku lahir dan mulai untuk mengerti,
akhirnya aku mengenal satu bintang yang sangat jauh, yaitu cita-citaku,
bintang ini adalah bintang timurku yang telah digariskan di telapak tangan kananku
sebelum aku dititipkan kepada kedua orang tuaku.

dalam usia kecilku, aku ditawari banyak bintang dari orang tuaku,
mereka menanyakan bintang mana yang engkau mau,
maka pergilah dan mengambilnya.

Karena bintang ini sangat jauh,
Maka aku tak bisa dengan mudah untuk mendapatkannya,
sebab aku harus berjalan yang jauh sekali agar bisa lebih dekat
dan meraihnya untuk membahagian orang-orang disekitarku.

Dalam meraih bintangku, perjalananku harus kutempuh dari usiaku yang ke-7.

Aku pernah mencoba pada usiaku yang ke-5, akan tetapi sang pemilik jalan
belum memberikan kesempatan itu kepadaku untuk berjalan.

inilah pertama kali aku mengenal orang-orang disekitarku yang memang ingin mempersulit
diriku dalam menggapai bintangku.

pada usiaku yang ke-6, aku mencoba kembali, akan tetapi hasilnya masih sama,
orang yang sama tak memberikanku kesempatan untuk berjalan dalam menggapai bintangku.

sehingga pada usiaku yang ke-7 barulah ia memberikan kesempatan itu padaku.
sehingga dari situlah awal aku berjalan menggapai bintang timurku.

bintangku adalah cita-citaku dan perjalananku adalah pelajaran dalam pendidikanku.

dalam perjalananku selama 14 tahun, aku belum mendapatkan bintangku,
jangankan untuk mendapatkannya, melihatnya pun aku belum bisa.

bintangku masih sangat jauh, masih terletak dibagian timur dari arahku sekarang.

dalam berjalan, orang-orang disekitarku ( pemilik jalan ) sedikit mempersulitku dan mengharuskan aku untuk melewati 1000 jalan secara bersamaan untuk menggapai bintangku yang tepat berada jauh didepanku,
padahal mereka tahu bahwa tubuh ini hanya 1 yang tak mungkin untuk melewati
1000 jalan sekaligus dalam satu waktu.

padahal mereka juga tahu, bahwa dengan 1 jalanpun aku bisa menggapai bintangku.
kalau bisa satu, kenapa harus banyak jalan yang harus untuk ditempuh?
inilah yang dinamakan sedikit mempersulit perjalananku dalam menggapai bintang timurku.

mereka membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa dan mereka juga yang telah membuat aku lelah sampai terjatuh,
karena mereka lah pemilik dari jalan ini yang telah membuat sebuah aturan yang harus untuk diikuti.

mereka membuat aku jatuh dan setelah aku terjatuh,
mereka mengatakan sebuah kata yang juga menjatuhkanku,
kata yang terkadang aku kenal dengan nama “bodok”,
yah, mereka mengatakan aku adalah orang yang bodok yang tak mampu untuk berjalan.

walaupun aku sering terjatuh, bukan berarti aku gugur.
aku masih berusaha melewati cacian dan makian yang secara tak langsung telah mereka berikan kepadaku,
karena tujuanku sekarang adalah bintangku, bintang timurku dari tangan kananku,
bukan mendengar cacian dan makian mereka.

aku tak peduli seberapa banyak jalan yang mereka berikan kepadaku,
karena intinya adalah aku harus tetap untuk berjalan.

walaupun aku sering terjatuh, jujur saja, bukannya aku tak mampu untuk berjalan,
akan tetapi aku lelah karena terlalu banyak jalan yang harus aku lewati dalam 1 waktu secara bersamaan.

Jalan yang sangat banyak dan beban yang sangat berat yang harus aku pikul dalam perjalananku.

sekarang aku masih berjalan dari 1000 jalan yang mereka berikan,
akan tetapi aku selalu berusaha untuk berlari ketika berada pada satu jalan yang aku mau,
dan berjalan secara lambat atau secara biasa pada jalan lain yang telah mereka berikan,

karena aku tak mau lelah dijalan yang banyak dan aku hanya ingin lelah dan cepat sampai ditujuan dari bintangku melalui jalan yang aku pilih,

sehingga terkadang aku gagal dari jalan lain dan harus mengulanginya kembali,
karena aku lelah atas banyaknya jalan dan besarnya beban yang mereka berikan padaku.

mereka adalah mereka yang sudah menjadi seperti mereka yang dulu,
mengikuti aturan yang dibuat dan diperbudak oleh aturan itu sendiri.

mereka adalah pembuat, akan tetapi mereka juga yang diperbudak dari apa yang telah mereka buat.

mengikuti mereka terkadang membuat tubuh ini lelah,
tapi merekalah penentu agar tubuh ini bisa berjalan terus menggapai bintang.

perjalanan yang jauh masih terasa,
bahkan terkadang aku lupa akan jalan ku yang sebenarnya dalam menggapai bintangku,
karena terlalu banyak jalan yang harus aku lalui.

aku dan aku yang masih dulu dan masih sekarang.

itulah catatan singkatku atau perumpamaanku dari hidupku dan pendidikanku.

yah, karena terkadang hidup itu seperti perumpamaan diatas dalam menggapai cita-cita.

Dan jika masih belum mengerti akan perumpamaan diatas, maka dibawah ini adalah terjemahannya secara langsung

kita ingin menggapai cita-cita kita,
menggapai dengan skil atau kemampuan yang kita punya.
akan tetapi terkadang dalam pendidikan, terlalu banyak yang harus kita pelajari.

pelajaran dari a – z.

kita bersekolah untuk apa? untuk menggapai cita-cita.

kita belajar untuk apa? untuk menggapai cita-cita.

akan tetapi belajar disini harus seperti apa?

kalau bisa 1 pelajaran yang sesuai dengan skil atau kemampuan kita atau sesuai dengan apa yang kita mau untuk dipelajari dalam menggapai cita-cita kita,
kenapa kita harus belajar 1000 pelajaran lain yang jauh dari skill atau kemampuan kita atau pelajaran yang tidak kita sukai yang terkadang membuat kita lelah, capek dan bingung bahkan sampai membuat kita terjatuh?

kenapa dan kenapa?

mereka membuat aturan agar kita mengikuti aturan yang telah mereka buat, yaitu belajar dan belajar sesuatu yang tidak pasti.

aturan ini selalu dilakukan secara turun menurun dari nenek sampai moyang.

aturan yang dibuat oleh mereka, dan mereka juga yang diperbudak oleh aturan yang telah dibuat.

kapankah baru ada perubahan, jika jalan hidup itu seperti ini? selalu dipersulit dalam segala keadaan.

sehingga terkadang banyak yang jatuh, bukan karena mereka tak mampu untuk belajar, akan tetapi terlalu banyak untuk dipelajari, terlalu banyak untuk dipikirkan dan terlalu banyak beban dalam pikiran karena satu alasan dari apa yang tidak disukai atau apa yang tidak pasti.

sekian dan salam buat catatan hidupku dan pendidikanku.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.