Catatan Tentang Perjalanan Di Kota Jakarta

Catatan tentang Perjalanan Adalah Catatan Kehidupan untuk hari ini yang ingin untuk dicatat, sebagai bagian dari harapan agaran diding posting tak akan pernah kosong.

Berawal dari sebuah langkah yang kecil di pagi yang begitu indah, berjalan menuju Kampus dengan sebuah harapan dan tujuan agar bisa sampai di tujuan dengan cepat.

Dalam Perjalanan, banyak pemandangan yang terlihat begitu mengagumkan akan indahnya kota Jakarta, pemandangan ini tidak lain adalah Kemacetan.

Yah,Orang-orang banyak yang berlalu-lalang dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, berdiri dan saling mengantri.

Ada yang berusaha menerobos Jalur Busway, itulah Angkot yang sedang saya gunakan ini.

Menerobos kemana ia ingin untuk pergi, tidak peduli semacet apa kota jakarta, Kopaja atau angkot yang sering saya gunakan adalah angkot VVIP untuk Angkutan Jalan ( yah, itu adalah istilah dari saya ), sebab selalu berhenti dimana ia ingin untuk berhenti.

Terkadang Ada seorang atau dua orang penumpang dari kejauhan telah melambaikan tangan, dengan bangga si angkot selalu memotong jalur ( jika pada saat itu lagi berada di jalur Busway ) dan menuju ke tempat di mana si penumpang itu lagi berdiri.

Yah, terkadang juga ia tidak memotong jalur, akan tetapi ia selalu berhenti di tengah kemacetan untuk mengambil penumpang.

Jujur saja, saya tidak tahu yang salah ini siapa, si penumpang atau angkot ini. Sebab, Angkot juga tidak mungkin salah, karena angkot butuh penumpang. akan tetapi, bukan berarti penumpang juga salah, karena penumpang butuh angkot.

Terus yang salah siapa? saya juga bingung.

Yah, ceritanya seperti itu, itulah cerita yang selalu dan selalu saya temukan dalam perjalanan saya.

Banyak kesempatan dalam kesempitan juga sering terjadi dalam sebuah angkot, itulah pengalaman dan cerita yang sudah menjadi rahasia umum.

Kesempatan ini selalu dimanfaatkan sama mereka ( orang yang mau menikmati kesempatan ) untuk menikmati sesuatu yang indah, mungkin kata lembutnya adalah rapat dan rapat.

Yah, ketika penumpang telah penuh, tidak ada tempat untuk duduk, terkadang banyak yang berdiri dan kenek dari angkot pun tak mau peduli tentang banyaknya penumpang yang berada dalam angkotnya.

semakin banyak semakin bagus, mungkin itu adalah istilahnya. agar pemasukkan semakin besar.

kesempatan ini sering didapat ketika telah bergesek-gesekkan, ketika saling berbelakangan. yah, terlihat seperti itu. tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan.

semuanya sudah terjadi.

Sama-sama mengabaikkan apa yang telah atau sedang terjadi, dan sama-sama menikmati perjalanan. saya tidak tahu, apakah ini karena terpaksa atau memang itu yang sudah diinginkan atau memang diinginkan.

Terkadang Juga ada seorang yang berdiri disamping kursi, menghadap ke jendela dan sedikit bersandar ditangan orang yang lagi duduk di kursi tersebut.

Yah, terlihat seperti sesuatu yang tak bisa untuk dijelaskan secara rinci.

yang duduk dikursi menikmati perjalanan, tak mau tahu siapa yang berdiri disampingnya. acuh-acuh itulah sifat yang mungkin sering ditemukan. karena keenakan dalam pikiran telah menutup semua rencana kebaikan ( mungkin ). sedangkan yang berdiri pun tak mau tahu dan tak ingin tahu apa yang ia telah lakukan ( secara tidak langsung ), yang terpenting adalah posisi untuk berdiri telah mencapai sebuah posisi yang enak (katanya).

Ada hal yang lain juga yang sering terjadi dalam perjalanan yang sering saya lakukan menggunakan angkot, yaitu tentang anak kecil.

Masuk dengan berani, dengan rasa percaya diri yang tinggi, berdiri di bagian depan di samping pintu masuk, terkadang memegang sebuah gitar dan terkadang pula hanya membawa tangan kosong tanpa alat musik dan memegang beberapa amplop.

Masuk dengan sebuah harapan agar bisa mendapat beberapa recehan.

tidak memikirkan masa depan, yang terpenting adalah bisa makan.

berdiri dengan tubuh mungilnya, menyanyi dan terus bernyanyi tentang sebuah lagu yang ia tahu.

saya tidak tahu dan mungkin tidak ingin tahu, terkadang itulah rasa dan sifat keegoisan yang terkadang ada, apakah anak ini sudah sekolah atau tidak.

yah, atau ia tidak ingin untuk mengenal dinding, bangku, meja, dan papan tulis dari sekolah.

saya juga tidak tahu.

ingin bertanya tapi yah tapi aja. selalu ingin dalam ketidak inginan ( itulah mungkin katanya ).

mungkin ia ingin sekolah, tapi kesempatan yang mungkin saja belum datang. yah, kesempatan dari sebuah kesempatan. atau mungkin saja ia sudah sekolah, dan sekarang adalah kesempatan untuk mencari uang jajan ( mungkin ), tapi kenapa? anak sekecil itu harus berusaha menaklukkan kerasnya hidup?

mereka yang berbuat terkadang hanya ingin enaknya saja, setelah berbuat dan telah terjadi, mereka tidak ingin mempertanggungjawabkannya.

yah, mereka selalu ingin yang enaknya saja.

Harapan mungkin telah hilang dari si anak mungil ini, akan tetapi ia masih punya masa depan yang baik ( semoga dan amin ).

Yah, saya hanya bisa melihat dan memberikan komentar, karena sampai sekarang masih banyak yang beum saya punya. masih berharap pada orang tua, itulah yang sekarang masih terjadi.

Mungkin hanya sifat egois yang harus ditunjukkan, agar apa yang terjadi seolah-olah tidak terjadi.

Yah, Itulah mungkin Jakarta.

Sekian aja tetang catatan dalam perjalan di Jakarta. Sekian Dan Salam

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.