Harapan

Aku berdiri disebuah Jalanan,
Berdiri dengan sebuah harapan,
harapan akan masa depan yang mungkin penuh dengan kebahagian.

Aku berdiri dan masih saja berdiri,
Tak pernah melangkah dan tak mau untuk melangkah.
Aku menantikan sebuah jawaban,
jawaban yang masih aku pertanyakan.

Sebab aku akan berjalan ketika aku telah memiliki sebuah jawaban.
Jawaban dari pertanyaan yang aku sendiri belum tahu pertanyaan itu seperti apa.

Aku berharap ada yang bisa menjawab,
Agar langkahku dapat segera dilakukan.

Aku bertanya dan terus bertanya bukan melalui mulut,
akan tetapi aku berusaha bertanya dengan perasaan
melalui sebuah tatapan.

Aku berusaha untuk menatap langit,
Agar aku bisa mendapatkan jawaban darinya,
akan tapi langit seolah-olah tak mau untuk ditatap,
ia terdiam dan tak pernah menjawab.

Aku merasa bahwa terlalu tinggi langit untuk ditanya,
sehingga aku tak bisa mendapatkannya.

aku kembali dan berusaha untuk menatap bumi,
menatap di bawah, di mana kakiku menginjak,
aku berharap agar aku bisa mendapatkan jawaban darinya,
akan tetapi bumi hanya terdiam dan tak pernah untuk menjawab.

Semua berpalin,
Alam yang dulu adalah sahabatku,
sekarang telah menjadi murka padaku.

Sekarang aku hanya bisa berdiri,
berdiri dengan doa,
agar bisa mengetahui segala kesalahan
yang mungkin telah aku lakukan.

Kesalahan Pada Alam,
yang telah di lakukan.

Sekarang Aku belajar untuk menaruh harapan pada Tuhan,
Aku berharap IA yang disana tak melupakanku,

Aku berdo’a dan berkata,
Tuhan, inilah tubuh yang telah Engkau berikan,
dan sekarang Engkau abaikan.

Berikan aku sebuah jawaban,
agar aku bisa segera untuk berjalan,
berjalan untuk menemukan masa depan,
masa depan yang telah Engkau tentukan.

tapi aku belum mendapatkan jawaban,
jawaban yang sangat dan sangat aku harapkan.

Akhirnya aku sadar,
Tuhan mungkin mendengarku,
tapi tidak sejelas yang seharusnya.

Aku sadar bahwa jarak telah memiskan aku dan DIA,
Jurang yang dalam mungkin telah aku gali,
jurang yang lebar mungkin telah aku buat,
sehingga aku tak bisa lagi untuk berbicara dengan-NYA sekarang.

akhirnya sekarang aku sadar,
aku harus tetap berdiri,
berdiri dan berusaha untuk menutup lubang yang telah ku buat.

Hingga akhirnya semua lubang yang ku buat telah tertutup,
dan mungkin disitulah aku bisa berbicara dengan-NYA
dan bisa memperoleh sebuah jawaban yang sangat aku harapkan.

Tak ada yang perlu disalahkan,
karena semua telah terjadi.

Menyalahkan hanya akan membuat keadaan menjadi lebih tak baik,
sehingga terkadang terdiam dalam sabar adalah hal yang harus untuk dilakukan.

sampai dimana aku lelah,
maka disitu aku menyerah.

menyerah pada keadaan yang telah aku bentuk sendiri,
menyerah pada segalanya yang telah aku inginkan.

sampai akhir.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.