Kesempatan Terindah Di Hari Kedua Ujian Akhir Semester

Senin, 8 Desember 2014

Hari ini ( Kemarin ) adalah merupakan
hari yang memberikan
kesempatan terindah selama berkuliah.

yah,

Hari adalah hari Ujian yang kedua saya,
yaitu mata kuliah Sistem Terdistribusi.

Ujian dimulai Tepat Pukul 8:40,
sedangkan pada hari ini juga,
saya bangun
tepat pukul 7:13 ( pas lihat jam).

Perjalan Kekampus biasanya 1 Jam ( biasa ) belum ditambah Kemacetan.
semua sudah diperhitungkan
dan
kesimpulan yang diambil adalah pasti sudah terlambat.

berharap ada kesempatan,
yaitu
ketika terlambat nanti, minimal masih bisa masuk untuk mengikuti
ujian sebagaimana mestinya.

tepat dari Kos’an, kira-kira hampir setengah delapan,
dalam perjalan
mobil yang saya tumpangi mendapat satu hambatan
yaitu
macet yang parah,
hingga saya sampai tepat di Kampus hampir setengah 10.

Dengan

Penuh kepercayaan dan sifat santai yang ada,
perlahan
saya berjalan menuju fakultas saya.

sebelum sampai di fakultas,
saya sempat membeli sebotol air sebagai bekal
untuk diminum ketika sudah di Kelas
 ( ini sudah tradisi saya atau kebiasaan saya sebelum masuk kelas ).

Tepat sampai di lantai 8,
saya sudah mendapati seorang teman saya
yang sedang duduk diluar.

saya bertanya
“Udah selesai Bro” ( Soalnya kaga’ tahu nama dia )
diapun menjawab
“Ia, saya sudah selesai”.

Wah,

dengan PD saya langsung beranjak ke Kelas,
disana saya mendapati
2 Orang pengawas yang sedang
mengawasi berlangsungnya Ujian hari ini.

Dengan
penuh harapan untuk bisa memulai Ujian,
saya bertanya
“Apakah saya bisa mengikuti Ujian?”
salah satu pengawas menjawab,
“Wah udah jam berapa ini? ini udah telat, seharusnya udah dari tadi harus masuknya,
lagian udah ada teman kamu yang udah keluar,
jadi, kamu tidak bisa mengikuti ujian ini,
karena ini sudah aturan. Coba kamu tanya aja sama
bla….bla…..bla…., siapa tahu masih bisa”

langsung saya bertanya lagi
“Masa’ tidak ada toleransi sih Pak?”

dia menjawab
 “tidak bisa, soalnya ini sudah aturan”.

setelah mendengar kata itu,
hanya kata terakhir yang sempat terucap
yaitu
“Terimakasih Pak”
dan
setelah itu saya beranjak meninggalkan
kelas ujian
dengan harapan yang sedikit kosong.

memiliki inisiatif lain
dengan ada harapan bahwa masih ada kesempatan,
saya
akhirnya menghadap ke ketua program studi jurusan saya,
sesampai
diruangannya,
saya bertanya
“Bu’ ( Kebetulah Ia Ibu-2 ), saya mau bertanya nih,
saya terlambat mengikuti ujian Bu,
jadi apakah masih ada kesempatan?”

jawabnya

“Udah tidak bisa lagi, soalnya aturanya udah seperti itu, jadi lain kali jangan terlambat lagi yah?”.
dengan
sedikit kecewa,
saya meninggalkan ruangan itu dengan hati sedikit gelisah,
mata sedikit merah,
dan
perasaan sedikit kacau
( Bukan karena tidak bisa ikut ujian, tapi hanya kasihan saja sama orang Tua yang selalu berpikir bahwa anaknya yang ada disini selalu baik-baik dalam pendidikannya, dan intinya ialah
saya hanya tidak ingin mengecewakan kepercayaan yang
telah mereka berikan kesaya. )

Hingga akhirnya saya sadar
bahwa
“Tak seharusnya saya bertanya, karena aturan sudah diketahui dan tak ada alasan untuk melanggar aturan itu”
tapi
“saya juga sadar, bahwa saya harus mencoba untuk mendapatkan sebuah kesempatan”
( walau akhirnya kesempatan itu tidak ada dan tak pernah ada ).

ketika masalah ini terjadi,
saya selalu berpikir dalam menit-menit ketika saya keluar dari ruangan itu
( Kelas dan ruangan Dosen )
“Semoga mereka adalah orang yang taat’ aturan,
semoga mereka tidak mendapatkan masalah seperti ini,
dan
semoga mereka selalu baik-baik saja”

karena

ketika mereka melanggar aturan itu sendiri,
maka
mereka sendirilah yang telah menjilat ludah mereka sendiri.

setelah itu, hati sedikit tenang,
pikiran menjadi redah
dan
kata terimakasih mulai muncul dalam pikiran ini,
karena saya baru sadar
bahwa
“Inilah kesempatan terindah yang telah diberikan Tuhan kepada saya
secara tidak langsung,
untuk
belajar menjadi orang yang sabar,
belajar menjadi orang yang tabah,
belajar menjadi orang yang harusnya bersyukur disetiap keadaan,
belajar menjadi orang yang mengenal orang lain lebih dekat,
dan
belajar bahwa setiap masalah ini pasti adalah kesempatan untuk mendapatkan
hal terbaik lainnya yang ada didepan”

dan

bahkan untuk bisa menghargai atauran itu sendiri.

tidak ada kata lain lagi yang terucap,
selain
kata terimakasih,
karena ini mungkin kesempatan yang terakhir,
dan inilah kesempatan untuk menikmatinya,
bukan
untuk menyesalinya,
sebab kesempatan seperti ini tidak semua orang mau,
jadi
hanya secara kebetulan saja ini terjadi.

dengan

penuh senyuman ( Senyam-senyum sendiri )
dan
ketengan hati,
saya beranjak ke Warteg langganan ( warteg ijo istilah saya dan sahabat-sahabat saya )
dengan kata dalam hati ini
ialah
“terimakasih”

yah

itulah kata yang selalu terucap dalam setiap langkah.

Terimakasih untuk hari ini yang begitu indah,
terimakasih untuk kesempatan yang telah ada,
terimakasih untuk semuanya.

semoga semuanya baik-baik saja
 “All Is Well”.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.