Pengalaman Pertama Mau Menyontek

Pengalaman Mencontek
adalah
cerita yang ingin saya ceritakan buat blog ini
di
hari ini.
yah,
ini adalah pengalaman
dimana
saya mulai mengenal dan belajar untuk menyontek.
awal menyontek saya,
dimulai
ketika saya masuk di SMAN 1 PASANGKAYU,
tapat
pada waktu itu saya duduk di Kelas X’6 ( satu enam ).
what..???
‘Satu Enam’????
hahaha,
yah, itu adalah mungkin kelas terbaik saya
dari 
kelas-kelas sebelumnya.
 jujur saja, 
Dari SD sampai SMP
saya dapat dikatakan tidak pernah menyontek,
karena
saya memang tidak suka menyontek.
tapi
itu karena saya pintar 
( bukan sombong ye ),
akan tetapi,
sayang sekali karena kepintaran saya pada waktu itu,
saya sombongkan.
menganggap enteng yang lemah
dan
membuat diri seolah-olah yang paling pintar
( maklum, masih kecil lah ).
sehingga,
ketika masuk SMA,
saya sudah mulai masuk ke kawasan
orang belum pintar
( Mungkin karena Tuhan murka sama saya, hingga akhirnya Tuhan kasih sedikit hukuman aja dulu,
sampai rasa sombong ini hilang baru di kasih kembali tu sifat pintar, mungkin ).
Matematika jadi tidak terlalu tahu,
padahal
sebelumnya itu,
kalau ada rumus matematika dan soalnya,
pasti dikatakan
sudah dimakan mentah
( ibaratnya seperti itu ),
tapi karena masa itu telah terlewati,
setelah masuk SMA,
biar ada rumus ada soal,
selalu bingung.
tidak tahu kenapa bisa bingung,
yang pasti bingung saja,
bagaimana cara kerjanya ini.
yah,
 sampai akhirnya ujian
( tidak tahu waktu itu ujian apa ),
saya masih ingat,
saya duduk bangku ke-2 dari belakang
samping jendela
dekat lapangan basket.
yah,
itu adalah awal dimana saya mulai 
mau
belajar untuk menyontek.
Pengawas duduk didepan,
buku saya masukkan kedalam laci meja saya
dan
tas dikumpulkan.
pas mau tarik buku keluar untuk di lihat,
wah
gila bener,
tangan pada gemetaran,
seolah-olah ngelakuin kesalahan besar gitu
( tapi memang benar, tidak tahu kenapa ).
hahaha
saya sendiri lucu,
takutnya minta ampun
( karena tidak terbiasa aja )
tangan bergetar,
keringat dingin mulai bercucuran satu persatu.
akhirnya,
gara-gara takut dan gemetaran pada waktu itu,
sehingga
tidak jadi nyontek,
jadi
sia-sia aja buku disimpan dibawah laci.
hingga akhirnya
satu saja kesimpulan yang selalu dibuat,
“Jawab aja dengan apa yang ditahu, karena yang periksa juga manusia”.
yah,
hingga sekarang, hanya itu yang mungkin jadi kata-kataku hingga sekarang.
Jadi wajar saja, kalau terkadang nilai itu ancur banget.
karena udah malas buka buku,
kalau ujian,
selalu bilang
“Jawab aja sesuai apa yang ditahu,
karena nilai tidak penting. yang penting Lulus”.
“Lagian Jujur itu harganya mahal, saking mahalnya ia tak memiliki harga, Jadi 
lebih baik jujur dan terima nilai apa adanya,
daripada
dapat nilai tinggi tapi tidak jujur”
yah,
terdengar sedikit munafik,
tapi
inilah memang yang sering muncul hingga sekarang.
“Jujur itu Mahal”.
Hinga teman saya pernah berkata,
“Kita kerja itu butuh IP yang tinggi juga supaya diterima”
karena saya bilang
“IP itu tidak penting, yang penting Lulus.
Lagian
kita juga belajar untuk sesuatu yang pasti,
bukan untuk sesuatu yang hanya untuk hari ini”.
setelah itu saya hanya menjawab,
yah ketika interview nanti,
jawab aja apa adanya,
“kalau dulu kita kuliah itu tak cari IP, karena kita ingin belajar sesuatu yang pasti, bukan sia-sia”.
tapi 
memang benar, karena saya kuliah itu untuk membesarkan jiwa 
( katanya ).
hingga akhirnya,
kalau Perusahaan itu mau terima yah syukur,
karena mereka terima kita kerja apa adanya.
bukan ada apanya.
tapi kalau g’ juga g’ apa-apa,
tetap bersyukur aja,
anggap saja
dia tak mampu tuk membeli kejujuran kita.
hahaha
sedikit lucu kalau dibaca kembali.
tapi
inilah yang dikatakan inilah.
sederhana saja, jangan terlalu ribet.
yang penting apa yang keluar itu selalu dari hati hati
sehingga
senang jadinya nanti.
Salam
Me 🙂

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.