Perjalanan Ku

Catatan kali ini adalah tentang sebuah catatan perjalananku. yah, ini hanyalah sebuah catatan yang merupakan bagian dari catatan kehidupan/

Aku pernah berada di sebuah tempat, bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. yah, mereka adalah Orang Tua Ku.

Aku sayang mereka, tapi itulah ungkapan yang masih belum dapat aku buktikan.

Yah, karena perasaanku yang mengatakan bahwa aku sangat menyayangi mereka. dalam hari-hari ku, terkadang ada 1 hal yang paling tidak ingin aku lakukan, yaitu mengecewakan mereka.

Yah, aku sangat-sangat tidak ingin mengecewakan mereka, kepercayaan mereka adalah kunciku agar aku dapat membentuk pribadi ini dan aku tak ingin kepercayaan mereka itu hilang, walaupun hanya sekecil dari bagian yang paling kecil.

Aku selalu berharap ingin berbuat yang terbaik, tapi terkadang aku sebagai manusia tidak bisa mengontrol sifat manusia ku.

ketika bersama, terkadang secara tidak langsung aku membuat mereka menyesal, mereka marah dan mereka terkadang meneteskan air mata karena aku.

aku tak pernah berpikir, seberapa berartinya mereka buat hidupku.

aku tak pernah berpikir bahwa didunia ini kalau bukan karena mereka, aku tak akan seperti ini.

hingga aku sadar, sadar dalam kesadaran semata. yah, aku masih saja terus melakukan banyak hal yang secara tidak langsung dapat membuat mereka kecewa.

hingga suatu saat, aku berjalan, berjalan demi pendidikanku, pendidikan yang memaksa aku harus berpisah untuk sementara dari mereka.

ketika awal langkahku belum ku lakukan, pikirkan terbang melayang menembus batas sadarku. mata agak kemerahan, takut aka perpisahan yang mungkin dapat dibilang hanya sementara.

disitulah baru aku sadar akan berartinya diri mereka untuk diriku.

cerita tidak sampai disitu saja. sebelum aku keluar dari pintuh rumahku yang merupakan surga kami di bumi, aku memeluk sosok perempuan yang selama ini masih berusaha merawatku, memberikan yang terbaik darinya untuk diriku, meskipun sifat manusiaku terkadang tidak mensyukuri apa yang diberikan kepadaku.

memeluknya dan menunduk, menunduk karena mata sudah berkaca. yah, aku hanya tak ingin melihat ia melihatku pergi dengan kesedihan karena perpisanan sementara, akan tetapi aku juga sulit untuk menutupinya.

setelah memeluknya, aku berjalan dengan menunduk, aku tak sanggup lagi menatapnya, karena jika itu yang ku lakukan, maka aku pasti akan menangis ( dapat dikatakan seperti itu ).

aku berusaha untuk tegar dalam lemahku, berusaha untuk menutupi semuanya.

hingga akhirnya ketika aku telah berjalan meninggalkan rumah tempat tinggal kami, dari kejauhan aku balik sejenak untuk menoleh melihat ia yang sementara menatapku.

setetes demi setetes air mata berjatuhan dengan sendirinya tanpa ada yang tahu dan tanpa ada yang lihat. semua tertutup rapat selama aku dalam perjalananku.

Ketika langkahku semakin jauh, mata tak lagi menjangkau mereka, perasaan ini seakan mau pulang, kembali bersama mereka yang aku sayangi.

aku ingin kembali, yah, itulah yang aku rasakan. napas yang ku tarik dari dada seolah-olah tak mau keluar, sesak napas perpisahan itu datang.

yah, dan akhirnya disitu aku sadar, ternyata “Sesuatu tidak akan ada nilainya jika ada, dan ketika semua telah hilang atau telah pergi, disitulah baru akan memiliki sebuah nilai yang sangat berarti”.

catatan kehidupan yang merupakan bagian dari kehidupan. sekian dan salam.

semoga catatan ini dapat mengingatkanku akan berartinya kesempatan kebersamaan, sebelum ada perpisahan.

“Karena nilai yang sesungguhnya adalah sebuah kebersamaan, dan perpisahan bukanlah sebuah nilai”.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.