Perumpamaan Untuk Sebuah Rasa Malu

Ada seroang pria dan sekelompok orang,
tinggal disebuah desa yang bahan makanannya telah hampir habis
( Musim Kelaparan ).
Suatu ketika,
mereka berbondong-bondong ingin pergi ke daerah sebelah,
berjalan menyusuri sebuah padang pasir yang luas
untuk
mencari makanan dalam bertahan hidup.
Dalam perjalanan seorang pemuda bersama dengan sekelompok orang tersebut,
sebelum tiba disebuah daerah tujuan mereka,
dalam perjalanan
yang kira-kira tinggal sehari lagi,
bahan makanan mereka sudah tidak mencukupi,
hingga akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat sebentar
di tengah panasnya padang pasir.
Tiba-tiba ada seorang yang baik hatinya lewat,
dengan membawa barang bawa’annya
diatas unta.
kebetulan orang tersebut adalah seorang pemilik sawah dikampung sebelah
( Anggap saja sawah ),
sehingga ketika ia melihat pemuda dan sekelompok
orang yang lagi duduk di tengah 
panasnya padang pasir,
akhirnya ia menghampirinya dan bertanya
“Mengapa mereka duduk disini?”.
lalu jawab mereka
“Mereka istirahat untuk mengumpulkan tenaga, karena bahan makanan mereka
sudah hampir habis atau tidak mencukupi”.
akhirnya
orang yang baik hatinya itu tergerak hatinya untuk membantu mereka,
sehingga
orang yang baik hatinya itu memberikan segenggam beras 
buat pemudah dan sekelompok orang itu
( masing-masing segenggam ).
setelah itu pergilah orang itu.
si pemuda dan sekelompok orang itu merasa senang,
karena
beras telah ada, tinggal dimasak untuk dimakan
sebagai
penambah tenaga dalam perjalanan ke kampung sebelah
yang jaraknya hanya butuh perjalanan kurang dari sehari.
si pemuda itu pun memasak bagian yang telah ia dapatkan,
yaitu segenggam beras.
ketika berasnya itu dimasak,
ternyata
air yang diberikan pemuda itu sangat banyak,
sehingga ini mengakibatkan
berasnya itu menjadi bubur, bukan nasi.
( sedangkan Pria itu tidak suka makan bubur atau dengan kata lain ia malu sama sekelompok orang yang bersama-sama dengan dia, karena masa’ udah besar udah tua tapi masih makan bubur )
sehingga ini membuat dia merasa kebingungan.
jika ia meminta kepada sekelompok orang yang tadi,
tidak mungkin juga ia diberikan,
karena
setiap orang sudah ada bagiannya masing-masing.
sehingga ada 2 pilihan yang muncul, yaitu
1. Jika ia mempertahankan Malu, maka ia pasti akan mati ditengah jalan karena lemah tak makan
2. Jika ia mengabaikan Malunya, maka minimal ia memiliki tenaga yang cukup untuk sampai di daerah sebelah.
yah,
sekarang tinggal masalah malu dan tidaknya.
Jika malu, maka yakin dan percaya, kerugian akan didapatkan sendiri sama seorang pemalu,
tapi jika tidak ( jika ia mengabaikan malunya ),
maka walaupun ia tidak mendapatkan keuntungan,
minimal ia tidak mendapatkan kerugian buat dirinya sendiri.
akhirnya si pemuda itu memutuskan untuk mengabaikan malunya,
demi untuk tidak mendapatkan atau mendatangkan
kerugian buat dirinya sendiri.
Dalam kehidupan nyata,
terkadang banya orang malu untuk melakukan sesuatu,
padahal
sebenarnya malu itu hanya untuk mereka yang berbuat salah,
bukan buat mereka yang tidak berbuat salah.
sehingga
terkadang malu itu membuat mereka merasakan
atau
mendatangkan kerugian tersendiri buat hidup mereka.
ibaratnya seperti seorang pemuda dan sekelompor orang yang berada di padang pasir,
jika ia malu dan tidak memakan nasi yang telah menjadi bubur itu,
tentunya ia akan membahayakan dirinya sendiri
dalam
perjalanan ke daerah sebelah.
seperti itulah sedikit perumpamaan tentang rasa malu.
Salam
Me 🙂

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.