Sebuah Cerita

Untuk Blogku, kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang apa yang ingin untuk diceritakan. yah, sebenarnya ini tidak perlu untuk diceritakan, tapi ini menurut aku ini memang harus diceritakan kepada mu blog, karena aku tahu, engkaulah satu-satunya sahabat paling dekatku yang selalu ada untuk menyimpan seluruh kisah hidupku.

walaupun engkau tak punya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan mulut untuk menjawab semua pertanyaanku serta membalas semua tutur kataku, tapi aku yakin, engkau memiliki pikiran yang dapat aku gunakan untuk memberitahukan seluruh kisahku dan mengingatkanku kembali tentang kisah tersebut disaat aku tidak mengingatnya lagi.

sebelumnya terimakasih blog, terimakasih untuk semuanya.

saya punya cerita, cerita ini tidak lain adalah cerita tentang sebuah perasaan. yah, ini hanya sebuah cerita dari cerita kehidupanku.

Aku pernah menjalani sebuah waktu di kehidupanku yang lalu,
aku memulainya dari sebuah awal yang baru,
aku berjalan dan terus berjalan,
di dalam waktu tersebut, aku menemukan sesuatu yang tak pernah aku anggap.

suatu ketika ia datang,
ia mengatakan sesuatu yang tak pernah aku mengerti,
aku mengabaikan kata tersebut,
aku membalas dengan kata-kata sifatku,
dan itu adalah sifatku,
sifat dalam ketidak pengertian,
sifat dalam kebodohan,
sifat yang tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu,
sifat yang aku sendiri tidak tahu seperti apa wujudnya.

ia mengatakan kata seperti ini, mungkin tidak sama, tapi maksudnya tidak jauh beda
“Aku punya teman, ia suka sama kamu, ia ingin berkenalan dengan kamu, ia ingin bertemu dengan orang tua kamu”.

aku tidak tahu maksudnya,
aku tidak menanggapi,
aku hanya memberikan jawaban yang pada saat itu, jawaban yang aku sendiri tidak tahu artinya.

aku masih terlalu bodoh,
aku masih belum mengerti dan memahami apa yang seharusnya aku mengerti dan pahami.

setiap kali bertemu,
ia selalu mengatakan hal yang sama,
“bagaimana, gimana, ada temanku dan sebagainya ( aku sudah tidak ingat lagi, karena pada waktu itu aku tidak terlalu mencatat sesuatu di blog ini ), semuanya selalu ia katakan sesuatu yang berkaitan dengan temannya.

yah, hingga akhirnya aku hanya mengatakan,
sesuatu yang menurut aku tidak perlu untuk dikatakan,
yah, itu refleks dari sifatku,
yang terkadang keluar dengan sendirinya,
dan aku terlalu dan masih bodoh,
karena tidak bisa mengontrol sifatku sendiri.

aku mengatakan seperti ini, kalau aku tidak salah ingat
“kayak anak kecil saja” ( mungkin seperti itu, atau beda tapi tidak jauh beda “sudah lupa, karena tidak pernah mencatatnya di blog ini ).

yah, setelah itu ia tidak pernah mengatakan hal tersebut lagi,
semuanya tiba-tiba berubah ( aku menganggapnya begitu ).

aku masih berpikir masa bodoh,
aku tidak terlalu mempermasalahkan hal seperti itu,
aku mengabaikannya dan menghapusnya untuk jangka waktu yang pendek ( mungkin seperti itu ).

yah, itu ketika awal ia datang,
awal dimana ia menuliskan namanya di dalam pikiranku,
tapi pada waktu itu aku masih belum menanggapinya.

aku hanya terkadang memperhatikannya dalam sebuah jarak,
tidak ada yang tahu,
dan tidak akan ada yang pernah tahu,
semuanya tertutup rapat dan tidak pernah terlihat.

kalau bisa dibilang,
penatap tersembuyi,
yah, itulah istilahnya.

hingga akhirnya,
ada sebuah waktu,
waktu ini adalah waktu dimana aku melihat ia dengan tidak sengaja melakukan sebuah kesalahan yang tak seharusnya di lakukannya,
yah, aku memanggilnya dan menegurnya.

setelah itu,
pada malamnya aku mengatakan beberapa hal kepadanya,
yah, kata-kata yang seharusnya tidak aku katakan,
karena aku bukan orang bijak,
aku hanya orang bodoh yang sok bijak ( yah, itu menurut aku ).

yah, setelah saat itu, semua makin kuat,
rasa sudah ada, dan aku anggap rasa itu adalah sebuah perasaan.

yah, “Perasaan”.

aku tidak tahu kenapa,
dan aku juga tidak ingin tahu alasannya apa,
karena aku sendiri memang tidak tahu.

suatu ketika,
dalam waktu yang bebeda pula,
ia pernah memanggil untuk makan ( yah, aku tidak bisa menceritakan secara rinci, tapi itu pernah terjadi ),
tapi aku hanya berbalik dan mengatakan kata “Terimakasih”.

sejujurnya aku mau,
tapi aku sedikit munafik,
aku tidak ingin semua terlihat,
aku ingin menutupinya.

yah, itu pernah terjadi.

ada waktu dimana ia pernah menegurku,
tapi aku terlalu bodoh,
aku terkadang tidak bisa melakukan apa-apa disaat semua telah terjadi,
aku tidak bisa menjawab apa-apa,
dan aku sadar, itulah sifat kegugupanku.

hingga akhirnya aku bilang ( tapi tidak secara langsung ),
“Tumben tegur”.

yah, setelah itu semuanya berubah kembali.

sama seperti yang telah aku katakan,
yaitu “sama seperti anak kecil”,
tapi itu bukan untuk dia, tapi untuk aku.

yah, akulah yang terlihat seperti seorang anak kecil,
aku akui itu,
karena aku memang tidak ahli atau tidak terlalu tahu banyak hal mengenai hal tersebut.

yah, masih memiliki banyak keterbatasan yang tak seharusnya aku batasi.

semua berjalan dan terus berjalan.

yah, semuanya seperti itu, mungkin sedikit berbeda, tapi aku yakin tidak terlalu jauh.

ada yang pernah berkata,
jika engkau menyukai seseorang,
maka ungkapkanlah sebagai seorang laki-laki bukan sebagai seorang pengecut yang tidak berani mengungkapkannya.

yah, aku akui itu bahwa itu benar, tapi jujur, aku tidak menyukainya.
karena aku tahu, rasa suka itu hanya sebatas kelebihan seseorang.

begitu pula dengan cinta, jujur, aku tidak mencintai dia,
karena aku takut nanti semuanya hanya sebatas kata-kataku.

dan yang sebenarnya adalah “Aku sangat menyayangi dia”, dan tak bisa aku pungkiri itu.

walaupun aku tidak bisa memberikannya apa-apa, karena aku tahu, aku sendiri tidak punya ( belum punya ) apa-apa,
tapi aku punya doa, sebagai orang yang menyayanginya, maka kebahagiaannya lah yang paling utama.

aku hanya ingin ia bahagia, itu saja, tidak lebih. siapapun yang ia temani, yang penting ia bahagia, maka aku lepas tapi aku akan jaga dia dengan doa.

semoga aman dan tetap disayangi sama orang-orang di sekitarnya.

karena jujur, lebih baik aku dikatakan sebagai seorang pengecut, daripada aku dikatakan sebagai seorang yang egois.

yah, itulah yang aku rasakan.

aku selalu berpikir, ia juga mungkin “Mungkin” memiliki rasa yang sama,
yah, pikiran bodoh dari seseorang yang tidak pernah mengaca ( tidak percaya diri ).

yah, karena aku sering mendapatinya melihatku dari kejauhan ( terlalu kepede’an dari orang yang tidak pernah ngaca ), dan aku selalu merasa kalau hal itu terjadi, maka ada beberapa hal yang bisa di tarik kesimpulan:
1. Ia mungkin memiliki rasa ( mungkin )
2. Ia kasihan, yah, mungkin ia kasihan. kasihan saja sama orang bodoh yang terlalu kepedean
3. Mungkin ia melihat yang lain, tapi aku yang terlalu sok PD ( ngaca dulu bro ).

haha,

aku sendiri lucu dengan kisah hidup yang ini, lucu dengan diriku sendiri.

yah, aku semakin tidak PD, ketika aku punya seorang teman yang dapat dikatakan ia ganteng, serba ada, tapi ditolak sama dia, sehingga terkadang aku sendiri bertanya pada diriku sendiri, “Ngaca dulu bro”, baru berpikir yang tidak-tidak.

But Why? I Don’t Know.

yah, saya tidak tahu.

sehingga akhirnya, saya selalu berdo’a, semoga ia mendapatkan yang terbaik buat hidupnya, yang sama seperti dia, yang bisa saling mengimbangi
satu sama lain.

karena aku sendiri tidak punya apa-apa, jika boleh jujur, aku tak sesempurna dia, sehingga aku mungkin tidak bisa mengimbangi dia, aku masih banyak memiliki kekurangan dalam hidupku, aku hanya orang sederhana yang masih berusaha untuk menyederhanakan kesederhanaan yang ada.

hingga akhirnya, semuanya terkabul, ia memiliki seorang kekasih, dan disitulah aku tahu dan aku belajar sifat manusia, “Ternyata kita akan sedih kalau melihat orang yang kita sayangi tidak bahagia, tapi kita akan lebih sedih lagi kalau kita melihat orang yang kita sayangi
dibahagiakan oleh orang lain”.

yayaya, mungkin seperti itu.

Tapi, aku selalu bersyukur, karena aku juga tidak ingin ia menyukai dan mencintaiku, karena aku hanya ingin ia memiliki perasaan yang sama
seperti yang aku rasakan kedia, itu saja.

tapi jika tidak, maka aku biarkan semua berjalan, berjalan pada jalan yang seharusnya,
aku tidak akan mengungkapkan apa-apa,
karena aku tahu,
semua yang ada tidak hanya sebatas ungkapan,
bagi aku ungkapan tidak terlalu penting,
aku hanya ia merasakan sesuatu tanpa ia melihat atau mendengar apa yang aku ungkapkan,
dan aku rasa itulah yang sebenarnya dan seharusnya.

yah, itu hanya menurutku.

Pikiran bodoh, karena kenyataannya semua butuh ungkapan,
karena tanpa ungkapan orang tidak akan tahu.

tapi jujur, lebih baik ia tidak tahu dari pada ia tahu,
karena aku tidak ingin dia tahu,
aku hanya ingin ia bisa merasakan.

sebatas itu saja, sampai ia mengerti.

jika tidak, over.

sehingga karena semua sudah terjadi, ia sudah dapat yang mungkin ia inginkan, maka kisah ini mungkin seharusnya segera aku tutup. berjalan seperti biasa, melakukan hal-hal seperti biasa sampai selesai.

yah, kisah yang mungkin seharusnya segera ditutup.

catatan ini adalah catatan dari sebuah kisah dalam kehidupan yang pernah terjadi di sebuah ruang waktu yang lalu, sebenarnya maksud dari catatan ini tidak lain  adalah agar bisa diingat saja, lagian aku telah belajar banyak hal dari kisah ini, mulai dari kesabaran, keegoisan dan sebagainya.

sehingga itulah kisah yang dapat menjadi sebuah cerita.

Terimakasih Blog, itu ceritaku untuk hari ini buatmu, semoga engkau bisa menjaga cerita ini selama waktu yang engkau bisa.

Dan Jika bisa, Kirim Salamku Juga lewat Angin ke Dia. Itu saja.

Sekian dan salam buat catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.