Merasa Bersyukur – Catatan Anak Kost

Kali ini aku ingin menulis sebuah catatan merasa bersyukur sebagai catatan anak kost, kisah atau cerita yang pernah terjadi yang akan dibuat menjadi sebuah catatan sederhana dari seorang anak kost. Ya, ini merupakan catatan Anak kost untuk pertama kalinya dalam kategori Catatan Anak Kost.

Merasa Bersyukur – Jakarta, 21 Mei 2018

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku mencoba untuk menjelaskan sedikit tentang suatu hal yang membuat aku terkadang merasa sangat bersyukur atau bahagia atau senang atau sesuatu tentang hal itu, karena itulah yang terjadi. Ya, itulah yang terjadi.

Hal yang paling membuat aku sebagai anak kost merasa paling bersyukur ialah:

“Saat dimana aku telah selesai kuliah seperti sekarang ini, saat dimana aku belum mendapatkan pekerjaan, saat dimana uang telah habis dan saat dimana aku tidak mau untuk meminta uang kepada orang tuaku adalah saat yang membuat aku tidak tahu harus berbuat apa selain bersyukur dan di saat yang sama, secara tidak sengaja aku memasukkan tanganku ke dalam kantong atau saku celanaku, disana aku menemukan beberapa lembar kertas uang berwarna biru, hijau atau merah. Saat itulah aku merasa bahwa aku orang yang paling beruntung di dunia ini. Wkwkwkwkwk”.

Ya, itulah saat-saat paling bahagia yang menurut aku secara pribadi, sebagai seorang anak kost.

Selain itu, setelah si biru, si hijau atau si merah telah habis, saatnya aku kembali seperti biasa, tidak bisa berbuat apa-apa selain belajar untuk bersyukur. Yah, selain belajar untuk bersyukur, karena aku yakin:

“Inilah saatnya aku untuk belajar bersyukur dan berterima kasih atas apa yang terjadi”.

Karena sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan selain bersyukur, sekarang otak mulai berpikir, mencari cara untuk bisa melakukan yang terbaik agar bisa bertahan hidup (“Katanya”). Ya, setidaknya untuk hari ini, karena “Besok punya kesusahannya sendiri”. Berpikir dan terus berpikir, akhirnya sebuah ide datang untuk menelusuri setiap sudut kamar dan disetiap sela-sela dari semua barang yang ada. Untuk apa?

“Untuk mencari sisa-sia uang yang masih tersisa, entah itu receh atau ya, mungkin beberapa lembar yang masih secara tidak sengaja terbuang dan terlupakan”.

Saat itulah aku sadar bahwa disaat aku butuh barulah:

“Yang terlupakan menjadi yang tersayang”. Wkwkwkwkwk

Ketika telah selesai menelusuri sudut-sudut kamar dan sela-sela barang-barang yang ada, akhirnya, aku bisa mengumpulkan sedikit buat hari ini. Ya, inilah sisa-sisa yang masih tersisa yang pernah terlupakan dan yang telah menjadi yang tersayang. Sisa Buat Hari Ini

Itulah tampilan untuk hari ini. Wkwkwkwkwk

Aku tidak tahu harus berbicara apa, apakah aku terlalu boros atau apakah aku terlalu loyal? Sungguh, aku sama sekali tidak tahu, karena aku telah memperitungkan semuanya, tapi semua yang telah terjadi, tidak seperti dengan apa yang telah aku perhitungkan.

Minggu, 13 Mei 2018

Pada waktu ini, aku tidak tahu apa yang muncul dalam pikirku, sehingga dengan bodohnya aku harus pergi untuk menarik uang buat menyimpannya agar tidak habis begitu saja. Ya, aku pergi untuk mau menariknya dan menyimpannya buat membayar kost ketika telah jatuh tempo pada hari kemarin (“21 Mei”).

Setelah sampai di ATM, aku langsung memasukkan kartu ATM tersebut dan mencoba untuk menarik uang Rp. 1.200.000. 1 juta untuk kost dan 200 ribu buat bertahan hidup untuk beberapa hari dan sisanya biarkan saja di ATM. Eh, g’ tahu apa yang terjadi, pas udah masukkan angkanya, kartu ATM nya udah keluar, giliran sudah bunyi ATM-nya dan uang mau keluar, ternyata lampu mati. Ya, lampu untuk ketiga ATM tersebut mati dan setelah itu beberapa saat kemudian, lampunya hidup kembali.

Panik? G’, aku “All Is Well” aja, karena pikirku setelah ATM-nya hidup kembali, uangnya bakal keluar. So, tunggu beberapa menit ATM-nya hidup dan sudah normal kembali, setelah itu uangnya kaga’ mau keluar-keluar. Wah, payah nih ATM. Tapi aku masih santai, pasti saldonya g’ kepotong, karena uangnya kaga’ mau keluar atau belum keluar. Setelah itu jeng-jreng, SMS Banking masuk:

“Tanggal Bla…bla…bla; Pukul Bla…bla…bla Pada No.Rek Bla…bla… ada dana keluar sebesar Rp 1.200.000. Saldo akhir: Bla….bla….bla. Bertita: TARIK TUNAI”.

Bagus, bagus. Itulah kata yang terucap. Keep Positive Thinking aja, aku bertanya sama mas-mas yang ada rapiin barang jualan, kebetulan, aku nariknya di Alfam*rt.

“Ini kalau uangnya g’ keluar, kira-kira kita harus hubungi ke mana ya?”.

Mas-masnya bilang:

“Itu ATM Mand*ri, jadi coba hubungi aja ke sana”.

Ya, jadi bicara panjang lebar, jelasin yang terjadi sambil nunggu supaya tidak ada yang narik dan siapa tahu uangnya keluar begitu saja. Eh, nunggu beberapa menit, uangnya kaga’ keluar-keluar. Abis itu aku ada inisiatif buat coba narik sisa uang yang di ATM, siapa tahu pas dia mau keluar, ternyata keluarnya bersamaan.

Jadi, jeng-jreng, setelah mencoba untuk menarik sisanya lagi, ternyata uangnya emang kaga’ keluar. Ya, sudah lah, tinggal keluar dan ambil inisiatif buat nelpon ke sono-nya.

Yah, dan sampai sekarang masih di proses, katanya sih 14 hari kerja, jadi ya kalau dihitung normal tanpa hari libur, maka 3 minggu dari tanggal tersebut.

Itulah ceritanya kenapa catatan merasa bersyukur ini ada. Karena seperti inilah yang terpikirkan dalam benak ini:

“Jika aku diberikan pilihan, apakah hal tersebut boleh terjadi atau tidak? Maka pasti aku akan mengatakan bahwa aku tidak mau hal itu terjadi dan itu benar, karena aku g’ mau uangnya ketelan begitu aja, sekalipun nanti bisa dibalikin. Yah, tapi hal tersebut telah terjadi dan sudah terjadi, sekarang apa yang bisa dilakukan? Secara sadar dalam pikirku, tidak ada yang bisa dilakukan selain Bersyukur, karena itu adalah sebuah cerita yang telah digariskan ke dalam kehidupanku dan mau tidak mau, suka tidak suka, aku pasti akan melaluinya, tinggal bagaimana cara untuk melalui hal tersebut, apakah dengan bersyukur atau dengan cara lain. Yah, banyak pilihan danĀ aku mencoba untuk memilih belajar untuk bersyukur. Setidaknya ini adalah pendewasaan diri. Mungkin itu saja”.

Dan setelah semuanya terjadi, ternyata semua tidak terjadi begitu saja, karena Tuhan memang baik,

“IA tidak membantu aku untuk menyingkirkan hal tersebut dalam hidupku, tapi IA pasti akan membantu aku untuk dapat melaluinya”.

Beberapa hari kemudian, banyak hal baik yang terjadi dan itulah alasan kenapa bersyukur itu lebih baik daripada pilihan yang lainnya.

So, kesimpulannya ialah:

“Selama kita diajarkan sesuatu yang katanya kejam oleh kehidupan, saat itulah kita memiliki sebuah kesempatan untuk belajar bagaimana cara untuk bisa bersyukur, karena saat-saat seperti itu tidak akan selalu ada dalam kehidupan kita dan jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Cepat atau lambat, rasa syukur yang kita berikan akan kembali kepada diri kita sendiri”.

Sekian dan salam untuk Catatan Anak Kost.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.