Bahasa Sederhana

Kali ini saya ingin membahas mengenai bahasa sederhana, yah, ini adalah bahasa yang biasa saya gunakan dalam hidup saya. sebenarnya ini bukan penjelasan dari bahasa sederhana, tapi ini hanya sebuah cerita mengenai bahasa sederhana itu sendiri. yah, lagian ini juga hanya sebuah catatan biasa, catatan kehidupan yang ingin untuk dicatat pada blog ini.

Bahasa Sederhana

Kemarin Sore ( Jakarta, 14 Agustus 2015 ), saya kedatang tamu. yah, saya menganggapnya tamu, karena tidak seperti biasa mereka datang ke kamar saya. mereka adalah tetangga kost saya, hanya saja kita kurang akrab ( terlihat seperti itu ).

Yah, 2 Gadis seumuran. yang satunya orang Kalimantan dan yang satunya lagi orang sekampungnya saya ( NTT – Alor ).

Seperti biasa, kalau udah sore, yah kerjaan setiap hari adalah duduk di pintu untuk merasakan angin sore. yah, karena panas kalau di dalam kamar.

Dari kejauhan saya melihat mereka datang ke arah tempat dimana saya duduk. yah, ketika sampai mereka mengatakan kalau mereka ingin meng-copy film. yah, sebenarnya saya bukan seorang kolektor film, tapi kalau mau di bilang, saya termasuk orang yang suka download film, apalagi kalau filmnya itu film terbaru.

yah, kalau mau di bilang seperti itu.

Lanjut cerita. setelah itu, saya menyuruh mereka masuk, karena kamar masih belum terpasang sprei dan sarung bantal ( karena baru kering ), akhirnya saya memasangnya terlebih dahulu, kemudian saya menyuruh mereka duduk dan proses peng-copy-an film pun dimulai.

Dalam proses peng-copy-an film, kami bercerita. yah, cerita apa yang menurut kami perlu untuk diceritakan.

Hingga akhirnya muncul 1 pertanyaan dari mulut seorang diantara mereka. yah, pertanyaanya itu seperti ini:

“Kok kakak tidak pernah bawa ceweknya kesini?”

yah, pertanyaanya seperti itu, dan ketika pertanyaannya itu muncul, saya langsung menjawab seperti ini:

“Apa yang mau dibawah? cewek aja g’ punya. maksudnya belum punya cewek”.

yah, itu jawaban saya. setelah itu, ia masih penasaran mungkin (Mungkin saja). yah, hingga akhirnya ia bertanya lagi.

“Kenapa G’ Punya Cewek?” ( pertanyaannya tidak jauh beda seperti ini ).

Yah, pertanyaan yang sedikit bertanya ke arah bagian dalam. yah, mungkin seperti itu. saya hanya menjawab seperti ini:

“Belum ada cewek yang suka orang seperti saya”.

Yah, jawabannya seperti itu. hingga akhirnya, ia masih berkata seperti ini:

“Ada yang suka Ka’, kakaknya aja yang tidak tahu. Kakak terlalu menjelekkan diri sendiri”. ( yah, kata-katanya mungkin tidak terbaca sama, tapi maksudnya mungkin seperti itu ).

Yah, mungkin dia benar, tapi mungkin juga tidak ( itu yang ada di pikiran saya ). setelah itu saya langsung mengatakan, jangan dibahas aja. yah, jangan dibahas aja adalah kata yang saya keluarkan pada waktu itu.

Setelah itu, saya ganti topik ke topik yang lain. yah, seperti itulah yang terjadi.

Disini yang ingin saya bahas adalah “Ada yang suka Ka’. kakaknya aja yang tidak tahu”. yah, kata inilah yang ingin saya bahas dalam catatan tentang bahasa sederhana saya ini.

Sebenarnya singkat cerita, saya ingin menjawab kata ini, tapi saya rasa ini terlalu berlebihan kalau saya sampai ke arah sana. yah, hingga akhirnya saya berusaha untuk tidak membahasnya lagi dengan cara mengganti topik pembicaraan. yah, tapi jawaban yang tidak saya jawab itulah yang ingin untuk diceritakan disini dalam catatan bahasa sederhana.

Perkataan yang sebenarnya ingin saya katakan dari pernyataan diatas adalah seperti ini

Yah, mungkin benar apa yang kamu katakan. tapi jujur saja, walaupun saya mengetahui hal tersebut, saya tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Yah, saya tidak akan mengatakan apa-apa. Karena saya tahu, semua itu tidak sebatas ungkapan.

itulah mengapa sampai dengan saat ini saya belum memiliki seorang cewek, karena

“Cewek sekarang itu butuh ungkapan, sedangkan saya lebih suka diam dibandingkan harus mengungkapkan apa-apa”.

yah, itulah bahasa sederhana saya ketika saya menyukai seorang cewek. yah, lebih baik diam daripada harus berbuat apa-apa.

Saya selalu merasa bahwa diam adalah cara terbaik untuk mengungkapkan suatu perasaan, jika ia mengerti maka ia akan tahu apa yang seharusnya ia tahu. tapi jika tidak, maka saya akan tetap buat itu tetap berjalan seperti biasa.

yah, mungkin kedengaran seperti seorang yang tidak berani atau tidak pd atau seorang pecundang, tapi kenyataannya seperti itu. intinya saja adalah terserah mau bilang apa, karena saya tak seperti apa yang kamu katakan.

yah, itulah yang ingin saya katakan sebenarnya.

“Diam adalah bahasa Cinta”.

Sehingga akhirnya yah masih seperti ini, masih dalam pendirian yang memang merupakan salah satu pendirian yang konyol.

Ok, sekian dan salam buat pembahasan kali ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.