C.I.N.T.A

Kali ini saya ingin menuliskan sebuah kisah tentang Cinta. yah, ini adalah cerita tentang apa yang perlu untuk diceritakan sebagai suatu pengalaman dalam hidup ini setelah mengenal arti dari kata ini.

C I N T A

Mungkin banyak yang berpikir bahwa ketika kata ini telah terucapkan, maka yang dibahas atau yang dibicarakan itu tidak lain ialah hubungan antar 2 orang yang berlawanan jenis dimana mereka memiliki rasa yang sama/berbeda untuk menjalin suatu hubungan.

yah, mungkin ada yang berpikir seperti itu. tapi jujur saja, dalam artikel ini, bukan cinta tersebut yang saya maksudkan, akan tetapi cinta yang merupakan benar-benar cinta, karena semua yang pernah saya lakukan kembali lagi ke diri saya.

Saya pernah membaca sebuah buku pengembangan kepribadian seseorang, dan dari buku inilah saya mengerti dan memahami satu kata yang penting, yaitu kata Cinta.

yah, dalam buku tersebut, dia mengatakan bahwa:

Ketika kita melakukan sesuatu dengan cinta, maka cinta tersebut akan kembali lagi kepada diri kita sendiri, entah itu sama seperti yang kita berikan atau bahkan bisa lebih besar dari apa yang pernah kita berikan“.

yah, itulah sesuatu yang kalau kita lakukan dengan cinta. tapi jujur saja, cinta juga tidak butuh balasan atau harapan. jangan pernah berpikir bahwa ketika kita memberikan cinta, kita juga mengharapkan cinta. yah, karena itu sebenarnya bukan cinta.

Cinta itu tulus, tanpa balasan. karena kalau kita mengharapkan cinta sebagai balasan, maka kita hanya membuang cinta kita yang ada pada diri kita.

Lantas cinta seperti apa yang dimaksud? cinta yang tulus yang memang benar-benar tulus tanpa mengharapkan apa-apa titik.

Karena dengan begitu, maka kita sebagai pemberi cinta akan dapat menikmati yang namanya cinta.

yah, inilah pengalaman saya menelusuri yang namanya cerita tentang Cinta.

Sebelum membaca buku pengembangan kepribadian, saya belum memahami yang namanya cinta. yah, sehingga inilah kisah saya sebelum membaca buku tersebut. kisah ini saya pernah ceritakan di artikel saya sebelumnya, tapi saya ingin menulisnya ulang dalam artikel ini sebagai pembuktian dari yang namanya CINTA.

Kisah Sebelum Membaca Buku Pengembang Kepribadian:

Pada waktu pulang dari Gereja, saya dan teman saya ( Ka’ Yance – Kakak Kost ) singgah disebuah tempat Pop ICE untuk membeli Pop ICE. yah, anggap saja saya yang traktir, jadi saya beli 2, yaitu untuk saya dan teman saya. Di samping saya ada duduk seorang gadis yang kira-kira anak SMP lah, yang saya tidak tahu dia lagi ngapain ( mungkin menunggu angkot ),  dan dia lagi duduk kosong ( ceritanya seperti itu ).

Setelah Pop Icenya jadi, saya langsung mengembil Dompet untuk membayar Pop Ice tersebut. karena melihat Anak Gadis itu, rasa kasihan ada, karena saya berpikir bahwa kalau saya yang berada di Posisi dia, pasti saya juga ingin Pop Ice. yah, sehingga saya langsung membayar 3 tanpa pikir panjang dan berkata kepada penjual tersebut bahwa: “Pesan 1 lagi buat dia”. yah, setelah berkata demikian, saya langsung melihat ke arah gadis tersebut dan dia  tersenyum dan kami langsung pergi.

Dan apa yang terjadi? keesokkan harinya, teman saya lagi yang mentraktir saya makan di sebuah tempat yang harga makanannya lebih malah dari harga Pop Ice tersebut.

yah, sesuatu yang tidak terpikirkan dan tidak direncanakan datang dengan sendirinya. yah, dan itulah pembuktian dari yang namanya CINTA.

Itu adalah kisah pertama yang belum lama saya lewati. dan kisah keduanya ialah

Kisah Kedua Setelah Membaca Buku Pengembangan Kepribadian

Tepat hari Kamis Minggu Kemarin ( Jakarta, 3 Desember 2015 ) saya pulang dari kampus, setelah selesai Ujian Pendidikan Agama Kristen. Karena kepala yang terasa begitu sakit, akhirnya saya langsung pulang menaiki sebuah angkot 95.

Dalam perjalanan, ada seorang pengamen pertama yang naik, bernyanyi setelah itu saya langsung memberikan dia sedikit uang dan yang kedua ialah seorang anak gadis cewek yang masih kecil juga ngamen, saya juga langsung memberikan dia sedikit uang pada amplop yang ia bagikan.

yah, dalam memberikan uang tersebut, saya tidak memikirkan apa-apa, intinya aja ialah saya harus kasi. saya berusaha untuk mengontrol otak saya dan selalu berpikir bahwa:

Saya adalah tuan atas pikiran saya“. – itu yang diajarkan oleh buku pengembang kepribadian yang pernah saya baca

Setelah itu, saya turun dari angkot dan hendak menaiki angkot yang kedua menuju kost tempat saya tinggal.

yah, setelah menaiki angkot yang kedua dan turun didekat tempat saya tinggal, saya mau membayar angkot tersebut, tapi ternyata orang tersebut tidak mau kalau saya bayar. dan yang saya katakan ialah:

Saya: “G’ apa, ambil aja”.

Supir Angkot: “G’ Usah – G’ Usah”.

Saya: “Terima Kasih yah”.

yah, supir angkot yang saya juga tidak kenal, walaupun pernah melihat mukanya waktu naik angkotnya. memberikans saya tumpangan gratis sampai di tempat tujuan saya.

Mungkin seperti itu cerita yang saya lalui, dan saya rasa itulah balasan dari cinta ketika kita memberikan sesuatu tanpa berharap apa-apa ( cinta ).

Sekian dan salam buat cerita kehidupan tentang satu kata yaitu C.I.N.T.A.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.