Mimpi Yang Tak Sempurna

Berdiri di ujung hari,
menanti mentari yang sebentar lagi akan pergi meninggalkan hari.
Pergi dengan malu,
seolah-olah ia malu pada semua yang ada, termasuk aku.

Perlahan ia menghilang,
Menghilang dengan ragu untuk sebuah malam,
Malam yang katanya dijanjikan,
penuh dengan bintang dan rembulan.

Aku masih tetap berdiri,
berdiri dengan harapan walau ada rasa iri,
iri pada hari dari sebuah kehidupan,
yang tak kunjung menghidupkan harapan.

Sesaat mentari hilang ditelan malam,
burung-burung berterbangan mencari tempat untuk bermalam.
aku masih saja tetap berdiri,
karena ada sebuah janji yang belum ditepati.

Hari semakin gelap,
aku semakin lelah.
bertahan dengan harapan yang akan menghilang,
itulah kesempatan yang terindah, katanya.

Bintang dan sang rembulan tak kunjung datang,
Aku semakin ragu tapi tetap masih berdiri.
Perlahan angin datang menamparku,
mengatakan bahwa bintang dan rembulan tak peduli padamu.

Aku tak percaya padanya,
walau ia sering dan terus-menerus menamparku,
ingin membawaku melayang,
tapi ia tak sanggup untuk merebahkan tubuh tak berisi ini.

Dengan harapan yang tinggal sedikit,
aku duduk sambil menggoyangkan kakiku,
karena aku tahu dan percaya,
bahwa bintang dan sang rembulan pasti akan datang.

Sebuah korek berada ditanganku,
Sebuah lampu telah tersedia disampingku,
menunggu untuk dibakar,
menerangkan suasana disekitarku.

Tapi apalah daya,
sedikit harapanku membunuh keinginanku,
aku masih saja tetap terdiam,
menanti bintang dan bulan untuk menerangi malamku.

Suara nyamuk terdengar dengan jelas,
bernyanyi disekitar telinga kanan dan kiriku.
sedikit membuatku sadar dalam mimpi tanpa tidurku,
dengan menusukkan jarumnya ke sekitar tubuhku yang tak tertutup.

Ia bernyanyi dan terus bernyanyi,
seolah-olah aku senang mendengarnya,
ia menghiburku agar tetap berada disana,
agar ia bisa memiliki apa yang sebenarnya diinginkannya.

hari semakin larut,
akan tetapi aku masih saja tetap untuk terjaga.
karena aku tahu dari sebuah perbadingan,
dimana ada janji, pasti disitu akan ada yang ditepati.

Ketika sampai pada waktu dimana pagi akan segera datang,
Ayam berteriak dengan keras disampingku,
seolah-olah ia memaksaku untuk segera pulang,
kerena sebentar lagi, mentari akan kembali.

Aku masih saja tetap beridiri,
Tapi ia terus dan terus melakukannya.
seolah-olah ia berkata kepadaku,
bahwa walaupun bintang dan rembulan tak kunjung datang,
setidaknya aku dapat bermimpi didalam sedikit malam yang akan segera berakhir.

Mimpi untuk melakukan hal indah lainnya,
karena katanya didalam mimpi, semuanya bisa tercipta.
Ia mengatakan bahwa jangan melewatkan mimpi yang lain,
hanya karena bintang dan rembulan.

Ia ingin agar aku segera pulang,
tapi apalah daya, pikirku kini telah bersahabat dengan sedikit harapanku.
Aku masih saja tetap terjaga,
walaupun akhirnya aku akan bertemu kembali dengan mentari yang sempat malu padaku.

Hingga akhirnya,
Pagi menyapaku kembali,
Mentari dengan bersihnya sinarnya,
menghangatkan tubuhku yang sempat dingin dipukul embun.

Setelah semuanya berakhir,
Akhirnya aku sadar, bahwa bintang dan sang rembulan memang tak peduli padaku.
Aku adalah boneka malamnya,
yang menemani malamnya ketika mereka tak Ada.

Dan satu dariku yang kutahu ialah,
setiap kesempatan adalah pelajaran untukku,
setiap kejadian adalah materi untuk ku pelajari,
karena semuanya adalah awal, ketika aku berpikir bahwa itu adalah akhir.

Aku bersyukur karena aku tak melihatnya,
sebab jika itu terjadi,
aku takut, aku akan terjaga dalam semua malamku,
dan pasti aku akan kehilangan semua mimpi-mimpiku yang lain.

Dan aku berterima kasih padanya,
karena telah mengajariku pelajaran yang berharga ini,
sebab sedikitpun menyesal tidak akan ada padaku,
karena aku bangga untuk dan telah menjadi diriku sendiri.

Salam untukmu bintang dan rembulan dalam malamku,
yang telah bersembunyi dan tak kunjung datang menyapaku.
Kini aku akan melupakanmu,
dan berharap bahwa aku adalah aku.

Sekian dan salam buat catatan mimpi yang tak sempurna.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.