Titik Lemah

Pada suatu ketika, kita bertemu dengan kehidupan kita yang sesungguhnya, memulai hidup kita dengan sungguh-sungguh, demi sebuah kesungguhan yang tiada nilai bandingnya. kita berusaha untuk bersatu dan membentuk sebuah kesatuan yang tak dapat untuk dipisahkan.

Kita membangun sebuah janji sehidup semati yang tidak akan ada yang dapat memisahkan, selain maut. kita membangun sebuah istana cinta yang sangat besar, mewah dan kita hidup didalamnya, dengan penuh kebahagiaan.

Tidak ada kesedihan dan tidak ada duka yang dapat datang untuk mengganggu istana cinta yang telah kita bangun, dimana istana itu berdiri dengan tegak, menusuk langit yang tak mungkin jatuh menindisnya.

lautan air mata jauh daripada kita, karena kita berdiri ditengah-tengah dari sebuah gurun, yang tak mungkin untuk melihat lautan tersebut. dengan kebahagiaan,kita berdiri bersama menatap masa depan yang sebentar lagi akan memisahkan kita dengan satu tujuan, yaitu kesempatan untuk membangun sebuah ruangan kepercayaan dalam rumah cintah yang kokoh ini.

Ketika kita telah berpisah, engkau kutinggalkan dengan harapan yang sangat besar, engkau kutinggalkan dengan sebuah kepercayaan yang tak akan bisa diganggu oleh siapapun, yang besarnya melebihi sesuatu yang besar yang pernah ada, dan hanya kitalah pemilik kepercayaan itu.

Lautan menjadi pemisah, tapi kerpercayaan adalah jembatan yang menghubungkan kita betapa kita tidak dapat untuk berpisah, walaupun jarak yang jauh menutup mata ini, tapi hubungan ini bukanlah sesuatu yang sementara atau sia-sia.

Aku menanam harapan padamu, kutanam dengan sepenuh hati, tanpa ada setitik rasa ragu padamu. harapanku ialah ketika kita bertemu dalam istana kita di waktu yang tidak diketahui, aku dapat menemukan harapan yang sudah subur dan mekar, yang tampak indah, karena aku yang menanamnya dan kamu yang menjaga dan merawatnya.

Aku berharap kamu tak membiarkan seekor kumbang pun hinggap diatas harapan yang telah aku tanam, agar aku bisa tahu bahwa aku sangat menjaga bibit kepercayaan yang telah kutanamkan dalam istana kita.

hingga akhirnya, aku pergi dengan senyuman, demi satu tujuan, agar kita bisa menemukan sebuah kekuatan untuk saling percaya, saling mengasihi dan menyayangi hingga itu menjadi tembok untuk dapat menahan kita dari banjir dan atap dari hujan.

Ketika aku sampai ditujuanku, demi tujuanmu, aku melakukan sepenuh hati, karena ada seorang buah hati yang menungguku dengan penuh kasih sayang.

Aku masih berusaha dan terus berusaha, melakukan yang terbaik agar dapat menjadi yang terbaik hanya untuk sebuah kebahagian yang telah kita bentuk bersama, bangun bersama, yang menurutku tak mungkin ada sesuatu apapun yang dapat mengganggunya.

Aku memutuskan hubungan nyata kita demi memperkuat hubungan batin kita, agar semuanya menjadi lebih sempurna ketika kita bertemu di suatu waktu kelak dimana telah ditentukan oleh takdir yang telah membawaku untuk pergi jauh daripada istana kita.

hingga suatu waktu aku kembali, aku belajar untuk jalan secara perlahan, untuk melepaskan kelelahan hati yang telah lama menjadi lelah, aku mendekati istana kita, aku berdiri dengan tegar, karena aku yakin bahwa engkau masih berdiri disana, menjaga harapanku, kepercayaanku dan impianku untuk membuat kita lebih tegar dalam hidup yang tak akan bertahan lama ini.

perlahan aku berjalan membuka pintu istana kita, aku masuk ke dalamnya tanpa ragu sedikitpun, jantungku berdebar dengan kencang seakan ingin melihat, seperti apa bungaku yang telah lama  kutinggalkan tanpa sedikitpun terlihat olehku.

ketika aku sampai dalam istanaku, kutatap wajahku yang telah lama terukir di dinding istana, kilihat senyum indah yang dibentuk oleh mawar impianku, aku tersenyum bahagia tanpa sedikitpun memikirkan kelelahanku.

Perlahan aku memasuki kebagian terdalam istanaku, mencari bunga impianku yang telah lama kutinggalkan.

Aku bahagia dan kebahagiaanku makin bertambah ketika kudengar dengan jelas sebuah suara yang sangat nyaring ia keluarkan, betapa bahagiannya ia. aku semakin yakin bahwa ia tak melupakan kebahagiaan yang kutinggalkan.

hingga akhirnya ketika aku mendekat dan lebih dekat, aku melihat bahwa ternyata bungaku yang selama ini kujaga, kurawat dan kutanam dengan harapan, telah layu dan tak dapat subur kembali.

perlahan aku mundur dan menatap, bahwa jelas ini bukanlah sebuah mimpi, akan tetapi sebuah kenyataan yang telah menjadi kenyataan yang tak dapat untuk dikembalikan seperti semula.

ia menatapku dengan kaget, tapi apalah daya, kerajaan yang selama ini telah dibangun dengan sungguh-sungguh, harapan dan kerpercayaan yang telah kutanam dengan penuh ketulusan, kita telah hancur lebur dan tak dapat untuk disatukan kembali.

Aku pernah berpikir bahwa tidak ada yang dapat menghancurkannya, karena semua yang kubangun dengan ketulusan, pasti selalu penuh dengan ketulusan, yang tak akan mungkin goyang sedikitpun, walau bencana sebesar apapun itu.

tapi ternyata aku salah untuk menilai sebuah nilai yang seharusnya tak aku nilai, karena apa yang dibangun pasti akan menjadi sesuatu yang dapat untuk dihancurkan.

hingga akhirnya dengan penuh kekacauan, aku berusaha melemparkan senyuman yang indah pada bungaku, aku berusaha keluar dengan senyum, berusaha menahan amarahku, karena aku yakin bahwa aku tak pantas untuk marah padanya, karena semua dan seluruh kesalahan seutuhnya ialah ada padaku, yang telah salah untuk membangun sebuah istana ditempat yang salah.

Harapan ini hilang tanpa bisa ditemukan, kenyataan yang dianggap sebagai mimpi kembali, tapi masih tetap menjadi sebuah kenyataan, aku dengan senyum berlari menuju masa depan, walau aku tahu, istanaku telah hilang, dan tak mungkin aku membangunnya kembali.

***Bersambung****

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.