Aku Dan Keinginanku

Kali ini aku ingin menuliskan tentang aku dan keinginanku, ya, ini tidak terlalu penting sih, tapi itu bukanlah hal yang terlalu penting, karena yang terpenting ialah aku bisa menulis lagi sekarang.

Aku Dan Keinginanku – Jakarta, 28 Januari 2019

Terkadang, aku bertanya kepada diriku sendiri:

“Titus, Apa yang kamu ingin?”

Mungkin ini terlihat bodoh, tapi inilah kenyataannya.

Ketika aku bertanya kepada diriku sendiri, maka aku akan memberikan waktu 5 detik kepada diri ini untuk menjawabnya, jadi pas detik kelima diri ini menjawab pertanyaanku sendiri:

“Aku ingin hidup bahagia, memiliki istri, anak, rumah yang bagus, mobil yang bagus, jalan-jalan ketempat yang kami inginkan, menjalani kehidupan yang normal layaknya manusia pada umumnya, dan semua tentang itu”.

Ya, itulah keinginanku sebagai seorang manusia. Karena tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak memiliki keinginan, sekecil apapun itu, pasti ada yang namanya keinginan dan itu yang aku tahu.

Ketika aku menjawab semuanya dan yang mungkin tidak dapat aku tuliskan disini, aku terdiam lagi untuk beberapa saat setelah itu aku mengatakan kepada tubuhku yang bertanya kepadaku:

“Tanyakanlah pertanyaan yang sama, tapi setelah aku menutup mataku dan setelah aku mengatakan tanyalah padaku, maka saat itu juga, tanyalah kepadaku pertanyaan yang sama”.

Setelah itu aku menarik napasku secara perlahan dan menghembuskannya secara perlahan, selama 5 detik kemudian aku menutup mataku.

Di dalam keadaan mata tertutup, aku melihat diriku dalam diriku, aku jadi mengenal siapa aku, aku tahu jati diriku, aku tahu darimana aku datang, aku tahu apa tujuanku datang dan kemana aku akan pergi setelah ini.

Setelah itu aku bertanya kepada diriku yang bertanya kepada tentang keinginkan itu:

“Sekarang tanyakanlah kepadaku pertanyaan yang sama yang seperti semula kamu tanyakan”.

Setelah itu diriku yang bertanya kepadaku, mengajukan pertanyaan yang sama:

“Titus, Apa yang kamu inginkan?”

Setelah ia bertanya pertanyaan yang sama, maka yang terucap ialah:

“Aku tidak menginginkan apapun”.

Ya, semua yang aku sebutkan semula tidak ada dalam keinginanku, semua yang ada entah itu rasa takut, khawatir, dan semua tentang itu menjadi tidak berarti. Aku seolah-olah berdiri di atas mereka dan mereka tidak sanggup untuk menjangkauku.

Karena hanya satu tujuanku, yaitu membawanya pergi dari semua manusia supaya mereka tidak menemukannya.

Itulah cerita antara aku dan keinginanku, Sekian dan salam untuk catatan ini.