Aku Dan Keinginanku

Kali ini aku ingin menulis tentang aku dan keinginanku, mungkin ini tidak terlalu penting, tapi penting dan tidaknya itu bukanlah hal yang terpenting, intinya ini dapat menjadi sesuatu yang dapat kuingat tentang apa yang akan kutuliskan disini.

Aku Dan Keinginanku – Duripoku, 23 Januari 2018

Aku tidak tahu harus menulis dari mana, tapi aku harus memulai dengan kata “Aku membenci keinginanku”. Yah, aku ingin memulai dengan kata itu agar aku dapat terus dan terus mengingat bahwa aku benci dengan semua keinginan yang ada pada diriku atau pikirku.

Berawal dari cerita kehidupan, ketika apa yang diinginkan tidak dapat untuk dimiliki atau didapatkan, hal tersebut terkadang membuat kita sedikit kecewa bahkan terkadang kita dapat marah pada orang-orang yang kita sayangi, hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat dikabulkan oleh mereka.

Salah satu contoh sederhana dari cerita kehidupanku ialah “Pakaian”.

Aku tidak tahu kenapa dan mengapa, tapi satu yang aku rasa dan pertanyaan yang selalu muncul dalam pikirku ialah kenapa sulit sekali bagiku untuk mendapatkan beberapa pasang pakaian yang aku minta pada orang tuaku?

Yah, itulah pertanyaan yang sering aku tanyakan pada diriku sendiri, entah itu palsu atau bohong, tapi itulah kenyataan yang terjadi secara tidak langsung dalam kehidupanku.

Aku tidak tahu apa ada alasan lain yang lebih pantas mereka berikan kepadaku atau tidak, tapi yang jelas satu alasan yang sering mereka katakan kepadaku ialah tidak punya uang, uang tidak cukup, penghasilan lagi menurun dan masih banyak lagi alasan yang memiliki maksud dan tujuan yang sama tentang uang.

Yah, itulah jawaban yang sering dan sering aku dengar dan hal yang paling membuatku sakit hati ialah ketika mereka mengatakan tidak memiliki uang untuk mengabulkan apa yang aku minta, tapi diluar itu mereka menghamburkan uang untuk membeli banyak tanah dan sebagiannya digunakan untuk meminjamkannya kepada orang lain.

Sungguh, hal tersebut terkadang membuat aku merasakan sesuatu yang namanya sakit hati dan terkadang dengan rasa marah aku berkata:

“Ketika titus kuliah, titus tidak butuh tanah, titus butuh makanan untuk dimakan atau pakaian yang layak atau yang bagus untuk dipakai kuliah. Jadi titus butuh makanan dan pakaian, bukan tanah”.

Yah, hal tersebut membuatku marah dan sungguh, rasa benci terkadang datang pada pikirkan ini akan kehidupan yang bagiku sedikit tidak adil, hingga akhirnya aku telah berjanji bahwa:

“Semua tanah yang telah dibeli selain dari warisan almarhum ayahku tidak layak untuk menggunakan namaku dan jika itu terjadi, maka aku akan membayarnya 2x lipat dari harga yang digunakan untuk membeli tanah tersebut dan uangnya akan kuberikan kepada orang tuaku”.

Yah, sungguh, aku benci dengan keinginanku. Aku benci dan sangat benci padanya.

Sehingga bertahun-tahun hal itu terus dan terus aku lakukan, jawaban yang sama sering dan sering aku dapatkan. Jujur, aku sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti dengan otak yang ada padaku, tapi satu yang sering aku pelajari darinya ialah jika permintaanku tidak dikabulkan, maka ia akan dengan sendirinya melakukan apa yang harus ia lakukan, entah terlihat atau menjadi bodoh dan sesuatu semacam itu.

Setelah semua berjalan dan terus berjalan, masa kuliahku pun hampir berakhir dan cita-citaku atau keinginanku untuk memiliki beberapa pasang pakaian untuk dapat kugunakan dalam lari pagi sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Yah, jujur, aku benci dengan keinginanku, karena keinginan inilah yang membuatku terkadang merasa sesuatu yang namanya sakit hati.

Pernahkan terbayang dalam pikirmu tentang perasaanmu bahwa apa yang kamu pakai ketika kuliah, itu dan itu terus yang kamu gunakan?
atau ketika kamu mencoba untuk melihat mereka yang lain beda dan terus berbeda dengan diri kamu pribadi yang tidak pernah berubah sedikitpun.

Satu yang aku rasakan ialah aku tidak punya motivasi untuk kuliah selain bertahan dan tetap percaya.

Ketika semuanya berlalu, satu yang aku ingin katakan ialah Aku benci dengan keinginanku, karena hanya karena keinginan itulah, aku terlihat seperti mengemis pada sesuatu yang mungkin tak akan aku dapatkan. Yah, mungkin seperti itu.

Setelah masa perkuliahan hampir berakhir, aku membuat sebuah janji kepada diriku sendiri, yaitu:

“Aku berjanji bahwa seumur hidupku, aku tidak akan pernah meminta sepotong pakaian dari orang tuaku lagi”.

Yah, itulah janjiku dan itulah catatan yang telah kutuliskan dengan tinta abadi dari kehidupanku yang tak akan pernah ku lupakan selamanya. Yah, aku tahu mungkin ini tidak begitu penting tapi bagiku ini ada baiknya, entah bagi mereka begitu juga bagiku.

Aku tahu, dengan hal tersebut aku yakin mereka tidak akan pernah mendengar permintaanku lagi, mereka tidak akan pernah mengeluarkan uang hanya untuk pakaian yang tidak penting untuk orang sepertiku dan bagiku ialah aku juga tidak akan perlu untuk mengemis-ngemis lagi akan hal tersebut.

Yah, itulah keinginanku yang mengajarkan kepadaku tentang betapa bencinya aku pada keinginanku.

Hingga akhirnya, di beberapa waktu yang lalu, aku punya ayam peliharaan yang sangat jinak dan aku senang memelihara mereka, karena mereka sangat jinak sekali. Hingga akhirnya aku sempat memahari seekor ayam yang membuatku kesal dengan melemparnya pake batu.

Ketika sore tiba, ia ditangkap dan mau dipotong untuk dimakan. Sungguh, hal yang paling membuatku sedih ialah sempat tadi aku melemparnya, tapi sekarang ia harus dibunuh. Waktu terlalu singkat bagiku saat itu dan saat itulah aku memutuskan untuk tidak mau memakan dagingnya.

Setelah semua berakhir, aku membunuh keinginanku hingga akhirnya aku memutuskan agar aku tidak akan memakan daging hewan seumur hidupku. Yah, mungkin sulit untuk dilakukan, tapi hingga pada saat artikel ini ditulis, aku tidak melakukannya (“Tidak memakan daging”). Yah, aku kasihan sama mereka, itulah rasa yang muncul dalam hatiku, karena bagiku sepertinya mereka memiliki hak untuk hidup dan aku kasihan karena mereka berjalan tanpa mengetahui bahwa mungkin sejam lagi atau semenit lagi mereka akan dibunuh dan dimakan dagingnya.

Yah, hal tersebutlah yang membuatku saat ini membunuh keinginanku.

Sungguh, aku benci dengan keinginan ini, aku akan berusaha untuk membunuh semua keinginanku yang terlalu berlebihan dan aku sepertinya harus melakukannya. Semua keinginan yang membuat hatiku terasa sakit akan kubunuh dan kutinggalkan di belakangku, tepat pada waktu dimana aku berdiri.

Yah, ini catatan kehidupannku antara aku dan keinginanku. Aku benci keinginanku.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.