Aku Pikirku

Pikiranku adalah musuhku,
musuh yang selalu ada disekitarku,
musuh yang selalu terikat padaku,
tak parnah dan tak mau melepasku,
membawaku dan menjebakku,
serta sesekali hampir membunuhku.

Ia adalah musuh yang membuat aku jauh dari kebaikan
dan membuatku lari dari keburukan.

Aku terikat padanya,
dan ia tak mau melepasku.
Aku adalah tawanan yang tak beruntung,
sedangkan ia adalah lawan yang sangat sombong.

Kesempatan ia berikan kepadaku,
Membuatku menikmatinya secara sesaat,
setelah itu ia membawaku, menyeretku dijalannya,
dan membuat aku tambah terpuruk.

Tidak ada kebebasan yang ia berikan,
karena ia adalah yang paling egois yang pernah ada.

Ia mengajarkanku untuk menjauh dari Tuan ku,
Tuan yang katanya mengambil aku dari tempat terendah,
Tempat yang tak bertuan,
dan tempat yang merupakan tempat yang dilupakan.

Tuan yang baik yang memberikan aku napas kehidupan,
Yang memberikan aku sedikit kesempatan,
Untuk hadir disebuah kehidupan,
Walaupun akhirnya menjadi sesuatu yang terlupakan.

Tuan yang memberikanku kesempatan,
Untuk mengisi tubuh yang tak bertulang,
Memberikan aku harapan,
Walaupun aku telah ditinggalkan.

Tuan yang tak pernah mengingatku,
Setelah IA memberikan aku kesempatan.
Tuan yang tak pernah aku temukan,
walaupun IA memberikan aku kehidupan.

Pikirku membawah aku lari daripada-NYA,
membuat aku untuk melupakan-NYA.
menganggap bahwa IA ada,
tapi mengajariku untuk tak pantas menyebut Nama-NYA.

Aku dan pikirku kini menjadi kosong,
terjebak dalam kesempatan yang tak pernah dapat untuk diambil.
Tuanku dengan sombong memandang dari tempat dimana IA berada,
menyaksikan penderitaan yang IA berikan sebagai sebuah kesempatan.

Kesempatan yang selalu menantang.
Kesempatan yang tak akan pernah terulang,
Kesempatan yang harusnya di manfaatkan, dan
kesempatan yang yang memiliki harapan.

Dalam kesempatan, pikirku membuat aku mengabaikannya,
mengajariku bahwa itulah hal yang paling buruk,
walaupun aku tahu,
bahwa aku tak harus seperti pikirku, tapi seperti pikir-NYA.

Aku menunggu, sedangkan pikirku menyasikanku,
menertawakanku, dan membuatku semakin merasa tertinggal.
Aku berharap bahwa aku tak akan menjadi budak dari pikirku,
tapi apalah daya, ialah satu-satunya teman dalam ruangan yang kosong ini.

Aku ingin meminta pada Tuan ku,
Aku ingin kembali pada-NYA, tapi
Aku malu pada-NYA,
Karena aku dan Pikirku.

pikirku mengajarkanku, bahwa
Tuan ku membuatku berada pada jalan yang salah,
mengajarkanku bahwa aku sudah ditinggalkan.

Aku semakin tak karuan karena pikirku, dan
Tuan ku masih saja tetap menyaksikanku.

Pikirku mengatakan bahwa Tuan ku telah lupa padaku,
Tak akan pernah melihatku,
bahkan mengingatku sekalipun.

Dalam ketidak percayaan, aku percaya, akan tetapi
dalam kepercayaan, aku tidak percaya padanya.
Aku tahu, Tuanku baik adanya,
tak pernah pamri dan melakukan yang terbaik untukku.

IA tak mungkin membawaku sampai disini,
kalau IA tak punya maksudĀ  dan tujuan tersendiri.
Jalan mana yang baik yang dapat dipilih oleh pikirku?
Jalan mana yang buruk yang dapat dipilih oleh Tuan ku?

pikirku adalah musuhku, tapi Tuan ku tetap Tuan ku.

sekian dan salam buat catatan aku pikirku.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.