Antara Aku Dan Dia

Kali ini aku ingin menulis sebuah catatan antara Aku dan Dia. Yah, ini merupakan catatan kehidupan, catatan yang sementara aku pikirkan sekarang, jadi seperti biasa, apa yang kupikirkan, itulah yang akan kutulis dan inilah tulisanku antara Aku dan Dia.

Antara Aku Dan Dia – Duripoku, 26 Januari 2018

Aku dan Dia ibarat langit dan bumi,
Sesuatu yang tak akan pernah bisa untuk bersama,
Ia terlalu jauh di atas sana,
Aku terlalu jauh di bawah sini.

Aku punya mimpi yang terlalu dekat dengannya,
Mimpiku ialah dapat memiliki bintang yang kecil.
Bintang itu sudah cukup dekat dengannya,
Tapi bukan berarti aku sudah dekat denganya.

Yah, itu hanya mimpiku,
Dan hanya mimpiku sajalah yang dekat dengannya.

Ia sangat besar,
Sedangkan aku sangatlah kecil.
Aku hanyalah monster kecil yang mencintai seorang putri,
Darimanakah ketulusan cintaku dapat ku ukur?

Sulit bagiku untuk menjawab tanyaku,
Tanyaku padaku, bukan padanya.

Jika seandainya aku seorang pangeran yang mencintai seorang monster,
Maka demikianlah ketulusan cintaku yang dapat kutuliskan.
Tapi kenyataannya berbeda,
Aku hanyalah monster kecil yang mencintai seorang putri.

Tidak ada ketulusan di dalamnya,
Karena semua orang pun bisa dan mau melakukannya.
Hingga akhirnya aku tersadar,
Aku bukan memberikan ketulusan, tapi mengharapkan ketulusan.

Sekarang dapatkah aku menuliskan sebuah ketulusan?
Sekarang dapatkah aku menuliskan sesuatu tentang cintaku pada dia?
Sekarang dapatkah aku mengatakan yang sesungguhnya?
Atau dapatkah aku jujur, setidaknya pada diri dan hatiku sendiri?

Tidak, aku sama sekali tidak dapat melakukannya.
Tidak ada ketulusan dalam ceritaku ini,
Tidak ada cinta dalam kisahku ini,
Tidak ada semuanya tentang itu.

Kisah atau ceritaku hanya tentang ambisi,
Ambisi untuk memiliki seorang putri,
Tidak lebih dari itu,
Karena demikianlah sebuah keinginan,
Tentu kita menginginkan yang jauh berada di atas kita.

Sekarang aku tahu bahwa itulah kebohongan terbesarku,
Kebohongan yang kutuliskan selama ini dalam pikirku,
Aku sungguh bersyukur bahwa semuanya memang terjadi,
Tuhan telah mengabulkan permintaanku.

Jika memang aku bukan yang terbaik untukknya,
Maka biarlah kisah atau cerita ini hanya menjadi sebuah dongeng belaka.

Karena sesungguhnya,
Cerita ini memang hanya cerita,
Cerita yang kutulis untukku, bukan untuknya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.