Catatan Mengelus Dada

Kali ini aku ingin menulis sebuah catatan mengelus dada, catatan kehidupan tentang apa yang terjadi pada saat dimana aku hanya bisa mengelus dada ini tanpa harus berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang tak harus untuk aku pikirkan.

Catatan Mengelus Dada – Duripoku, 20 Februari 2018

Ketika tiba atau sampai di kehidupanku yang sekarang, aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan selain daripada aku harus tetap berjalan untuk sebuah kehidupan yang masih tidak aku ketahui, apapun itu yang akan terjadi di depan di kemudian hari.

Hari ini membuat aku mengerti dan ingin untuk menulis catatan mengelus dada ini, saat dimana aku harus terpaku di belakang untuk memasak dan mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perut nantinya¬†(“Makan Di Malam Hari”) dan di saat yang sama Ibuku duduk di depan dan dengan asik beliau bercerita dengan beberapa orang yang sementara bertamu ke rumah Beliau.

Pikirku mulai bekerja, berpikir tentang siapa aku, aku adalah seorang anak laki-laki yang harus melakukan pekerjaan perempuan dan hingga akhirnya aku berpikir bahwa harusnya pekerjaan ini dilakukan oleh seorang Ibu Rumah Tangga, bukan oleh seorang anak laki-laki, apalagi Ibu Rumah tangga tepat pada waktu itu tidak melakukan banyak hal dan hanya bercerita.

Yah, pikirku mulai menuntunku untuk berpikir ke arah sana, ia membawaku dan membuat aku hanya bisa mengelus dada ini dan dengan sedikit berpikir positif, satu yang aku pikirkan ialah aku harus tetap menjalaninya, aku harus tetap untuk terus mengalir seperti air, jangan pernah berhenti dan lakukan saja apa yang harus atau perlu untuk dilakukan.

Itulah saat dimana aku tak dapat untuk membantah, marah, menanamkan rasa benci dan sebagainya, sebab jika aku tak melakukannya, mungkin aku dapat dikatakan sebagai seorang anak yang durhaka terhadap orang tua, karena tidak dapat menuruti perintah orang tuanya.

Yah, inilah kisahku, kisah seorang anak laki-laki yang tak memilik saudara.

Aku tidak tahu banyak hal selain daripada aku harus terus dan terus untuk tetap berdiri pada waktu dimana aku berada dan belajar untuk bertahan akan semua yang katanya datang secara bertubi-tubi. Aku berusaha untuk melupakan mimpiku dan berharap ia tak akan pernah ada lagi dalam kehidupanku, karena aku merasa bahwa aku memang sudah terjebak dan terperangkap dalam sebuah lingkaran kehidupan yang tak mengijinkan aku untuk melangkah keluar.

Apakah aku peduli dengan semua itu? Tidak, jujur se jujur-jujurnya aku sama sekali tak peduli dan sesekali aku hanya bisa berkata bahwa:

“Biarlah tubuh ini menanggung semua yang telah atau pernah ku perbuat, mungkin inilah yang pantas aku terima”.

Aku tidak tahu apakah memang pantas atau tidak, tapi satu yang aku ketahui ialah “Aku sangat membenci diri ini”.

Karena catatan yang masih tersimpan dalam buku kehidupan ini ialah

“Jika aku tak seperti ini, maka semua yang akan diberikan kepadaku tak akan pernah aku dapatkan”.

Yah, inilah catatanku, catatan kehidupanku tentang mengelus dada, catatan ini memang sangat tak penting, tapi sengaja kutulis agar apa yang akan aku dapatkan didepan, itu semua tidak aku dapatkan secara cuma-cuma,  akan tetapi karena sebagian syarat seperti ini telah aku lewati.

Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.