Catatanku Untuk Tuhanku

Kali ini aku ingin menulis tentang catatanku untuk Tuhanku. Yah, ini merupakan catatan kehidupan antara aku dan apa yang aku pikirkan, tentang IA yang berada jauh di sana. Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi inilah catatanku untuk Tuhanku.

Catatanku Untuk Tuhanku – Duripoku, 13 November 2017

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, tapi apa yang aku pikirkan, datang bertubi-tubi seolah-olah membuat aku berpikir bahwa aku harus menulis semua tulisanku atau semua catatanku kepada blog ini tentang apa yang aku pikirkan, apa yang aku inginkan atau apa yang muncul dalam benak ini antara aku dan pikirku tentang Tuhanku.

Seringkali aku bertanya, entah dalam diamnya diri ini maupun dalam setiap kata dalam doaku:

“Siapakah aku ini?”

Pertanyaan yang sampai sekarang aku tahu dan walaupun disaat yang sama aku pernah mendapatkan jawaban bahwa:

“Aku bukan siapa-siapa”.

Akan tetapi pertanyaan tersebut selalu saja menjadi beban dalam pikirku untuk terus dan terus harus aku tanyakan dalam setiap menit dan detik hidupku, entah dalam diamnya diri ini, jalannya diri ini atau dalam setiap kata
yang sempat aku ucapkan dalam doaku, aku pasti akan menyisipkan pertanyaan ini.

Seringkali juga aku berkata kepada Tuhan yang aku percayaai:

“Tuhan, jikalau memang aku diciptakan untuk menjadi yang jahat atau untuk menjadi orang yang akan membuat-Mu marah terhadapku, maka biarlah itu jadi dalam nama-MU saja, tapi bukan oleh karena apa yang aku inginkan dan aku akan selalu bersyukur akan hal tersebut, karena Engkau tahu mana yang terbaik untukku. Namun, jika memang aku diciptakan untuk menjadi yang baik, maka mengapa sampai sekarang Engkau masih saja menyembunyikan wajah-MU terhadapku? mengapa Engkau selalu mengabaikanku? karena sekarang, aku sudah lelah akan hidup ini, bukan karena napas yang Engkau berikan kepadaku, melainkan akan semua yang aku lakukan terhadap diriku sendiri. Sesekali aku membencinya, tapi aku juga tidak dapat berpisah darinya, karena Engkau tahu, aku dan diriku adalah satu yang tak dapat untuk dipisah, kecuali napas ini berlalu daripadaku”.

Aku tidak tahu apa yang aku ucapkan atau apa yang aku pikirkan, tapi seperti itulah yang ingin aku sampaikan dalam catatan kehidupanku ini.

Sesekali aku merasa bosan, aku marah dan aku tidak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya kata yang terucap dari bibir dan mulut yang kotor ini ialah:

“Biarlah IA puas akan apa yang telah menimpa diriku”.

Sungguh, aku berdosa. Itu yang aku tahu, karena aku memang berdosa, sejak awal, sejak hari dimana aku berada dalam dunia yang penuh dengan kesempatan untuk berbuat dosa.

Tapi sesekali aku berpikir, akan tetapi tidak sebanyak yang aku pikirkan, baru beberapa kali, yaitu:

“Siapakah yang dapat menyalahkan Engkau Tuhan? tidak, tidak ada yang sanggup untuk menyalahkan-MU. Aku tahu, sekalipun aku benar, aku tetap salah, karena aku memang salah. Engkau tahu mana yang terbaik untukku, mana yang baik untukku dan mana yang harus terjadi dalam hidupku. Engkau menentukan bagian-bagianku dalam kehidupanku dan membuat aku agar tetap dan terus dan terus harus untuk melalui setiap bagian yang telah Engkau tentukan untukku. Apakah aku dapat lari daripada itu? tidak, aku sama sekali tidak dapat berlari jauh daripada yang telah Engkau tentukan kepadaku dan sekalipun aku berlari jauh daripada itu, maka dimanapun aku berada, sekalipun itu diujung bumi, itulah bagian yang telah Engkau tentukan untukku, aku tetap berada dalam bagian itu”.

Sesekali aku berpikir dalam kehidupan ini, bila mungkin neraka adalah tujuan akhirku, maka aku siap untuk menjalaninya, karena aku tahu, aku memang pantas untuk berada disana. Aku menyadari semua salahku, sampai akhirnya sesekali aku berpikir bahwa matipun aku tak takut, begitu pula dengan panasnya neraka, karena aku memang pantas mendapatkannya.

Satu yang aku takuti ketika telah merasa bahwa aku bersalah ialah Engkau Tuhan, tidak selain itu. Aku tahu, Engkau tahu isi hatiku ketika berpikir demikian, apakah benar atau salah, Engkau dapat mengetahuinya, karena memang seperti itulah yang terjadi ketika aku tahu atau sadar bahwa aku memang salah dan aku berdosa kepada Engkau Tuhan.

Sampai pada hari atau saat ini, catatan inipun merupakan catatan dosa, karena aku telah salah untuk menulis sebuah catatanku untuk Engkau yang baik dan begitu baik dan selalu baik serta yang selamanya baik terhadapku.

Inilah catatanku, catatan yang ingin aku tuliskan saat ini, saat dimana pikirku memaksaku untuk melakukannya, hingga akhirnya inilah catatan kehidupanku.

Sekian dan salam untuk catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.