Cerita Hari Kemarin

Kali ini aku ingin menulis tentang cerita hari kemarin, cerita yang sempat aku dapatkan dalam sebuah menit dan detik yang berada di kehidupanku. Yah, ini adalah kisah atau cerita yang terjadi dalam perjalanan kehidupan penulis.

Cerita Hari Kemarin – Jakarta, 19 Agustus 2017

Hari ini adalah Hari Minggu, 20 Agustus 2017, yang artinya, kemarin adalah malam minggu. Yah, kemarin adalah malam minggu, malam dimana ada yang pernah berkata atau bilang bahwa malam-malam seperti itu adalah malam kesempatan, karena setiap orang punya kesempatan untuk bertemu atau saling berbagi cerita, terhadap siapa pun itu.

Kemarin aku pergi ke kos saudara ku, karena “katanya” ada hp yang harus diperbaiki, tapi setelah sampai disana, sang pemilik hp belum datang, hingga akhirnya karena saudaraku juga lagi asik menonton film di laptop yang aku bawa, jadi aku tidak dapat pulang terlalu cepat.

Sambil menunggu hp yang belum datang untuk mau di perbaiki, aku juga menunggu laptop, hingga akhirnya ketika jam 9, karena kereta juga biasanya datang pertengahan jam, akhirnya aku meminta untuk pulang. Yah, mungkin seperti itu, dan disinilah cerita itu terjadi, ketika aku pulang pada waktu agak sedikit tengah malam (“hampir memasukki tengah malam”).

Setelah naik kereta dari stasiun Kalideres, akhirnya sampai juga di stasiun tujuan akhirku, yaitu Stasiun Bojong Indah. Yah, aku turun disitu, past aku liat jam, waktu tepat pukulĀ  09:41 PM. Yah, itu adalah waktu yang pas, ketika aku menginjakkan kaki kananku tepat pada peron stasiun Bojong Indah.

Agak sedikit gelap, itulah tempat yang harus aku jalani sekarang, karena aku jalan melewati pinggir rel kereta, agar dapat sampai ke tempat dimana aku tinggal untuk sementara waktu (“Kos tempat tinggal”). Pada tempat ini, hanya terdapat sebuah pondok kecil yang berada didekat tempat menanam beberapa tanaman atau sayuran, setelah itu ada sebuah rumah tapi sudah tertutup. Sebagian jalannya terlihat gelap.

Di belakang dari lampu merah yang biasa tertanam di pinggiran rel, terdapat sebuah lorong masuk dan sebuah pintu tentunya, pintu yang dari sebuah tembok.

Ketika aku berjalan sendiri di tempat ini, aku sedikit merinding, karena gelap. Kalau mau dibilang takut, ia juga sih, tapi satu yang sengaja aku lakukan ketika aku berada dalam posisi tersebut ialah aku hanya berpikir bahwa “Yang perlu aku takuti ialah Tuhan, tidak selain itu”.

Berjalan dalam keadaan merinding dan hanya bisa memegang sebuah hp, kemudian mata tertuju ke depan, kira-kira 70’an Meter di depanku, aku melihat 2 sosok bayangan orang yang sementara berjalan, karena di depannya terdapat perumahan, jadi lampu dari perumahan tersebut mempertegas bahwa ada orang yang sementara berjalan menuju ke arah sana.

Akhirnya aku semakin berani, karena aku berpikir bahwa “Ah, masa’ mereka baru melewati jalan disini tapi tidak takut dan tidak ada apa2, masa’ aku harus takut”. Yah, hingga akhirnya aku berjalan dengan sedikit berani.

Ketika aku tepat sampai didepan dari lampur merah kereta, kira-kira belasan meter dari depannya, aku melihat lagi 2 gadis sentengah baya keluar dari pintu tembok (“Pagar berdinding tembok”) itu. Pertama yang aku pikirkan ialah ah, mungkin ini orang yang mau ke acara di depan (“Tepat pada waktu itu ada sebuah acara”).

Mereka keluar dan berjalan di pinggiran dari rel, sama seperti jalan yang aku jalani sekarang. Di depannya telah duduk 2 orang laki-2 yang sudah deluan keluar tadinya. Aku kira mereka tidak saling mengenal, apalagi 2 cewek ini terlihat sedikit takut ketika mau berjalan ke depan, akhirnya aku sengaja batuk, mungkin agar mereka sedikit berani dan dapat melalui 2 orang laki-2 didepan.

Akhirnya setelah aku semakin mendekat, ternyata mereka duduk, yah, mereka juga duduk, hingga akhirnya aku sadar pada waktu itu, ternyata oh ternyata, mereka semua baru keluar toh dari pintu pagar berdinding tembok tersebut?

Yayaya, akhirnya aku mengerti sekarang.

Setelah itu, aku tetap berjalan, setelah kira-kira beberapa meter sebelum sampai di gadis 2 tersebut, yang satu berbadan agak kecil duduk kira-kira 8 atau 9 meter dari tempat 2 laki-2 itu duduk dan yang berbadan agak besar, masih berdiri dan berjalan ke arah seorang laki-2 yang duduk, dan seorang laki-2 yang lainnya datang menghampiri gadis kecil yang duduk ini.

Setelah aku berjalan tepat berada pada garis yang berlurusan dengan gadis kecil yang duduk ini, aku sedikit menengok dan melihat wajah gadis ini. Yah, aku melihat wajahnya agak sedikit panjang, rambutnya panjang dan kayak dilepas seperti rambut agak ikal dan agak putih tampi tak hitam.

Yah, setelah itu, akhirnya banyak pertanyaan mulai datang, salah satunya ialah:

“Darimana kedua pasangan ini, apa yang mereka buat dibalik tembok? hingga akhirnya tengah malam mau jam 10’an, mereka keluar dari sana? Disana kan tempat yang gelap, tidak ada apa-2 disana.”

Yah, itulah pertanyaan yang muncul, tapi yah, sudahlah, aku terkadang langsung mengambil kesimpulan sendiri sih dari setiap pertanyaan yang muncul. Aku hanya menunduk seolah-olah tidak peduli sama sekali, tapi pikiranku terus berpikir dan berpikir dalam setiap langkah kaki ini.

Aku sempat bertanya dalam hatiku:

“Dunia seperti apakah ini, kenapa aku bisa sampai ke dunia seperti ini?”.

Yah, itulah satu-2nya pertanyaan yang muncul dalam pikiran ini. Hingga akhirnya, satu perkataan atau pernyataan yang muncul ialah:

“Jika di dunia ini semua wanita telah melakukan hal seperti itu, maka mungkin seumur hidupku aku tak akan pernah bisa untuk menikah”.

Yah, mungkin itulah yang terpikirkan olehku, karena menurutku:

“Seorang bidadari pun tak akan pantas untuk seorang hamba, jika ia pernah melakukannya kepada seorang yang lainnya”.

Itulah cerita kehidupanku hari ini tentang kisah hari kemarin, semoga orang-orang yang telah melalui cinta, dapat menghargai cinta itu sendiri dan tidak melewatkannya begitu saja, karena apa yang telah mereka dapatkan, jika dilewatkan, maka mungkin ada waktu atau kesempatan dimana mereka akan merasakan pendihnya cinta yang sesungguhnya. Jika bukan di hari ini, maka di hari besok, jika bukan di hari besok, maka di hari luas, jika bukan di kehidupan ini, maka akan datang waktunya di masa yang tidak ada seorangpun yang tahu.

Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.