Cerita Yang Lalu

Kali ini aku ingin menulis tentang cerita yang lalu, cerita yang pernah aku lalui dan perlahan aku tinggalkan. Cerita ini singkat dan tak terlalu panjang untuk dituliskan, tapi dari singkatnya cerita ini, catatan yang banyak telah tertuliskan selama ini hanya untuk cerita seperti ini.

Cerita Yang Lalu – Duripoku, 4 Desember 2017

Aku pernah berada di sebuah waktu yang lalu, waktu yang membuatku merasa bahwa aku tahu suatu hal yang sejalan dengan apa yang terjadi, dan seperti itulah kejadiannya. Dalam waktu ini, aku lupa, lupa akan sesuatu yang harusnya aku ingat, yah, aku lupa diriku sendiri, hingga akhirnya aku keluar dari batas kesadaranku untuk dapat mengetahui hal tersebut.

Waktu berjalan begitu cepat, memaksaku untuk harus terus melihat ke depan dan sesekali ia mendorongku, karena aku hanya bisa terpaku pada hal tersebut. Sesekali aku hampir terjatuh, karena waktu yang mendorongku tidak peduli dimana aku berdiri dan seperti apa perasaanku pada waktu aku berdiri ditempat tersebut.

Dalam keadaan yang sok tahu, aku merasa bahwa aku telah mengetahui sesuatu. Yah, aku merasa seperti itu, hingga akhirnya dalam hari-hari yang ku jalani, aku jalani dengan penuh hal-hal kosong yang sama sekali tidak aku ketahui sampai hari itu datang, hal itu terjadi dan saat itulah aku sadar, bahwa ternyata apa yang aku pikirkan saat ini bukan apa yang benar-benar terjadi, tapi semuanya itu terjadi dari diri sendiri.

Yah, jika bisa diibaratkan, maka aku dapat membuat perumpamaan atau ibarat seperti ini:

“Aku ingin melukis pelangi dan aku telah melukisnya, hingga akhirnya pelangi hilang karena malam telah datang. Aku berdiri dan tetap berusaha untuk mengingat akan jalan pikirku sendiri dan mencoba untuk terus melukisnya. Hingga akhirnya, ketika malam telah pergi dan mentari telah datang kembali, pelangi pun muncul dan apa yang kulukiskan tak seperti apa yang sebenarnya tampak di depanku, hingga akhirnya aku sadar bahwa ternyata aku tak melukis pelangi, karena yang ku lukis adalah diriku sendiri, semua yang muncul dalam pikirku yang tentu berbeda dengan yang sebenarnya”.

Yah, ceritanya yang terjadi seperti itu, hingga akhirnya ketika aku sadar akan hal tersebut, aku salah dan aku lupa, itu yang aku tahu. Sekarang aku telah berdiri di dasar jurang, satu yang kuinginkan saat ini ialah kembali ke tempat asalku, karena mimpiku membuatku jatuh dan tanpa sadar aku memang telah terjatuh.

Hingga sampai saat ini, gunung yang begitu tinggi ini masih kucoba untuk menaikinya secara perlahan agar aku dapat sampai pada puncaknya waktu, sama seperti di waktu yang lalu, saat aku tak pernah lupa akan diriku dan aku tetap berdiri tanpa bergerak sedikitpun, karena satu yang aku tahu pada waktu itu ialah:

“Aku tahu siapa diriku”.

Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.