Inilah Yang Terjadi

Kali ini saya ingin mencatat sesuatu tentang inilah yang terjadi. yah, karena memang inilah yang terjadi dalam hidup ini, sehingga ini perlu untuk dijadikan sebagai sebuah kisah atau cerita kehidupan, agar dapat untuk diingat dilain waktu yang berbeda.

Inilah Yang Terjadi

Saya adalah Anak Daerah, datang dari Daerah untuk menempu pendidikan di Jakarta. yah, kisah saya seperti itu. Selama hidup di Jakarta, saya gereja disebuah tempat yang letaknya berada di daerah tangerang.

Sebenarnya saya juga tidak Gereja disana, tapi karena perasaan nyaman yang saya dapatkan untuk Gereja disana, akhirnya biar jauh bagaimanapun kalau saya harus ke Gereja, maka disanalah tempat yang akan saya tuju.

Gereja ini menurut saya pas untuk saya, karena orang-orangnya juga dari daerah dan cara ibadahnya pun sama seperti Gereja tempat orang tua saya beribadah. sehingga itulah yang membuat saya nyaman dari gereja-gereja lain yang orangnya dan fasilitasnya masih elit.

yah, mungkin seperti itu.

Gereja ini sudah lama berdiri, itu setahu saya.

Gereja ini adalah Gereja dari para mahasiswa STT SETIA. yah, inilah Gereja dari sebuah Kampus Kristen.

Selama gereja disana, kami biasanya mulai ibadah itu jam 8 Pagi ( Hari Minggu ). Mulai dari tahun 2012 saya di Jakarta, hingga sampai di beberapa waktu yang lalu ( Akhir Desember 2015 ).

Sebelum masuk 2016, Tepat 25 Desember, saya pergi beribadah ( Ibadah Pagi ) Natal Umum untuk setiap orang kristen ( istilah saya seperti itu ). Setelah sampai disana, ternyata fasilitas ( AULA ) tempat kami beribadah sudah Di Sita. yah, tampak seperti itu.

Kampus ini katanya ada masalah tentang kepemilikkan, tapi yang saya ketahui, Kampus tempat saya beribadahlah yang mempunyai hak milik atas nama tersebut. yah, kampus ini sudah berdiri sejak lama.

Katanya putusan pengadilan sudah keluar, dan pemenangnya adalah kampus tempat dimana saya beribadah ini. Tapi masih diproses ulang lagi, saya tidak tahu apa lagi yang diproses dan kenapa penyitaan ini dilakukan, padahal keputusan sudah keluar dan kampus inilah pemenangnya.

Lagian yang masih diproses pun juga masih sementara berlangsung, yang artinya tidak boleh main sita-sita’an seperti itu dong? kan putusannya belum keluar ( masih dalam proses ).

Saya bingung dengan Hukum di Indonesia yang terlalu banyak, hingga akhirnya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini menarik keuntungan dari banyaknya hukum yang ada. itu hanya pendapat saya, entah benar atau salah saya juga tidak tahu.

Setelah sampai di tempat tersebut, kami beribadah di tempat yang memang tidak digunakan ( Tempat Kosong ). Yah, Ibadah 25 Desember di tempat Kosong.

Sebelum ibadah dimulai, saya melihat ada seorang laki-laki yang badannya agak sedikit besar, berdiri tepat di pintu masuk, mengangkat hp dan memotret seluruh ruangan tempat kami beribadah.

Yah, kejadiannya seperti itu. Setelah saya tanya-tanya, ternyata itu adalah seorang Polisi. wah, saya jadi bingung nih, ini polisi atau fotographer yah?

Yah, kejadiannya seperti itu. Dosen atau Pendeta yang ada disitu mulai kelihatan Panik. Saya juga bingung disituasi seperti ini, yaitu kenapa mereka panik yah? padahal kita kan cuma Ibadah doang.

Masih Bingung.

Setelah masuk tahun baru 2016, ternyata Ibadahnya sudah dimajuin dari Jam 08:00 ke Jam 06:00 dan berpindah lagi ke ruangan yang lain.

Yah, setelah tanya-tanya, katanya kalau ibadah sudah dimulai, Pintu Gerbangnya akan dikunci, agar polisi jangan masuk.

Saya bingung dengan cerita ini, karena polisi disini dapat dikatakan atau diibaratkan sebagai monster gitu, harus ditakuti sampai segitunya. Polisi juga manusia yang tidak perlu untuk ditakuti, kalau kita benar. Yang perlu ditakuti itu hukum yang ada, jangan sampai dilanggar. karena mereka ( Polisi ) itu penegak hukum tersebut.

Kalau kita tidak melanggar, seharusnya kita tidak perlu takut sama mereka. Yah, mungkin seperti itu.

Satu lagi cerita akhir dari catatan ini yang masih saya bingungkan ialah tentang Ibadah ini. yah, ibadah yang dapat dikatakan sebagai organisasi terlarang gitu. atau mungkin merakit bom atau teroris dan sejenisnya, sehingga beribadahnya pun seperti di Cekik, tidak tentang dan harus berpindah-pindah hingga mendapat tempat yang sempit dan kecil untuk beribadah.

Kasihan banget, Pasal 29 UUD 1945 Sepertinya terabaikkan oleh kepentingan perorang. Mungkin seperti itu.

Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini. semoga dapat diingat dilain waktu yang berbeda ketika dibaca kembali.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.