Kecewa

Kali ini aku ingin menulis sedikit tentang satu kata ini, yaitu kata kecewa. Yah, mungkin ini bukan apa-apa, karena ini hanya sedikit catatan dari sebuah kehidupan yang telah terlewati tapi belum sempat untuk dicatat, jadi mungkin kali ini merupakan kesempatan yang tepat untuk mencatat kata ini.

Kecewa – Duripoku, 29 November 2017

Kecewa, apa itu kecewa? Kecewa merupakan sebuah perasaan yang dikeluarkan atau disimpan dalam hati atau pikiran akan sesuatu yang terkadang tidak sejalan dengan apa yang sebenarnya kita harapkan. Yah, mungkin itu adalah sedikit kata untuk sebuah kata kecewa.

Aku tidak tahu darimana datangnya kata ini, seberapa penting kata ini tapi yang jelas satu yang saat ini selalu aku tanyakan sendiri dalam hati dan pikirku ialah apakah aku kecewa? mengapa aku harus kecewa? Yah, pertanyaan yang membuatku bingung, akan kebenaran dari kata ini masih ada atau ada dalam hati dan pikir ini atau tidak.

Catatan ini berasal dari sebuah waktu, tepat pada tanggal 28 Oktober 2017, waktu dimana 5 tahun yang aku pelajari yang bukan hanya dari apa yang aku dapatkan dari tempat dimana aku kuliah, akan tetapi dari berbagai cerita yang ada dalam kisah kehidupan yang tertulis dengan jelas ketika aku lewati jugalah yang telah memberikan banyak pelajaran berarti yang sangat-sangat mengubah arti hidup ini, begitu juga dengan pola atau cara berpikir ini.

Tepat pada waktu itu, setelah kami (“Saya dan Orang Tua saya”) pulang dari wisuda, tepat sampai di Rumah, beberapa kata yang dikeluarkan oleh Ibuku kepadaku ialah:

“Mama yang salah, seandainya Mama tidak buat titus kecewa, mungkin titus bisa jadi yang terbaik”.

Yah, mungkin kata tersebut tidak terlalu penting bagi yang membaca atau bagi yang mendengar cerita kata ini, tapi bagiku, kata ini terlalu berat untukku, bukan karena kata yang dikeluarkan, tapi kisah dibalik kata tersebut yang membuat aku merasa bahwa memang, kata ini sangat berat, karena kata inilah yang terkadang membuat aku sering dan selalu bertanya kepada diri ini, Kenapa aku harus kecewa?

Yah, mungkin seperti itu. Itulah kisah atau cerita kehidupan yang mungkin tidak penting sama sekali bagi mereka yang membaca atau mendengar, tapi dari cerita ini, aku belajar satu hal, satu hal yang harus aku ajari kepada diriku sendiri, agar ketika dilain waktu nanti, ketika aku punya kesempatan untuk melanjutkan kehidupan yang berarti ini, aku bisa melakukan apa yang harus aku lakukan dan yang tidak harus aku lakukan kepada sebuah kesempatan yang telah diberikan kepadaku.

Yah, mungkin seperti itu.

Tapi sudahlah, ketika aku jalani waktu yang lalu, satu yang aku ketahui saat itu ialah:

“Yang terbaik bagiku, tidak bagi Tuhan dan Yang terburuk sekalipun bagiku, Tidak juga bagi Tuhan”.

Yah, jadi aku harus tetap menjalani hidup ini sebagaimana biasanya, menjalaninya tanpa harus khwatir akan semua yang ada, karena jika khawatir itu datang, maka:

“Aku hanya perlu melihat diriku dalam diriku, agar masalahku pergi dariku, karena aku berkuasa atasnya dan ia tak berkuasa sedikitpun atasku”.

Yah, itu yang aku tahu, dan yang terakhir yang selalu aku tanamkan dalam pikirku ini ialah:

“Semua yang terjadi itu tidak pernah terjadi begitu saja, semua punya alasan mengapa itu harus terjadi. Karena aku sama sekali tidak menginginkan hal tersebut untuk terjadi, tapi jika sudah terjadi, maka itulah yang terbaik”.

Mungkin itulah catatan kehidupanku untuk hari ini tentang sebuah kata yang biasa disebut kecewa. Yah, aku sama sekali tidak ingin menceritakan kisahku, cukup hanya ini saja, karena setidaknya ini cukup untuk hari ini, sedangkan untuk kisahku, mungkin akan kutulis kembali tentang kata kecewa dan kenapa atau apa yang membuat seseorang dapat merasa kecewa. Yah, mungkin seperti itu. Sekian dan salam buat catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.