Kereta Terakhir – Cerita Hari Kemarin

Kali ini aku ingin menuliskan tentang Kereta Terakhir dari cerita hari kemarin. Ya, mungkin ini tidak terlalu penting tapi karena sudah lama juga tidak menulis, jadi ada baiknya untuk menulis cerita ini, sebagai sebuah cerita yang pernah terjadi dalam kehidupan ini.

Kereta Terakhir – Jakarta, 29 Mei 2019

Setelah sebulan terakhir kerja dari Rumah, karena Pandemi or whatever namanya, akhirnya kemarin disuruh masuk kantor dan waktu masuknya itu dari jam 10 lewat beberapa menit sampai jam 3 sore’an. Ya, kisaran seperti itu.

Setelah sebulan tidak naik kereka dan terlalu nyantai sampai tidak mau membaca berita soal informasi kereta mungkin, akhirnya hari ini terlihat sedikit menyenangkan. Ya, mungkin seperti itu, kata-kata terbaik untuk saat ini, karena disamping ada rasa panik, di saat itu juga ada rasa untuk menghilangkan kepanikan.

Awal cerita setelah jam 3 atau jam berakhirnya kerja, aku masih nyatai duduk dan mengikuti meeting, tanpa berpikir ke arah jadwal kereta yang sedikit dibatasi. Ya, sehingga ketika aku pulang kira-kira pukul 5 lewat beberapa menit dan sampai di stasiun.

Melihat papan jadwal kereta, semuanya hanya sampai di stasiun Manggarai ya, aku di stasiun Tebet dan semua kereta dari arah bogor hanya sampai Manggarai setelah aku membuka aplikasi KRL Access barulah aku nyadar bahwa kereta tujuan stasiun DURI atau Jakarta Kota sudah tidak ada lagi.

Untuk meyakinkan apa yang aku lihat, aku bertanya ke petugas stasiun dan ternyata benar, kata Beliau, kereta hanya sampai stasiun Manggarai.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menaiki kereta yang baru sampai di stasiun Tebet dan yang hanya sampai di stasiun Manggarai tersebut. Sementara menuju Stasiun Manggarai,  aku buka KRL Access dan memilih stasiun Manggarai sebagai stasiun awal keberangkatan dan ternyata, masih ada kereta arah Jakarta Kota dan kereta tersebut dari arah Bekasi.

Setelah mengetahui informasi tersebut, akhirnya step selanjutnya agar cepat sampai ke tujuan ialah Ambil kereta arah Jakarta Kota, dengan harapan ya ini setidaknya udah lebih dekat dari stasiun DURI.

Ya, jadi setelah kereta yang aku tumpangi sampai di stasiun Manggarai, di waktu yang sama dan hanya selisi beberapa detik, kereta arah Jakarta Kota pun juga tiba di stasiun tersebut. Ya, tepatnya tiba di jalur 3.

Setelah itu aku pergi ke kereta tersebut. Kereta ini terlihat kosong, ya, mungkin karena banyak orang sudah tahu jadwal kereta yang sedikit dibatasi, jadinya mereka sudah pada lebih awal pulang ke tempat mereka beristirahat.

Sementara berada di kereta ini, rasa kesal terkadang ada, karena aku terlalu santai. Kesal karena aku terlalu mengabaikan kesempatan untuk mencari informasi terlebih dahulu. Ya, rasa kesal ini kadang ada.

Di waktu yang sama pikiran positif datang, ya, seperti untuk menetralkan suasana, walaupun aku tahu ini sedikit menegangkan. Karena aku tidak tahu sama sekali apa yang harus aku lakukan, aku hanya mencoba untuk mengambil langkah-langkah terdekat untuk dapat sampai ke tujuanku.

Ya, aku berpikir disaat aku khawatir atau kesal bahwa ini pasti ada hal positifnya. Ya, aku berusaha untuk menetralkan semua pikiran-pikiran negatif yang datang pada waktu ini.

Setelah itu aku membuka aplikasi KRL Access untuk kesekian kalinya, tapi untuk saat ini, aku ingin tahu kereta terakhir arah Tangerang itu kira-kira jam berapa dan ternyata kereta terakhir arah Tangerang itu tepat pukul 16:20 dari stasiun Grogol atau 16:17 dari stasiun Duri.

Ya, tepat diwaktu yang sama aku lihat jam di hp dan pada waktu itu, jam tepat berada pada pukul 17:37 menit, aku ingat betul waktu ini.

Tujuan selanjutnya ialah yang penting sampai ke stasiun Jakarta Kota, setelah sampai di sana, tujuan selanjutnya ialah naik Kopaja 86, aku g’ tahu kalau Kopaja ini udah bangkrut. Karena pada waktu ini, semua ojek online udah ditutup (“Untuk sementara waktu atau selamanya aku g’ tahu”) dan pilihan terakhir ialah Grab Car kalau memang udah kapepet tapi aku yakin, kalau naik ini, aku g’ bakalan dapat kereta, karena waktu nunggu grap dan perjalanan ke stasiun Grogol kalau dihitung itu waktu yang cukup lama.

Ya, tapi aku jalan aja dulu.

Setelah sampai di stasiun Jakarta Kota, aku langsung keluar mengambil pintu keluar terdekat, sekalipun aku belum pernah lewat sana. Ya, aku sedikit bingung, karena setelah keluar, aku ambil arah ke terminal Busway.

Setelah itu kebetulan ada bapak-bapak yang juga lagi jalan, aku nanya ke beliau, kalau mau keluar lewat mana, kata beliau lewat tangga, karena kalau lewat jalan melingkar akan ke terminal Busyaw. Akhirnya aku keluar lewat tangga dan sampailah di pinggir jalan.

Setelah ini bingung, 100% blank, aku g’ tahu harus kemana, aku hanya mengambil step demi step, melangkah yang aku juga tidak tahu sebenarnya aku ngapain. Setelah itu bapak-bapak ini nyebrang jalan dan aku ikutin, setelah itu sampai disana terlihat ada satu Ojek Pangkalan.

Bapak-bapak ini ketika melihat saya samperin, sepertinya beliau mengalah, tapi saya mengacungkan tangan saya supaya beliaulah yang pake ojek tersebut dan saya keep calm aja, padahal rasa sedikit khwatir ada, tapi positif aja.

Setelah itu si bapak-bapak ini nanya ke aku mau kemana Mas? Terus aku bilang ke Stasiun Grogol. Sebelum kata-kataku berakhir, si tukang ojeknya langsung bilang, berdua aja g’ apa-apa, entar bayarnya patungan karena kebetulan beliau juga mau ke Grogol untuk mengejar kereta terakhir.

Ya, tanpa pikir panjang aku langsung naik aja, jadi boncengan 3 dan finally setelah sampai di stasiun Grogol, akhirnya bayar patungan dan karena uangku 100 dan tidak ada kembalian dan receh hanya 11.000 pada waktu ini, akhirnya tanpa pikir panjang, untuk sementara si bapak-bapak keluarin uangnya dan bayarin.

Setelah itu aku menukar uang terus kembaliin uang si bapak-bapak ini. Ya, jadi sepanjang jalan kami ngobrol banyak hal, mulai dari tempat kuliah sampai tempat kerja.

Ya, jadi seperti itulah cerita ini.

Sungguh, cerita ini sangat tidak berarti, tapi aku sangat bersyukur melaluinya, ya, setidaknya aku tidak sia-sia untuk melihat satu wajah orang baik di tengah jalan. Menjadikan ini pelajaran untuk selalu berpikir positif, karena apapun bisa terjadi.

Ya, banyak pelajaran dari cerita ini untuk kehidupan ini and this is the end of this story. Sekian dan salam untuk cerita hari kemarin.