Ketika Di Suatu Ketika

Ketika jantung tak lagi setia,
denyutnya terasa tak seperti biasa.
Terkadang berbeda dari biasanya,
walaupun akhirnya tetap sama.

Makian bukan pujian yang dapat diberikan,
ketika ia terlihat sedikit kelelahan.
Yang merasakan ialah aku pemiliknya,
sedangkan ia terus menerus tak mau bersama.

Ia menyerah dengan keadaan,
keadaan dari sebuah kehidupan,
kehidupan dari hidup sang pemiliknya,
walaupun napas masih terasa ada.

Menyerah bukan tujuan akhir,
walaupun ia dengan lantang selalu memakiku.
Aku hanya dapat terdiam sampai akhir,
sampai waktu dimana aku berlalu.

Aku tak takut padanya,
itu yang terkadang ada dalam benak ini.
Nyawaku tak berarti katanya,
walaupun harapanku masih ada pada hidup ini.

Yang terpikirkan bukan dirinya,
Bukan juga apa yang dibuatnya,
Akan tetapi ada hal lain yang lebih besar darinya,
yaitu IA yang memiliki segalahnya.

IA yang seharusnya aku takuti,
tidak pada semua yang terjadi ini.
yang terjadi ini tak memiliki pengaruh terhadapku,
terharap apa yang aku miliki dalam kehidupanku.

Sampai akhir aku tak peduli padanya,
tak peduli adalah apa yang aku pikirkan.
itulah aku dan sifatku,
ketidakpedulian pada semua yang terkadang terjadi.

Sekian dan salam buat catatan ini.

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.