Ketika Takdirku Mengurungku

Kali ini aku ingin menulis tetang ketika takdir mengurungku. Ini merupakan catatan kehidupan, karena hal ini sedikit penting bagiku untuk dibaca kembali di lain waktu yang akan datang, jadi kuputuskan untuk menulisnya saat ini.

Ketika Takdirku Mengurungku – Duripoku, 7 Februari 2018

Ketika aku berbicara mengenai takdir, maka menurutku takdir adalah sesuatu yang telah terjadi. Jadi, semua yang telah terjadi dalam kehidupanku ini, maka itulah takdir yang diberikan untukku. Jadi, hari ini aku akan menuliskan tentang takdirku yang telah mengurungku.

Aku tidak tahu darimana aku harus memulainya tapi inilah catatanku tentang takdirku yang telah mengurungku.

17 Tahun aku menempuh pendidikan di SD, SMP, SMA hingga kuliah. Perjalanan hidupku penuh dengan liku-liku, banyak belokan, banyak tanjakan dan banyak juga penurunan yang harus kulalui. Terkadang aku merasa sedih akan hal itu, tapi disaat yang sama, syukur mengajarkan kepadaku tentang arti dari sebuah kesempatan yang tidak diinginkan tapi didapatkan, kesempatan untuk belajar bagaimana nikmatnya sebuah kehidupan yang penuh dengan warna.

Masa-masa yang paling menamparku ialah masa kuliahku, saat dimana aku berada jauh dari Orang Tuaku, pendidikanku berjalan dengan sesuatu yang namanya “All Is Well” di sepanjang waktu kuliahku. Entah waktu belajarku, masa ujianku atau ketika pada saat dimana aku berdiri dalam sebuah ruangan sepi tempat dimana aku tinggal.

Setelah semuanya berakhir, saat itulah aku pulang ke tempat dimana Orang Tuaku berada, Ibuku dan Ayah Tiriku. Saat itulah Takdirku seolah-olah mulai mengurungku.

Cita-citaku sangat banyak, tak dapat kuhitung satu per satu, tapi aku rasa semuanya berakhir atau berhenti selamanya atau berhenti sejenak (“Aku juga tidak tahu”) ketika masa kuliahku telah berakhir, ketika aku kembali dan pulang ke rumah tempat dimana Orang Tuaku berada. Yah, itulah ceritaku, cerita yang baru kumulai di awal cerita atau catatan ini.

Orang Tuaku adalah Petani, aku hidup dan menempuh pendidikan dari Usaha yang mereka lakukan untuk membiayai hidupku dan pendidikanku. Aku tidak tahu bagaimana bisa kuliah yang begitu (“Lumayan”) mahal dapat diatasi atau teratasi tanpa ada tunggakan. Apakah Tuhan sudah begitu baik terhadap orang berdosa sepertiku? Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya begitu, aku merasa aku orang yang paling diberkati, sekalipun aku berdosa.

Di Rumah Orang Tuaku, banyak pekerjaan yang dapat dan harus dikerjakan, entah dikebun sawit atau di dalam Rumah. Ketika panen tiba, aku harus bergegas mempersiapkan diri untuk pergi bersama Ayah tiriku ke Kapling, ia memanen dan aku mengangkat buah, entah dengan Lori-Lori atau hanya mengangkatnya dengan tombak.

Yah, itu jika aku dikapling.

Ketika aku di Rumah, Ibuku sering sakit-sakitan, sebagai seseorang yang tidak memiliki saudara perempuan atau saudara laki-laki, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah, entah itu mencuci piring, memasak, membersihkan rumah dan sebagainya untuk membantu Ibuku, jika Beliau tidak sakit atau ketika Beliau sakit, aku harus mengerjakan semuanya.

Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat-saat aku bekerja disini, tapi terkadang yang aku pikirkan ialah mungkin Gelar Sarjanaku harus berakhir sampai disini dan memang Gelar Sarjana tidak akan menjamin seseorang bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Aku merasa terjebak atau takdirku telah mengurungku, karena disaat aku berpikir harus pergi keluar untuk mencari pekerjaan, disaat yang sama aku sangat menyayangi Ibuku. Jika aku pergi, semua pekerjaan yang aku lakukan saat ini, pasti Ia yang akan melakukannya. Entah mengerjakan pekerjaan Rumah, maupun pekerjaan yang ada dikebun.

Sungguh, pekerjaan itu sangat atau lumayan berat untukku, bagaimana dengan Beliau. Aku terkadang tidak dapat berbuat apa-apa.

Yah, apalagi jika Ibuku sakit dan jika aku tidak ada, pasti ia akan sangat kerepotan, karena harus mengerjakannya sendirian. Yah, karena Ayah Tiriku tidak mungkin melakukannya, aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas satu yang aku ketahui ialah Pernikahan tanpa ikatan cinta tidak akan pernah berakhir bahagia. Yah, jadi terkadang aku kasihan pada Ibuku, karena hal tersebut.

Semuanya kupikirkan, saat dimana Ayah Tiriku sangat kasar pada Ibuku, entah cara bicaranya atau tingkah lakunya. Aku sebagai anak dari Ibuku terkadang aku tidak dapat berbuat apa-apa, karena Ia juga yang telah mengurusku, tapi aku tahu, aku telah menuliskan takdirku dan takdirnya (“Ayah Tiriku”) setelah kehidupan ini benar-benar telah berakhir.

Yah, saat itulah saat dimana aku terkadang benci pada Ayahku dan saudariku yang telah meninggalkan kami berdua ketika aku masih kecil dan akhirnya aku berjanji bahwa mereka akan mendapatkan bagiannya jika memang aku telah berakhir dari kehidupan ini dan itulah yang aku pikirkan jika aku tidak diciptakan menjadi iblis dan dicampakkan ke dalam panasnya api neraka.

Saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa, karena yang aku pikirkan ialah aku harus bekerja dan mencari sebuah pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, setidaknya kuliahku atau gelar sarjanaku tidak hanya berakhir disini, tapi disaat yang sama aku tidak dapat untuk meninggalkan Ibuku sendirian disini dengan pekerjaan seperti ini dan kehidupan yang nampaknya tidak mulus seperti ini.

Takdirku telah mengurungku dan memberikan pilihan kepadaku, apakah aku harus pergi demi mencari sesuatu yang namanya uang atau aku harus tinggal disini untuk sesuatu yang namanya perasaan, kasih sayang dan sesuatu tentang itu, karena sungguh, aku sangat menyayangi Ibuku dan terkadang aku berpikir bahwa “Uang dapat dicari, tapi kebersamaan dan kasih sayang kepada Ibuku yang kuberikan, bisa saja hilang kapan aja, ketika hal itu benar-benar akan terjadi”.

Yah, hingga akhirnya aku tidak tahu apa yang kupikirkan tapi aku rasa memang benar, takdirku telah mengurungku dalam ruangan kehidupan ini dan hanya berjalan di dalam ruangan takdirku sajalah yang dapat aku lakukan sekarang. Karena hari ini cukuplah untuk hari ini, karena esok akan punya ceritanya sendiri.

Itulah catatan kehidupanku, ketika takdirku mengurungku dalam ruangan kehidupan ini. Semoga dapat kubaca kembali ketika aku telah tua dan lupa akan cerita ini. Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.