Malaikat Maut

Kali ini aku ingin menceritakan tentang malaikat maut, seperti yang diceritakan atau yang dikatakan lawan bicaraku, ketika aku bertemu dan berbicara dengannya tentang mimpi yang pernah aku lewati. Yah, ini hanya sekedar cerita, sebagai sesuatu yang pernah terlewati dan sebagai sesuatu yang mungkin dapat diingat kembali di lain waktu yang mungkin sedikit berbeda.

Malaikat Maut – Duripoku, 15 Oktober 2017

Beberapa waktu yang lalu, aku bercerita mimpiku kepada seseorang yang katanya memiliki sedikit kelebihan (“katanya seperti itu”).

Aku bercerita tentang mimpiku:

Seseorang turun dari langit, membawa sebuah pedang dan mengejarku. Tepat setelah ia sampai di depanku atau berada di depanku, ia meminta sesuatu kepadaku. Yang ia katakan ialah: “Berikan itu (“Aku tidak tahu apa yang ia maksudkan, tapi itu yang ia ucapkan”) kepadaku, karena seorang nabi pun tidak diijinkan untuk memiliki itu dan juga itu (“Nah, kalau yang kedua ini, aku tahu, bahwa yang ia minta adalah pengendali hujan, dalam mimpiku berkata demikian, karena aku pernah bermimpi seseoarang yang tidak aku kenal memberikan kepadaku sesuatu yang tidak aku ketahui untuk mengendalikan hujan dengan cara membuka tanganku dan mengarahkannya ke langit, tepat pada waktu itu aku ingat sekali berada diantara langit, dimana di bawahku terlihat seperti langit, begitu pula di atasku”). Ya, orang tersebut berkata demikian, setelah itu aku hanya mengatakan bahwa aku tidak tahu apa yang diminta”.

Itulah cerita mimpiku yang aku ceritakan kepada seseorang yang mendengarkan cerita tersebut. Setelah ia mendengarnya, satu yang ia katakan yang tidak jauh beda dengan yang aku katakan ini ialah katanya:

“Kalau turun dari langit dan membawa pedang, itu adalah malaikat maut”.

Jujur, aku tidak tahu apakah itu benar apa salah, tapi jika memang itu benar, maka satu yang dapat aku ketahui yang ia minta dariku dalam mimpi tersebut ialah Nyawaku.

Yah, karena itulah yang biasa diambil oleh malaikat maut, yaitu mencabut nyawa seseorang.

Mungkin penting atau tidak, aku rasa ini sedikit yah, seperti itulah. Biar aku yang tahu semua cerita yang terkadang tidak harus aku tulis kembali apa yang pernah kutulis disini, karena mungkin benar, apa yang aku rasakan, apa yang aku pikirkan, apa yang aku inginkan dan apa yang aku tanyakan yang sama sekali belum dapat aku temukan jawaban yang tepat dari semua pertanyaan-pertanyaanku, walaupun aku tahu dalam sebuah ketidaktahuan, begitu pula sebaliknya.

Sekian dan salam buat catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.