Pelajaran Dari Sebuah Kehidupan

Kali ini aku ingin menulis tentang sebuah pelajaran dari sebuah kehidupan, ini merupakan sebuah catatan kehidupan yang pernah terjadi dalam kehidupanku, bahkan sekarang sementara terjadi atau nantinya pun juga pasti akan terus terjadi, karena seperti itulah sifat manusia, dan bukan hanya orang lain saja, akan tetapi diriku sendiri pun juga terkadang melakukannya, baik disadari maupun tidak disadari sama sekali.

Pelajaran Dari Sebuah Kehidupan – Jakarta, 30 Agustus 2017

Aku pernah berdiri di sudut dari sebuah waktu, bahkan bukan hanya pernah, akan tetapi sering dan selalu. Yah, aku sengaja memilih mengatakan “sudut dari sebuah waktu”, karena aku memang sudah tersudutkan, bukan karena orang-orang yang melakukannya, akan tetapi lebih ke arah apa yang aku pilih. Yah, mungkin seperti itu.

Di setiap waktu, di setiap menit atau detik dari sebuah kehidupan, terkadang kita dapat menemukan orang-orang yang datang kepada kita, dan selalu saja, jika ada yang datang, pasti ada juga yang pergi. Setiap orang tahu itu dan semua  orang juga tahu bahwa terkadang di waktu yang sama, mereka yang datang selalu punya alasan mengapa mereka datang kepada kita.

Yah, semua pasti seperti itu. Aku pun demikian.

Apakah hal tersebut merupakan sebuah keegoisan atau bukan, aku tidak terlalu tahu sampai di situ, karena satu yang aku ketahui saat ini ialah itu merupakan sifat manusia pada umumnya, tanpa terkecuali dan semua yang terjadi itu, pasti merupakan sebuah ajaran yang perlu untuk dipelajari, entah agar kita tidak melakukannya kepada orang lain maupun agar kita dapat menemukan hal lain yang lebih penting dari hal sebelumnya.

Yah, mungkin seperti itu. Hal lain lain yang dapat ditemukan yang dimaksud ialah kebaikan.

Tuhan ku ( Tuhan yang aku percayai ) pernah berkata:

“Jika engkau hanya bisa berbuat baik kepada mereka yang baik terhadapmu, apakah jasamu? karena orang jahat pun demikian”.

Yah, terkadang aku mengingat kata itu, karena kata itu 100% bahkan lebih dari itu, benar adanya.

Setelah semuanya berlalu, akhirnya aku menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan ini. Yah, jawaban kenapa mereka yang punya alasan datang kepadaku harus aku berikan jawaban atas alasan yang mereka punya, bukan karena aku baik, karena satu yang aku ketahui yang pernah dikatakan oleh Tuhan yang aku percayai ialah:

“Tiada yang baik selain daripada Allah saja”.

Akan tetapi jawabannya ialah lebih kearah:

“Agar mereka dapat pergi jauh daripada ku”.

Yah, mungkin seperti itu, karena “Aku tak butuh mereka, begitu pula sebaliknya”. Sehingga ketika mereka telah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mereka bawa kepadaku, maka mereka tentu sudah tidak punya pertanyaan lainnya lagi, dan saat seperti itulah, 100% mereka tidak akan pernah datang lagi, karena mereka tidak punya cukup alasan untuk melakukannya.

Hingga akhirnya jika mereka tetap datang lagi, aku hanya cukup perlu untuk bertanya, “Ada apa?”. Mereka pasti akan memberitahukan apa yang mereka butuhkan, aku tinggal menjawabnya, setelah itu mereka akan pergi lagi, begitu seterusnya sampai mereka hilang dengan sendirinya.

Saat itulah aku tahu dan dari awal memang aku telah mengetahuinya bahwa terkadang sesuatu yang bernama “Ketulusan” itu susah untuk dicari dan susah juga untuk ditemukan, hanya “All Is Well” aja sekarang bahwa suatu saat hal itu memang benar-benar ada, bukan hanya sebuah mitos. Karena aku pun demikian, masih memiliki alasan ketika bertemu dengan seseorang, entah karena aku butuh sesuatu atau karena memang ada sesuatu, entah untuk jangka panjang maupun jangka pendek.

Tapi, setiap orang punya kesempatan buat belajar, bagaimana cara untuk menghilangkan napsu (“keinginan”) atau alasan akan sesuatu yang diinginkan, entah karena uang, entah karena sesuatu, dimana sesuatu itu ialah sesuatu yang positif tentunya.

Yah, mungkin seperti itulah catatan kehidupan hari ini tentang pelajaran dari sebuah kehidupan yang memiliki hasil yang baik, jika kita bisa belajar untuk menilainya secara baik.

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.