Pernah Berada Di Masa Itu

Kali ini aku ingin menulis tentang Sesuatu yang pernah ada dimasa itu, masa dimana kami pernah berdiri, masa dimana kami pernah menulis dan melukis cerita indah dari kehidupan ini, dimana kehidupan yang kami jalani pada masa itu, menampar kami dan mengatakan bahwa inilah aku yang sesungguhnya, yang tak pernah engkau bayangkan.

Pernah Berada Di Masa Itu

Kami pernah berada disebuah Waktu, waktu yang katanya baik tapi tak cukup baik, dan waktu yang jahat, tapi tak cukup. Waktu yang mengajari kami tentang sebuah langkah yang pastinya kami akan lemah, tapi kami tetap kuat dan membuktikan padanya bahwa kami tak selemah yang ia pikirkan.

Waktu yang mengajari kami akan sebuah kesempatan kehidupan dengan beberapa buah kedondong, waktu yang membuat kami berjalan tak sedikitpun mengenal lelah, waktu yang mengajari kami tentang sifat dari keluarga yang baik yang telah memberikan kesempatan untuk menikmati masa ini, masa yang tidak diinginkan tapi indah adanya, dimana keindahan yang diberikan pada masa ini, dapat dibilang lebih indah dari sebuah pelangi yang terlukis indah dibagian timur yang bergaris melengkung membatasi awan.

Masa yang membuat kami bertahan untuk hidup hanya dengan beberapa bungkus terigu, beberapa bungkus mentega, beberapa bungkus kismis, beberapa bungkus minyak, dan sebuah korek api untuk menyalakan kompor hingga akhirnya semua yang berasal dari beberapa bungkus itu menjadi beberapa potong roti. Roti yang mungkin pada waktu itu dapat dikatakan bukan roti makanan, akan tetapi roti kehidupan, dimana dari roti-roti inilah, kami dapat belajar untuk bertahan hidup dalam beberapa waktu yang ada atau dalam kesempatan yang telah diberikan.

Masa dimana kami tertidur disebuah rumah sepi yang berdindingkan tripleks, beratap rapuh dan berumur lebih tua dari umur kami. rumah yang menampung kami untuk memberikan kami kesempatan melihat waktu yang katanya ingin dan mau untuk menjatuhkan kami. Terbaring dalam gelap ketika sebatang lilin yang mengorbankan dirinya untuk menerangi kami lelah dengan keadaan yang selalu menghimpitnya.

Tertidur dalam waktu yang sedikit larut, itu adalah Dia, Dia yang sampai sekarang menjadi alasan mengapa aku masih bisa untuk bertahan, walaupun terkadang atau sesekali aku terjatuh, aku pasti akan bangkit, karena Dia, Dia, Dia dan Dia, motivasi kehidupan yang membuat aku masih tetap untuk berjalan, walapun aku terkadang keluar dari terang dan berjalan dalam kegelapan dari kehidupanku sendiri.

Aku tertidur dengan lelap, ia tetap terjaga. Aku terbangun dengan cepat, tapi ia lebih cepat dariku. demi kehidupanku, demi kehidupannya dan demi kehidupan kita, ia tetap terjaga dan terus terjaga, ia berusaha dan terus berusaha, hingga akhirnya waktu lelah terhadap ia yang sangat kuat ini, dan waktu sendiri berdiri dengan gagah dan memanggil kita dan berkata bahwa bangunlah, waktumu telah tiba, sekarang kembalilah ke tempat dimana kalian pernah berdiri, dimana kalian pernah bernyanyi tanpa sedikitpun merasa sakit, dimana apa yang kalian inginkan, kalian temukan dan dimana aku selalu berpihak padamu, tapi sekarang aku lelah, kamulah pemenangnya dan aku mengalah terhadap kalian.

Dan pada waktu itu juga, kami bergegas tanpa melihat kebelakang kami, melihat semua yang telah terjadi, karena masa yang didepan lebih berharga dari masa ini, walaupun kami tahu, bahwa masa ini sangat berarti untuk masa depan kami, tapi sudahlah, karena kami lupa semuanya, sebab kami akan kembali, dan akhirnya kami bahagia, karena kesempatan tak selamanya buruk, karena waktu tak selamanya malam, karena hari tak selamanya mendung dan karena kesedihan tak akan selamanya bertahan dan itulah yang kami dapatkan.

Kami bersyukur, bersyukur dan bersyukur.

Aku sangat bersyukur, dimana masa yang terjadi ini, terjadi pada waktu dimana aku masih belum mengerti banyak hal, karena yang aku tahu hanyalah bangun, makan, tidur, bermain, tertawa, bercerita tanpa pedulikan semua yang terjadi aku tetap berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal waktu yang begitu besar telah menampar kami, menginjak kami, menendang kami, memukul dan menyiksa serta mengurung  kami dengan kesombongannya sendiri. Aku bersyukur.

Inilah cerita indah, yang mengajarkanku banyak hal, walaupun ini tak seberapa, tapi inilah kesempatan yang sangat indah, karena aku tidak menginginkannya, tapi ia terjadi. Dan aku bersyukur, karena ia pernah terjadi, tapi aku berharap ia tak akan pernah terjadi lagi.

Sekian dan salam buat catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.