Wake Up, Titus

Kali ini aku ingin menulis tentang Wake Up Titus. Yah, aku ingin menulis artikel ini, aku tidak tahu kenapa, aku juga bingung, intinya sekarang aku perlu untuk menulis lagi, walaupun tidak terlalu banyak, setidaknya ini cukuplah untuk hari ini.

Wake Up, Titus – Duripoku, 24 November 2017

Jujur, aku tidak tahu arti yang sebenarnya tentang Wake Up, tapi satu yang muncul dalam pikirku yang pernah ku dengar dari berbagai kata yang pernah terucap dari mulut atau bibir orang lain ialah wake up itu kalau tidak salah artinya bangun. Yah, itu kalau saya tidak salah.

Bangun dan bangun Titus, itulah yang ingin aku tulis sekarang. Aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin seperti itulah kisah hidupku, karena aku terlalu lama untuk tertidur, bahkan sekalipun aku terbangun, aku masih merasa bahwa aku masih tertidur, bukan karena tidur, tapi ini hanya sebuah ungkapan bahwa aku sama sekali belum bangun walaupun kenyataannya aku tidak tertidur.

Dalam dunia nyataku, sampai tepat pada waktu ini, aku masih saja bermimpi, bermimpi untuk memiliki sebuah bintang yang jauh dan sangat jauh disana, aku tidak tahu kenapa, tapi mungkin inilah bunga tidurku, karena ini hanyalah mimpi, mimpi yang mungkin selamanya tak akan pernah bisa untuk menjadi sebuah kenyataan seperti yang terkadang aku harapkan.

Sekalipun aku rasa itu tak mungkin, tapi aku tidak tahu kenapa, aku masih suka dan terus suka untuk tetap bermimpi, bermimpi tentang apa yang aku pikirkan, yang aku tulis, yang aku baca dan aku ceritakan, kemudian aku mendengarkan semua cerita yang aku baca dari tulisanku yang pernah terpikirkan dalam pikirku, karena aku tercipta untuk menjadi seperti apa yang telah aku inginkan sebelumnya, makanya terkadang aku senang, tapi disaat yang sama aku berpikir bahwa mungkin aku sama sekali tidak sesenang seperti biasanya.

Mimpi itu mengubahku, membuatku tetap tertanam pada sebuah waktu yang menjeratku dan seolah atau seakan-akan tak mau untuk melepasku. Yah, mungkin seperti itu, tapi setelah aku berpikir secara jernih, sebenarnya bukan mimpi yang menjeratku, tapi aku sendiri yang membuat diriku tak dapat untuk terlepas dari jeratan mimpi yang tak berarti ini.

Sungguh, Tuhan tahu dan mendengar semua keluh kesahku tentang mimpiku. semoga IA mau mempertimbangkan semua yang telah aku risaukan dan menjauhkannya bila IA berkehendak atau lebih mendekatkan aku pada mimpiku, jika IA berkehendak pula. Tapi, ah… sudahlah, aku juga bukan orang benar, aku orang berdosa, bagaimana mungkin IA dapat memperhatikan keluh kesah dari orang berdosa seperti aku ini, sekiranya jika ini hanya sebuah khayalan belaka, maka biarlah itu tetap terjadi. Ah, sudahlah, bagi aku mungkin mustahil, tidak bagi-NYA. sekalipun aku berdosa, aku tetap percaya pada-NYA.

Sungguh, inilah kisahku hari ini. Aku ingin terbangun dari tidur yang panjang ini, tapi aku masih tak dapat. Kiranya IA yang disana mau membantuku.

Sekian dan salam buat catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.