Warna Kehidupan

Kali ini aku ingin menulis tentang warna kehidupan, sebuah warna dari sebuah kehidupan yang mungkin sedikit penting untuk ditulis, agar dapat ku baca kembali di lain waktu yang akan datang.

Warna Kehidupan – Jakarta, 18 April 2019

Aku tidak tahu harus menjelaskan darimana untuk warna kehidupan ini, tapi aku rasa aku harus memulainya dari apa yang aku pikirkan atau yang terpikirkan oleh ku sekarang. Ya, aku rasa itu adalah awal langkah terbaik untuk menulis “warna kehidupan” ini.

Satu yang aku tahu dari kehidupan ini yang jika dipikirkan atau diumpamakan sebagai seorang pelukis dan lukisan indah yang dibuat ialah:

“Takdir adalah sebuah lukisan terindah yang telah dibuat oleh TUHAN ke dalam kehidupanku, yang mana itu tak pernah salah untuk dibuat.

Hari adalah kertas putih berukuran besar tempat aku menulis takdir yang telah dituliskan oleh TUHAN untukku.

Aku adalah pensil atau pulpen atau pewarna yang digunakan untuk mencoret-coret hari atau kertas putih yang telah diberikan kepadaku.

Setiap hari adalah titik dan aku adalah memmbuat garis untuk menghubungkan semua titik yang ada, titik yang dari lahirku sampai titik matiku. Semuanya akan saling terhubung hingga membentuk sebuah lukisan yang indah.

Terkadang dalam lukisan itu, ada warna yang terang, ada warna yang gelap, ada garis yang tebal dan ada garis yang tipis. Semua warna dicampur adukkan dan yang harus dituliskan adalah yang tetap harus tertulis, sekalipun itu merupakan warna yang gelap, karena demikianlah harusnya atau hendaknya itu terjadi agar dapat membentuk sebuah lukisan yang sangat indah.

Terkadang ada beberapa hal yang tidak diinginkan terjadi dalam lukisan itu, ada sesuatu yang salah, entah garis yang miring ketika mau dihubungkan ke titik yang lain atau warna yang terlalu tidak beraturan, saat itulah yang harus aku lakukan ialah menghapus bagian-bagian yang tidak penting itu, dan satu yang aku tahui ialah untuk melakukannya, doa atau ibadah adalah hal yang perlu untuk dilakukan dalam lukisan ini kehidupan ini, agar sesuatu yang tidak diinginkan dapat dihapuskan.

Aku tidak perlu khawatir tentang apapun yang terjadi, karena itulah warna yang harusnya aku gunakan atau garis yang harus aku tarik, agar dapat terhubung ke titik selanjutnya.

Aku tidak perlu khawatir akan apapun yang terjadi, karena setiap hariku adalah garis yang saling terhubung untuk membentuk sebuah lukisan yang tentunya berbeda dengan yang lainnya.

Aku tidak perlu khawatir tentang apapun yang terjadi, karena yang perlu aku lakukan dan yang cukup aku kerjakan ialah terus berjalan hingga semua titik ini saling terhubung, semua titik demi titiknya tidak terlewatkan, sampai pada saat dimana itu harus berhenti.

Sehingga ketika semua telah selesai, maka itulah hasil akhir dari lukisan yang telah aku buat dari gambaran (“Takdir”) yang telah diberikan oleh TUHAN untukku.

Sebab saat itulah saat dimana napas telah pergi dari tubuh ini dan mata telah tertutup, denyut nadi telah berhenti dan tubuh hanyalah tubuh, tidak lebih dari segala sesuatu yang pernah ada, tidak lebih daripada jiwa yang telah pergi.

Jika sekiranya lukisan itu indah, maka itu akan digunakan untuk saat selanjutnya, tapi jika tidak, maka saat itulah lukisan itu harus dibuang ke dalam api yang tidak terpadamkan. Itulah yang namanya takdir, tidak ada yang dappat untuk lari dari yang telah ditentukan bahwa itu harus terjadi.”

Ya, itulah cerita atau catatan tentang warna kehidupan, yaitu bahwa semuanya harus tetap berjalan, tidak ada waktu untuk berhenti dalam menghubungkan semua garis atau titik yang ada, agar kertas putih ini menjadi kotor dengan warna yang ada padaku.

Sekian dan salam untuk catatan “warna kehidupan” ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.