Catatan Kosong

Ketika yang berarti, berubah menjadi sesuatu yang tak berarti.

Katanya ketika kita tak jauh, maka kita dekat, tapi dekat seperti apa yang terlihat seperti jauh.

Mimpi ini menghancurkanku, tapi kehancuranku membuatku tetap tegar dan menatap akan masa kebesaranku.

Aku bermimpi untuk berada di depan, tapi ketika aku sudah berada disana, aku ingin kembali berada dimasa tempat dimana aku pernah berdiri, tempat dimana aku berharap dan membentuk sebuah mimpi yang sebenarnya aku tidak menginginkannya.

Aku lupa, lupa akan keadaan, lupa akan kesempatan, lupa akan ruang dan waktu dan bahkan lupa akan diriku sendiri.

Aku terlalu memanjakan pemikiranku, mengikutinya kemana ia mau untuk pergi, sehingga ketika aku sampai, aku sadar, bahwa pemikiranku menjebakkan, membuatku terantuk hingga terjatuh ke dalam
sebuah lubang kehidupan yang sangat gelap, yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun, karena disana tidak ada kehidupan untuk sebuah kehidupan.

Aku berangan dan terus untuk berangan, agar aku bisa dapat bangkit, beridiri dan berjalan ke tempat semula dimana aku pernah beridir, tapi aku sendiri tidak dapat melakukannya, mungkin kata “tidak dapat” tidak cukup untuk mewakili kata ini, karena sebenarnya bukan tidak dapat, akan tetapi aku tak mampu, karena aku sendiri yang memang tak mau.

aku masih berjuang, bukan untuk mengalahkan waktu, bukan untuk mengalahkan semua yang ada disekitarku, akan tetapi aku masih berjuang untuk mengalahkan pikiranku sendiri, mengalahkan semua kemauanku yang seharusnya.

Yah, karena jika mimpi ini terlalu berat untuk dipikul, maka aku ingin dan akan meninggalkannya disini, belajar untuk memimpikan mimpi yang lain.

Karena satu mimpi tak cukup untuk satu malam yang panjang.

Sekian.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.