Malamnya Kehidupan

Kali ini aku ingin menulis tentang malamnya kehidupan. yah, ini hanya sebuah catatan biasa yang ingin saja untuk ditulis pada blog ini, sebagai bagian dari kehidupan yang mungkin perlu untuk diingat ketika dibaca kembali di lain waktu yang sedikit berbeda.

Malamnya Kehidupan

Ku berdiri di dasar bumi, berdiri dengan tenang tanpa bergerak sedikitpun.
Dijerat oleh kegelapan hingga membuat aku tak dapat untuk bergerak.
kesunyian dan kegelapan memeluk seakan tak rela melepaskan,
melepaskan diri ini yang memang sudah berada dalam perangkap kehidupan.

Nafas tedengar dengan jelas, ketika kutarik dan ku hembuskan secara perlahan,
belajar untuk memutuskan sebuah keputusan yang katanya penting namun tak penting.

Ada harapan, tapi tidak ada kesempatan. itulah keadaan yang katanya merupakan bagian dari kehidupan.
Mau berjalan tapi tak dapat untuk memandang, mau terdiam tapi tak dapat untuk bertahan.

Itulah harapan yang mungkin telah hilang dan tak dapat untuk ditemukan.

Sedikit waktu kuperlukan untuk merenung,
merenung kehidupan yang katanya sudah tidak memiliki harapan.
akhirnya kutemukan sebuah jawaban,
jawaban akhir yang memutuskan untuk berjalan.

Berjalan dengan harapan, berjalan dengan impian, demi satu tujuan
agar dapat menemukan, sebuah kehidupan yang berada diantara kehidupan.
harapan menuntun langkahnya kaki dan impian menuntun pandangan mata,
tidak terlihat bukan berarti tidak dapat untuk berjalan,
itulah pikiran yang merupakan sebuah dorongan agar aku dapat tetap untuk berjalan walau dalam kegelapan sekalipun.

awal langkah kuambil secara perlahan,
dengan sebuah harapan yang masih tertanam dalam bagian terdalam dalam tubuh ini,
kupercepat langkah ini agar dapat cepat sampai pada puncaknya dunia.

Sebuah cahaya kuperlukan untuk menuntun langkah ini,
tapi belum kutemukan cahaya itu dalam setiap perjalananku.

Aku masih tetap percaya bahwa ketika sampai dipuncak dunia,
aku pasti akan dapat memiki sebuah cahaya yang memang merupakan cahaya kehidupan.

Yah, itulah motivasiku untuk berjalan,
Agar pelukan kegelapan ini dapat jauh daripadaku.

Setengah perjalananku menuju puncaknya dunia,
belum ada setitik cahaya yang dapat kutemukan.
tapi dari sekian banyak kegagalan,
masih ada sebuah kekuatan besar yang tersimpan, yaitu kepercayaan.

Aku percaya tanpa cahaya aku dapat berjalan,
Aku percaya tanpa cahaya aku masih dapat bertahan,
walaupun akan sangat membutuhkan,
akan tetapi itulah kesempatan untuk belajar bagaimana nikmatnya kehidupan.

Setelah berhasil sampai ke puncak dunia,
aku masih menemukan kegelapan,
walaupun banyak cahaya yang terlihat,
aku masih terlalu jauh untuk memilikinya.

Aku pernah merasa bahwa puncak dunia adalah bagian tertinggi yang pernah ada,
akan tetapi aku salah untuk melihat karena aku belum pernah untuk mencoba.

Setelah aku mencoba, akhirnya aku tahu bahwa ternyata puncak dunia tempat dimana aku berdiri sekarang,
adalah tempat terendah yang pernah ada di alam semesta.
Sedangkan cahaya yang kuinginkan terlihat jauh diatas sana,
tertanam di antara bintang-bintang.

Bagaimana aku dapat menggapai cahaya,
kalau tangan ini tak sampai untuk memegang.

bagaimana aku dapat kesana,
kalau kaki ini terbatas untuk melangka.

Aku takut dan semakin takut,
aku terpuruk dan tambah terpuruk.
itulah keadaan yang tak dapat untuk disalahkan.

Setelah semuanya berlalu, aku mengenal yang namanya syukur.
aku belajar untuk menelusuri apa itu syukur,
hingga akhirnya aku menjadi bagian dari syukur itu sendiri.

Menyesal jauh daripadaku,
rasa takut jauh daripadaku,
keterpurukanpun hilang bagai ditelan harapan.

Syukur menjadi teman kehidupan,
teman yang membantu aku untuk tetap bertahan,
bertahan dari segalah keadaan,
keadaan yang sering datang untuk mengyerang.

Sering kududuk dan kututap cahaya yang belum dapat kugapai,
ku tersenyum dan bahagia, karena walaupun tak dapat memiliki,
setidaknya sudah dapat melihat.

Cahayanya berkedip, seolah-olah bahagia ditempat dimana ia berada,
sedangkan aku masih dibawah, berusaha menjaga agar mata ini tak luput dariku.

aku ingin terus melihatnya, walaupun tak dapat untuk memilikinya.
itulah keinginan, keinginan yang bukan merupakan bagian dari harapan.

Hingga akhirnya sebuah rasa datang,
sebuah rasa untuk pergi menyentuh cahaya.
setelah itu kuputuskan,
kuputuskan untuk melangkah mendekati cahaya.

Cahaya hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun,
memandang dengan malu dan tak mampu untuk berbicara.

Aku masih berusaha, berusaha untuk mendekat,
hingga pada saat dimana aku tak dapat untuk melihat.
Aku yakin itulah saat terakhir,
tapi sebelumnya kuputuskan untuk lebih dekat.

Setelah sekian lamanya waktu kujalani untuk mendekat pada cahaya,
akhirnya aku sudah semakin dekat.

Setelah aku semakin dekat, akhirnya aku sadar bahwa cahaya terlihat semakin banyak,
aku berusaha untuk memutuskan, memutuskan untuk memilih sebuah cahaya yang sangat kecil terlihat jauh diujung angkasa.

Aku memilih sebuah cahaya yang sangat kecil itu,
agar dapat kupegang dan kubawah kemanapun ku pergi.

Setelah itu aku berjalan, berjalan 2 kali jaraknya dari perjalananku sebelumnya.
aku berusaha dan terus berusaha, agar cahaya yang kecil ini dapat aku miliki,
karena itulah impian terdalam yang masih tersimpan pada bagian terdalam dalam tubuh ini.

Setelah aku sampai pada cahaya tersebut, akhirnya aku sadar bahwa cahaya ini sangat besar,
besar dari semua cahaya yang pernah ada di dalam angkasa.

Aku semakin gugup hingga terlihat sangat melemah.
aku tak dapat berbuat apa-apa, karena cahaya ini jauh lebih besar daripadaku.

Aku hanya mendekat dan duduk terdiam dan membisu pada bagian belakang dari cahaya ini,
karena aku yakin bahwa aku mungkin hanya setitik tinta disebuah kertas putih berukuran besar.

Aku bingung dan berdoa.
Aku berdoa agar cahaya ini selamanya masih ada dan tetap ada.

Hingga akhirnya semua berubah,
Semua cahaya menjatuh termasuk cahaya yang kutunggu.

Jatuh pada bagian terdalam dari dalamnya angkasa.
Aku mencoba masuk kedalamnya, agar aku dapat jatuh bersamanya.

Ketika ia telah terjatuh, ia hancur berkeping-keping
hingga hanya tersisi segumpal dari dirinya yang masih tersisa,
kugenggam dan kusimpan, karena ku tahu, itulah hari terakhir dari semua alam semesta.

Kugenggam dan tak kulepaskan,
kuhentikan langkahku dan kututup mataku,
hingga akhirnya kita tak akan berpisah,
yaitu aku dan cahaya.

hingga nafas terakhir, hanya dua kata yang tersisa,
yaitu kata terima kasih dan amin.

Terima Kasih karena aku telah menemukan cahayaku,
dan amin untuk menegaskan bahwa aku sangat berterimakasih karena telah memiliki cahaya kehidupan,
walapun sudah diakhir dari kehidupan.

Sekian dan salam buat catatan ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.