Tentang Kekhawatiran

Kali ini saya ingin menulis sebuah catatan mengenai kekhawatiran. yah, ini adalah catatan kisah yang pernah terjadi dalam hidup saya, dan sekarang saya ingin membagikannya ke blog saya agar saya membaca kembali di lain waktu, kalau saya telah lupa tentang kisah ini.

Kekhawatiran

Kekhawatiran adalah rasa dimana kita ragu akan apa yang akan terjadi, dimana ini lebih berpihak kepada hal yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Sebuah Kutipan:

Kekhawatiran dapat mengabulkan apa yang dikhawatirkan” atau “Kekhawatiran dapat menjauhkan kita dari apa yang kita inginkan”.

Dari kutipan di atas, inilah cerita saya tentang kekhawatiran yang sering saya hadapi dibeberapa waktu yang lalu, sebelum belajar untuk mengenal rasa khawatir itu sendiri.

Saya adalah seorang Mahasiswa, dimana saya belum bekerja dan masih berharap atau masih bergantung pada Orang Tua. Kiriman awal bulan adalah harapan semua anak kuliahan yang masih bergantung sama Orang Tua mereka, dan seperti itulah hidup saya.

Kadang-kadang saya dikirimkan uang yang dapat dikatakan lebih dari cukup, tapi apalah daya, uang tersebut sebelum sampai di awal bulan yang baru, uang tersebut sudah habis duluan, dan kalau itu sudah terjadi, berarti yang saya lakukan ialah meminta uang.

Saya tidak melakukan apa-apa selain berharap akan kiriman dari orang tua.

Setiap kali kiriman masuk, yang saya pikirkan hanya satu, yaitu: “Bisa g’ yah, uang ini sampai bulan depan? Wah, saya harus irit nih, tidak mau buat susah orang tua”.

yah, itulah kata-kata yang maknanya sama dengan apa yang saya pikirkan. rasa khawatir ada kalau uang tersebut tentunya tidak akan bertahan sampai awal bulan yang baru, dan ternyata itu benar, apa yang saya khawatirkan selalu terjadi dan pintu yang seharusnya terbuka untuk membantu saya mengatasi masalah saya, semuanya tertutup karena kekhawatiran telah menutupnya. yah, itulah kisah hidup saya,

Kekhawatiran akan keuangan.

Awal dari saya mengenal rasa khawatir ini ialah beberapa minggu yang lalu. yah, tepat pada saat hari minggu, dimana saya harus pergi ke Gereja, naik angkot 2x pergi dan 2x pulang. Uang dikantong kurang dari 50 Ribu, dan saya harus pergi ke Gereja, karena yang saya pikirkan ialah:

“Kalau saya tidak ke Gereja, berarti saya tidak akan mendapatkan tanda tangan untuk melengkapi tugas Pendidikan Agama Kristen saya, jadi mau tidak mau, saya harus pergi”.

Yah, Modal “All Is Well” saya berangkat pergi Gereja. Harapan saya satu-satunya ( yang terpikirkan oleh saya ) ialah:

“Saya pasti akan mendapatkan uang, saya pasti akan memilikinya”.

yah, itulah yang saya pikirkan, dimana harapan saya satu-satunya ialah kalau uang ini benar-benar habis, maka mau tidak mau harus minta lagi sama orang tua, kalau dimarah juga tidak apa, karena intinya ialah uang udah habis.

yah, itu adalah pikiran tenang pertama yang saya dapatkan kala itu. tidak ada rasa khawatir akan keuangan saya, sehingga saya memutuskan untuk pergi ke Gereja.

Setelah pulang dari Gereja, uang Kurang dari 10 Ribu Rupiah, saya harus masak dan membeli sayur buat makan hari itu juga.

Pikiran hanya satu yang terus muncul ialah “All Is Well”.

Setelah saya selesai makan, akhirnya uang telah habis pada waktu itu, tapi kuota buat internet masih tersisah. setelah makan, saya ternyata mendapatkan sebuah sms dari orang yang belum saya kenal, yang katanya dia ingin menggunakan jasa saya.

Yah, tapi saya tidak tahu bahwa jasa saya ini benar-benar berfungsi, karena saya sudah lama menutupnya. Ada yang pernah menggunakannya, hanya saja berhasil, tapi berhasil juga  saya tidak tahu caranya kayak gimana sehingga bisa berhasil, hingga akhirnya saya pernah menulis sebuah kata:

Tahu dalam ketidaktahuan“.

Yah, karena memang benar saya bisa tapi saya tidak tahu bagaimana caranya.

Karena sudah ada yang memesan dan intuisi saya berkata bahwa saya harus mencobanya, akhirnya saya menerima apa yang ia tawarkan atau yang Tuhan berikan sebagai sebuah
kesempatan untuk saya gunakan.

Setelah itu saya menyuruhnya untuk membayar DP (Uang Muka), dan pada waktu itu ia bayar, sebagai suatu keseriusan. Dan pada saat itu juga saya sudah memiliki yang namanya  Uang. walaupun tidak seberapa, tapi karena udah ada, jadi udah ada yang dapat digunakan buat bertahan hidup beberapa hari.

Setelah saya merima penawaran tersebut, saya langsung membuat apa yang ia inginkan, dan ternyata semua itu adalah suatu kemudahan yang diberika Tuhan untuk saya. yah, semua berjalan lancar dan akhirnya satu kata yang tertulis ialah:

Saya sudah tahu apa yang tidak saya ketahui“.

yah, itulah cerita tentang khawatir dan tidak khawatir.

Sebelum mengetahui hal tersebut, pada malam hari saya sempat tertidur ketika telah terbangun, kira-kira jam 1’an tengah malam. yah, ketika saya menutup mata, saya merasa ada sebuah kekuatan yang besar dekat dengan saya pada waktu itu, saya mendengar sebuah suara, dimana saya pernah mencatatnya pada blog ini di artikel sebelumnya yang berkata
bahwa:

Jika engkau percaya kepada Tuhan, maka engkau melihat apa yang tidak mereka lihat dan engkau akan mengetahui apa yang tidak mereka ketahui“.

yah, itulah kata-katanya. dan saya merasa bahwa tubuh saya seperti ketindihan tapi bukan ketindihan yang membuat saya merasa tidak nyama. yah, saya merasa nyaman, hanya saja memang benar, saya tidak bisa bergerak.

Tubuh saya yang menghadap ke barat seolah-olah menghadap ke timur dan saya yang berada di atas kasur, seolah-olah kasur yang berada diatas saya. yah, semuanya terbalik dari yang nyata.

Akhirnya saya memaksakan untuk bangun dan akhirnya saya bangun. hingga akhirnya sesuatu yang nyata terjadi, yaitu:

“Saya mengetahui apa yang tidak mereka ketahui” ( tentan jasa yang saya sediakan ), namun “saya belum melihat apa yang tidak mereka lihat”. mungkin akan terjadi, tapi saya juga tidak tahu kapan semua itu akan terjadi.

“Tapi terima kasih Buat Suara seorang Laki-Laki yang dengan lantang pernah berbicara kepada saya, begitu pula dengan suara seorang Wanita yang pernah memanggil saya untuk bangun ketika saya sedang sakit”.

Terima Kasih buat Kepedulian itu.

Yah, itulah kisah dari saya.

Setelah cerita itu berakhir, saya mencoba ( bukan mencoba juga sih ) menghilangkan kekhawatiran saya dengan yang namanya uang. yah, saya tidak peduli besok saya makan apa, intinya yang harus dipikirkan ialah sekarang.

Besok adalah besok, Tuhan yang akan mengaturkan untuk saya.

Kisanya itu seperti ini:

Minggu kemarin setelah pulang dari Gereja, saya dan teman saya singgah di tempat penjualan POP ICE. saya membeli 2, yaitu untuk saya dan teman saya. setelah POP ICE-nya jadi, saya langsung membayar POP ICE tersebut, karena diantara kami ada orang ketiga, seorang Gadis SMP ( mungkin ) yang lagi duduk menunggu mobil atau apa saya juga tidak tahu, karena rasa kasihan ( Bagaimana kalau saya di posisinya, pasti saya juga menginginkannya ), akhirnya saya langsung membayar 3, yaitu pesan yang baru juga buat Gadis kecil itu.

Yah, setelah itu ia tersenyum dan kamipun langsung pergi.

Setelah keesokan harinya, apa yang saya dapat? Yang saya dapat ialah seorang Teman dekat saya ( sahabat ) mentraktir makan yang harganya lebih mahal dari harga ICE cream kemarin.

yah, sesuatu yang tidak direncanakan terjadi begitu saja, ketika tidak ada kehawatiran akan apa yang ada.

Yah, dan itulah kisah yang menarik yang membuat saya percaya bahwa:

“Dengan menghilangkan Kekhawatiran pada diri saya, saya telah mendatangkan kebaikkan untuk diri saya sendiri”.

sehingga ketika semua telah terjadi, kata-kata yang dapat saya petik ialah:

“Ketika kita khawatir, maka kita akan lebih mendekatkan diri kita terhadap apa yang tidak kita inginkan terjadi ( kita menerimanya ) dan kita menjauhkan apa yang baik yang kita inginkan terjadi dalam hidup kita ( kita menolaknya )”.

“Artinya kita membuka pintu atau menerima apa seharusnnya tidak terjadi dan kita menutup pintu atau menolak untuk apa yang kita inginkan seharusnya terjadi”.

Yah, itulah catatan jika berbicara mengenai rasa khawatir. sehingga ketika saya membaca sebuah buku tetang pengembangan kepribadian seseorang, dibuku tersebut berkata bahwa:

Kita tidak perlu untuk khawatir akan apa yang kita inginkan, agar semua dapat terjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita cukup membuat permintaan, setelah itu meminta jawaban dan menerima jawaban. setelah membuat permintaan, kita tidak perlu bertanya seperti apa jalan yang kita akan tempuh untuk dapatkan apa yang kita minta, karena semesta yang akan mengaturkannya untuk kita, selama kita mau menerima jawabannya ( tidak khawatir )”.

Mungkin itulah kata-katanya, memang tidak sama, karena diatas saya menggunakan bahasa saya sendiri.

Sekian dan Salam Buat Catatan Kekhawatiran ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.