Cerita “Sesuatu Untuk Alasan”

Kali ini saya ingin mencatat sebuah catatan kehidupan tentang sesuatu untuk alasan. yah, ini adalah sebuah catatan kehidupan untuk pembelajaran dalam hidup saya mengenai pentingnya alasan dalam ketidak pentingan.

yah, ini adalah catatan yang saya sendiri tidak tahu kenapa ingin untuk mencatatnya. tapi menurut saya harus aja sebagai sebuah kisah yang harus dikisahkan.

Cerita “Sesuatu untuk alasan”

Beberapa hari yang lalu, teman kecil saya ( waktu SD ) datang ke tempat saya. yah, saya menjemputnya dibandara dan membawanya ke kost tempat tinggal saya.

Dia adalah seorang Kopassus mudah yang baru beberapa tahun menjadi seorang Kopassus. yah, ia datang menggunakan seragam lengkap loreng bertuliskan nama Kopassus.

sebelum ia pulang, ia sempat berjalan menuju toilet, sekembalinya dari toilet, ia sempat bercerita sebentar dengan teman saya yang lagi berdiri diluar. mungkin pada waktu itu dia melihat seorang gadis yang duduk didepan pintu, hingga akhirnya ketika ia datang ke kamar kost saya, ia bertanya tentang gadis tersebut.

yah, kata-kata saya ialah “saya tidak terlalu akrab sama mereka, apalagi sampai mengambil contact-nya. tapi kalau kamu mau, nanti saya mintakan”. mungkin seperti itu kata-kata saya, kata-katanya tidak sama tapi maksudnya tidak jauh berbeda lah dengan yang saya maksudkan.

setelah itu saya antar ia ke terminal untuk melanjutkan perjalanan ke bandung. yah, dalam perjalanan, ia masih sempat menanyakan cewek tersebut ( menyinggung cewek tersebut ), yah, dan yang saya katakan ialah “nanti saya akan mintakan contact-nya”.

setelah teman saya itu pergi dan saya pulang ke kost saya, saya masih belum memiliki kesempatan untuk berbicara dengan gadis yang saya sendiri juga masih belum tahu namanya siapa. yah, saya sebelumnya belum pernah berkenalan dengan dia, walaupun dia sudah lama berada disini.

yah, hingga kemarin sore ( Jakarta, 18 Oktober 2015 ), setelah mandi sebelum pergi menggunting rambut di Grogol, saya melihat ada kesempatan untuk berbicara dengan gadis tersebut. ya, ada kesempatan, dimana pada waktu itu ia lagi duduk didepan pintu sambil membersihkan perlengkapan dapurnya.

setelah saya melihat bahwa itu adalah kesempatan yang baik untuk berbicara dengannya, akhirnya saya mendekat dan bertanya kepada dia:

Saya: “Ini namanya siapa lagi? sambil bertanya ke teman ceweknya”.

Teman Ceweknya: “Namanya Nisa”. itu sih yang saya dengar.

Kemudian si cewek yang bernama Nisa itu melihat ke arah saya dan saya bertanya langsung ke dia.

Saya: “Kemaring kamu lihat teman saya kan yang disini?”.

Nisa: “Yang mana yah?”

Saya: “Itu loh, yang pake pakaian loreng”.

Nisa: “Oh ia, emang kenapa”.

Saya: “Dia mau minta nomor contact kamu, dia ingin berbicara dengan kamu”.

yah, setelah saya mengatakan seperti itu, akhirnya teman ceweknya itu langsung berkata:

Taman Ceweknya: “Ssstttt, ada cowoknya didalam”.

yah, ternyata pada waktu itu ada cowoknya di dalam kamar dari Nisa ini. yah, hingga akhirnya saya sadar kalau saya telah salah mengucapkan sesuatu. akhirnya nisa berkata:

Nisa: “Entar aja”, ekspresi wajah semangat untuk berkenalan dengan teman saya.

yah, setelah itu saya langsung pergi tanpa berkata apa-apa.

Dalam perjalanan menuju tempat gunting rambut, setelah turun dari kereta dan berjalan dari stasiun kereta ke arah Grogol, saya sempat berpikir beberapa kata.

saya berpikir seperti ini:

“Ternyata cewek itu suka sebuah alasan untuk mendekati seorang cowok”.

yah, sama seperti tadi, alasannya ialah “Karena dia seorang Kopassus”. yah, saya tidak tahu apa ini benar atau salah, tapi itu hanya pendapat pribadi saya aja.

mungkin seperti itu, mungkin saja. itu hanya pendapat.

hingga akhirnya saya sadar, ternyata selama ini saya berdiam diri seperti ini karena saya sendiri belum memiliki alasan untuk diberikan kepada orang-orang yang menginginkannya.

yah, hingga akhirnya saya rasa syukur banget, karena hingga sekarang saya masih belum memiliki alasan itu, dan dalam perjalanan itu, saya berharap untuk tidak memiliki alasan, sehingga saya bisa menemukan yang benar-benar harus untuk ditemukan.

yah, semuanya itu berkaitan dengan alasan.

setelah pulang dari tempat gunting rambut dan sampai dikost tempat tinggal saya, saya melihat lagi kalau dia lagi berdiri tepat didepan pintu.

saya masuk ke kost saya dan menyimpan tas saya, kemudian pergi ke arah dia untuk melanjutkan cerita tadi yang sempat terpotong. yah, setelah sampai, saya langsung bertanya:

Saya: “Cowok kamu udah pergi?”.

Nisa: “Ia, sudah”.

Saya: “Apa bisa dilanjutkan?”.

Nisa: “Bisa”.

Saya: “Oh ia, nama kamu siapa lagi?”.

Nisa: “Nama saya Lisa”.

wah, disini nih saya telah salah mendengarnya, ternyata namanya bukan Nisa, tapi Lisa.

Saya: “Oh Lisa, gini nih, teman saya kan kemaren lihat kamu, dia mau minta contact kamu, jadi gimana?”

Lisa: “Dia punya Pin BB?”.

Saya: “Wah kalau itu saya kurang tahu, nomor hp aja lah.”

Lisa: “Ok lah”.

Saya: “Jadi gimana? kamu sendiri yang kasih nomor hpnya kamu ke dia atau saya kasih. kalau kamu mau, nomornya ada disini, nanti kamu sms atau hubungi dia aja, biar saya juga tidak meyimpan nomor kamu”.

Lisa: “ah, bla…bla…bla…bla… (“saya sudah tidak ingat”)”)

Saya: “Okelah kalau gitu”.

saya langsung kasi hp saya ke dia dan dia langsung menuliskan nomor hpnya di hp saya. setelah itu saya langsung bilang

Saya: “Mungkin cuma itu aja”.

yah, setelah saya berkata seperti itu, akhirnya saya pun pergi dan diapun langsung masuk ke kostnya.

mungkin seperti itulah ending dari cerita ini, tidak terlalu panjang dan tidak juga terlalu pendek. sebenarnya cerita ini tidak sangat-sangat bermfaat, tapi biarlah ini dapat menjadi pengalaman yang bukan hanya sekedar pengalaman, tapi bisa belajar dari dalamnya.

sekian dalan salam buat cerita ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.