Kisah Hari Kemarin

Kali ini saya ingin mencatat sebuah kisah hari kemarin, dimana ini adalah kisah yang memang tidak diharapkan, tapi dinginkan untuk terjadi. yah, mungkin seperti itu. ini hanya sebuah catatan kehidupan, agar dapat selalu diingat pada saat dibaca kembali, ketika otak ini sudah tidak mampu untuk mengingat, karena ini pernah terjadi.

Kisah Hari Kemarin. Jakarta, 10 November 2015

Kemarin Dulu, tepat hari senin sore, saya pulang dari Kampus. yah, setelah berjalan keluar sampai di trowongan pinggir kampus tempat saya kuliah, saya mendapatkan sebuah sms dari member saya kalau ia telah mentransfer uang sebesar Rp.500.000 untuk jasa yang saya berikan ke dia.

Yah, setelah itu saya duduk sejenak di bangku yang berada dibawah trowongan itu untuk mengecek kiriman yang masuk itu, dan setelah saya buka Mobile Banking BCA saya, ternyata benar, ia telah mengirim uang tersebut. setelah itu saya kasih apa yang harus diberikan kedia, yaitu email dan password.

Setelah itu saya beranjak keluar dari Kampus, tepat didepan Universitas Trisakti, ada seorang bapak-bapak yang umurnya kira-kira telah mencapai 40’an dengan pakian sedikit rapi dan berjalan di samping saya.

Dalam berjalan, ia berbicara kepada saya seperti ini:

Bapak-Bapak: “Hari ini kecopetan saya, gimana rumah jauh lagi”.

Saya: masih belum terlalu mendengar

Bapak-Bapak: “Baru kecopetan tadi saya, di sana di dekat tomang anggrek, pada saat lagi jalan, gimana rumah jauh lagi, tidak ada uang buat ongkos kesana”.

yah, setelah mendengar kata tersebut, seolah-olah saya tidak tega gitu, biarkan ia harus berjalan jauh sampai ke Rumahnya. yah, katanya rumahnya itu di mana gitu saya juga sudah lupa, karena memang saya tidak mendengarnya dengan terlalu baik.

Saya: “Wah, Parah Tuh”.

Bapak-Bapak: “Bisa pinjam uangnya yah Bang? 20 Ribu aja”

Saya: “Wah, saya lagi tidak ada uang nih”.

yah, bernar pada waktu itu saya lagi tidak ada uang di dompet sepeserpun, karena belum sempat narik di ATM.

Bapak-bapak: “yah, gimana nih. tolongin saya dong. rumah saya jauh lagi”.

Saya: “Wah, gimana nih Pak, saya benar-benar tidak ada uang, belum narik soalnya”.

Setelah berkata seperti itu, saya langsung mengeluarkan Dompet saya dan menunjukkan ke Bapak-Bapak itu, dan setelah Dia melihat dompet saya yang kosong, saya langsung melihat ke arah wajahnya yang mungkin kesal karena salah orang.

Yah, mungkin saja pada waktu itu ia mau melakukan penipuan, tapi setelah saya mengatakan hal seperti itu, mukanya langsung kesal seolah-olah benci banget sama saya.

Feeling tentang Penipuan itu sudah ada ketika saya melihat wajahnya yang kesal waktu saya menunjukkan dompet saya ke dia. yah, feeling itu sudah ada. tapi agar semua berlanjut, saya rasa Rp.200.000 itu tidak ada artinya, lagian kalau benar-benar ia kehilangan, maka kasihan juga, itulah pikir saya pada waktu itu.

Saya tidak berpikir tentang Mau dia tipu atau tidak, intinya saya harus bantu, entar kalau dia tipu, nanti dia akan mempertanggungjawabkannya suatu kelak nanti. yah, itulah yang saya pikirkan.

Agar membuat wajahnya kembali berseri, saya langsung bertanya ke dia:

Saya: “Arah Rumah bapak kemana yah? apakah ke arah sana?” sambil menunjuk ke arah Latumenten, arah dimana saya menuju stasiun Grogol untuk naik kereta ke tempat saya tinggal.

Bapak-Bapak: “Ia”.

Saya: “Kalau begitu Bapak ikut saya, nanti sampai ATM, saya akan tarik uang dan berikan uang itu Ke Bapak”.

Bapak-Bapak: “Ia Terima Kasih, Nanti saya ganti dah uangnya”.

Setelah ia berkata seperti itu, dalam hati saya berkata bahwa tidak perlu diganti juga tidak apa. yah, bukanya sombong atau apa, tapi memang itulah yang sempat terpikir. Setelah itu, ia berkata kepada saya, Disana Juga ada ATM ( sambil menunjuk ke arah Termina Grogol ).

Yah, tapi saya abaikan dan terus berjalan dan diapun mengikuti saya dari belakang.

Beberapa kali ia meminta nomor hp saya, katanya agar nanti dia akan kembalikan uang saya, tapi saya masih belum memberikannya. saya masih terus berjalan dan dia masih mengikuti langkah kaki saya.

Setelah itu dia meminta lagi nomor hp saya, dan katanya ia ingin mempererat hubungan persaudaraan. yah, itulah kata-katanya.

Yah, setelah itu saya langsung memberikan Nomor Simpati Saya ke Dia dan dia menyimpannya ( katanya sih seperti itu, saya tidak tahu dan tidak ingin tahu ).

Setelah itu ia juga sempat berkata bahwa ia baru habis pulang meeting ( saya tidak tahu itu benar atau tidak, tapi saya tidak peduli apapun itu, karena yang saya pikirkan sekarang ialah bagaimana agar bisa cepat sampai dan memberikan uang tersebut ke dia ).

Dalam pertengahan perjalanan, ia berkata bahwa ia sebentar lagi akan diangkat menjadi seorang Manager/Direktur Utama gitu ( saya juga tidak terlalu ingat lagi ).  yah, itulah katanya, dan setelah saya mendengar kata tersebut, yang saya katakan ialah “Amin, semoga saja”. yah, tapi dalam hati saya berkata bahwa “Orang ini terlalu sombong”.

yah, tapi saya masih mendengarkan apa yang ia katakan.

Setelah sampai di indom*ret, saya menyuruhnya untuk menunggu diluar dan saya masuk untuk mengambil uang:

Saya: “Bapak tunggu disini aja yah, saya masuk dulu buat narik uang”.

Bapak-Bapak: “Ia, tapi bisa g’ kalau Rp.50.000? jangan 20 ribu”.

Yah, ia berkata seperti itu, seolah-olah saya ini bisa dengan mudah untuk dihipnotis ( seolah-olah saya tidak tahu ). yah, mungkin seperti itu.

Saya: “Yah, tapi saya juga harus bayar kereta Pak”.

Setelah itu saya masuk, menarik uang 50 Ribu dan sempat membeli sebuah minuman Pocarisw**t. setelah itu uangnya kembali 44 Ribu rupiah. Setelah keluar, saya memberika dia uang 20 Ribu tersebut dan berkata seperti ini:

Saya: “Maaf Pak, ini uangnya, kita bagi 2, soalnya ini nanti saya gunakan untuk beli tiket kereta”.

Yah, itulah yang saya katakan tanpa melihat wajahnya dan setelah ia menerima uang tersebut, saya langsung berjalan tanpa berkata-kata sedikitpun. yah, saya tidak menoleh kebelakang untuk melihat apa yang ia lakukan, kemana ia pergi, karena saya rasa apa yang seharusnya saya lakukan sudah dilakukan.

Setelah sampai di Stasiun Kereta Api Grogol, agar saya tidak dikatakan seorang pembohong, uang 20 Ribu sisa yang tadi langsung saya gunakan untuk membeli Tiket Kereta buat perjalanan saya beberapa hari.

Yah, itulah yang saya lakukan hingga akhirnya cerita ini berakhir sampai disini.

Sebenarnya ini bukanlah sebuah masalah yang rumit, saya percaya bahwa semua itu ada kebaikan yang akan terjadi. saya tidak peduli apakah ia membohongi saya atau tidak, intinya yang saya tahu secara langsung ialah ia membutuhkan bantuan saya dan yang harus saya lakukan ketika saya bisa melakukannya ialah membantunya.

itulah cerita singkat untuk hari ini, jika ada yang membacanya, yang terpenting untuk catatan ini ialah:

“Kepercayaan itu sangat mahal harganya, saking mahalnya, terkadang tidak dapat untuk dibeli dengan uang. Jadi, kalau ada yang telah memberikanmu sebuah kepercayaan, kecil dan besarnya itu jangan diperhatikan, karena yang terpenting ialah bagaimana agar menjaga kepercayaan itu agar tetap utuh, sebab kepercayaan itu ibarat sebuah gelas kaca, dimana ketika telah retak, akan susah untuk dibuat menjadi utuh kembali”

Tetap Berpikiran Positif. Sekian dan Salam Buat catatan Ini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.