Catatan Atau Akhir Kehidupan – Cerita Mimpi ( 4 Dimensi Mimpi )

Kali ini aku ingin mencatat sebuah dimensi mimpi yang baru saja aku lalui, baru saja aku lewati dibebepa jam yang lalu. Agar tidak dilupa nantinya, sehingga aku memutuskan untuk mencatat cerita ini, sebagai sesuatu yang merupakan bagian terpenting untuk membentuk pribadi ini menjadi pribadi ke arah yang lebih baik.

Catatan atau Akhir Kehidupan – Cerita Mimpi ( Dimensi Mimpi )

Semalam aku bermimpi sedang berada dalam sebuah ruang mimpi yang sedikit berbeda dari mimpi-mimpi yang lain. yah, ceritanya seperti itu. Tapi, dalam mimpi ini aku tidak sadar kalau aku sementara bermimpi, karena yang aku tahu pada waktu itu ialah itu merpukan dunia nyataku.

Dalam dunia atau dimensi mimpi yang pertama, aku tidak mengingatnya di awal cerita ini, karena yang aku ingat ialah dimensi mimpi yang keduaku, yaitu berada disebuah ruang mimpi dalam sebuah ruang mimpi yang pertama.

Aku berada disebuah sekolah, sekolah SD. aku duduk sendiri ditengah-tengah dari keramaian. Bangku yang aku tempati kosong tak ada seorangpun yang duduk disitu, hanya aku sendiri. tiba-tiba aku merasa ada seorang wanita yang katanya adalah mantanku ( Mukanya terlihat seperti Manatan Pacarku ) lewat di belakang aku, tapi aku hanya menunduk terdiam dan menyanyikan sebuah lagu yang aku sudah lupa judul lagu itu apa.

Yah, ceritanya seperti itu. Disisi depan kelas dari sekolah itu, terdapat sebuah alat musik, termasuk beberapa speaker dan seuah colokkan ke hp, tiba-tiba katanya hpku bunyi dengan sebuah lagu yang aku tidak terlalu ingat jelas, hpku terhubung dengan speaker itu, dan ada yang mengangkatnya dan bertanya bahwa:

“Ini hp, punyanya siapa?”.

Karena itu adalah Hp saya, saya mengangkat tangan dan orang tersebut memanggil saya, yang katanya itu adalah guru yang mau memarahi saya:

Saya sempat berkata kepada orang yang didepan saya ( karena saya berada ditengah-tengah ), bahwa:

“Entar juga pasti dia tanya, Pake helm yah?”

Aku jawab aja: “Tidak”.

Kalau dia marah, aku tinggal bilang: “Bagaimana mau pake helm, motor aja tidak punya”.

hahaha, aku sempat tertawa dalam hati seperti itu. yah, ceritanya seperti itu, itulah setengah cerita dari dimensi mimpiku yang kedua ( bermimpi di dalam sebuah mimpi ).

Setelah itu, aku dipanggil untuk menghadap seseorang yang sementara tepat berdiri di depan kelas. yah, orang tersebut katanya mau mendoakan aku, ia mau menaru tangan diatasku dan berdoa kepadaku. saya mengenal orang tersebut dalam mimpi itu, tapi itulah kenal mimpi.

Sebenarnya saya juga tidak mau pergi, tapi inilah lucid dream yang terjadi dalam dimensi mimpi yang ketiga ini, yaitu saya sadar bahwa:

“Ah ini hanya mimpi, saya rasa mereka itu malaikat”. yah, kata tersebut yang membuat saya pergi untuk menghadap orang tersebut.

Sebelum ia mendoakanku, aku berkata bahwa aku tidak mau berdoa di depan umum, aku mau ditempat yang tersembunyi dan tak ada yang tahu. yah, aku berkata tidak jauh beda seperti itu, intinya ialah aku mau didoakan asalkan berada ditempat yang sepi.

Setelah itu, ia membawaku ke sebuah ruangan dibelakang kelas untuk mau mendo’akanku.

Setelah sampai diruangan tersebut, aku sudah tidak tahu, tapi aku masuk lagi ke dunia mimpi yang sedikit berbeda, tapi sedang berada sebuah ruangan yang sedikit besar, kursinya tersusun seperti kursi di bioskop.

Yah, setelah masuk, saya menyimpan tas laptop saya dibelakang dari ruangan itu, duduk menghadap ke orang tersebut, setelah itu saya dibukakan sebuah buku yang saya juga tidak tahu itu adalah buku apa, yang jelas bahwa:

“Buku ini memiliki cahaya, seberapa banyak cahaya yang ada pada buku itu, maka sebegitu banyak juga dosa atau pelanggaran yang aku buat”.

Yah, banyak cahaya yang ada dalam buku, beberapa diantaranya adalah cahaya yang besar, yang artinya bahwa pelanggaran saya itu sudah berakibat fatal.

Itulah bukunya.

Setelah itu, saya ditunjukkan sebuah cahaya yang sangat besar untuk mengakui kesalahan saya, saya dibawah ke sebuah dimensi yang berbeda dari dimensi ketiga ku sekarang, yaitu dimensi keempat dari mimpi, dimana ini adalah dimensi dari cahaya yang ditunjuk itu.

Mula-mula semua berawal dari bagian terbawah tubuh saya, dan setelah dihakimi, sebuah pertanyaan muncul dari orang tersebut, pertanyaannya itu seperti ini:

“Mau Lanjutkan atau mau ulang dari awal?” kalau saya tidak salah pertanyaannya seperti itu ( bebeda dengan kata-kata orang tersebut, tapi tidak jauh beda ).

Setelah itu saya mengatakan bahwa:

“saya mau memulainya dari awal”.

Setelah saya mengatakan kata tersebut, orang itu kemudian langsung menaru tangan saya pada bagian bawah tubuh saya dimana kita memulainya, kemudian menyembuhkan total apa yang salah dengan tubuh ini, dengan kesalahan terbesar mulai dari kaki sampai ke perut.

Pada bagaian ini, katanya sudah sembuh.

Setelah itu aku sadar, aku sadar dalam dimensi mimpi yang ketiga, dimana dimensi mimpi yang keempat telah aku tinggalkan.

Setelah itu, dalam dimensi mimpi yang ketiga ini, masih ada sebuah cahaya yang sangat besar, yang artinya ini adalah keselahan besarku yang belum terbayar, saya tidak tahu ini apa, yang jelas, katanya pada kesempatan ini aku harus menyelesaikannya.

yah, ceritanya seperti itu.

Akhirnya aku dibawah lagi ke dalam cerita atau dimensi mimpi yang keempat, dimana ini adalah area dari cahaya atau kesalahan yang besar dari buku yang saya tidak tahu buka apa itu, yang jelas menurut saya, ini adalah buku kehidupan, karena semua kesalahanku tercatat disana.

Setelah memasuki dimensi mimpi yang keempat, disini aku menangis, karena kesalahan ini sangat besar dan tak dapat untuk diselesaikan. yah, aku menangis dengan sangat parah, layaknya seorang anak kecil yang menangis ketika apa yang diminta tidak dikabuli.

Orang yang membawa saya masuk ke dalam dimensi ini, berjalan mengelilingi saya yang sedang menangis, bertanya dan menghakimi saya seolah-olah ini adalah akhir dari dunia, dimana saya harus mengakui dan mengeluarkan beberapa kata.

Setelah itu, seingat saya, pertama yang saya pikirkan ialah:

“Bukan saya yang salah, karena juga baru ada, yang salah itu adalah Tuhan”.

Yah, kemudian orang ini berkata bahwa:

“Apa engkau menyalahkanku”. ( Seolah-oleh menunjuk ke orang ini ).

Setelah kata itu keluar, saya semakin menangis dan semakin merasa bersalah. aku juga sempat berpikir setelah itu bahwa:

“Aku tidak mungkin salah, karena aku juga baru ada. semua ini dimulai dari adam dan hawa”.

Yah, aku mengatakan bahwa aku tidak bersalah, tapi semakin aku mengakuinya, aku semakin di hakimi. dalam masa-masa itu, aku menangis sangat keras, hingga akhirnya aku mengakuinya, bahwa:

“Akulah yang bersalah”. yah, intinya tidak jauh beda dengan kata itu.

Setelah itu, orang tersebut datang didepanku dan hanya bertanya beberapa kata seperti kata diatas, yaitu:

“Mau lanjut atau mau mulai dari awal” ( kata-katanya tidak seperti itu, tapi maknanya sama ).

AKhirnya, yang saya katakan ialah:

“Saya mau memulainya lagi dari awal”.

Setelah itu, orang tersebut menaru tangannya di dadaku, keluar semacam cahaya untuk mengobatiku, setelah itu katanya semuanya bersih ( sehat ).

Setelah itu, saya dibawa kembali ke dimensi mimpi yang ketiga, dimana pada dimensi ini, saya sudah tidak memiliki cahaya yang besar-besar, karena saya baru saja menyelesaikannya.

Dan yang anehnya disini ialah dari dimensi mimpi yang keempat saya menangis, kembali ke dimensi mimpi yang ketiga pun saya masih tetap menangis. setelah itu saya ditanya lagi seperti ini:

“Kok masih belum selesai? masih banyak cahaya kecilnya”.

Setelah itu, saya langsung mengakui bahwa:

“Itu adalah kesalahanku yang telah terlupakan”. ( aku sudah tidak mengingatnya satu persatu ).

Setelah itu, 2 titik dibuka, satu persatu, aku pertanggungjawabkan kedua titik tersebut, menjawabnya dengan jujur dan kembali lagi ke dimensi mimpi yang ketiga, hingga akhirnya pada dimensi mimpi yang ketiga ini, masa dihakimiku sudah selesai.

Aku mengambil tasku dan pulang, dalam perjalananku, teman-teman, orang-orang disekitarku mengejekku, karena pada saat tadi ada sebuah kalimat yang terucap, mereka bertanya kembali kalimat tersebut, dan aku menjawab bahwa:

“Yang tadi terucap itu ialah tempatkan cinta diatas segalanya”.

nah Setelah itu, disinilah aku sadar bahwa aku sudah sadar dan berada di dimensi mimpi yang kedua, dimana aku berada tepat didepan rumah orang tuaku, dan aku rasa bahwa itu adalah dunia nyataku, padahal itu masih dunia mimpiku. Aku merasa bahwa aku baru saja melewati mimpi yang sangat menakjubkan, dan aku ingin untuk menulisnya.

tiba-tiba ada beberapa anjing yang mau mengginggitku, tapi kuusir mereka dengan sebuah kayu, tapi ada seekor anjing kecil yang berada tepat disampingku, lagi duduk dengan lugu dan saya sudah tidak ingat hingga akhirnya saya terbangun dalam dunia nyataku dan menulis cerita ini.

Sekian dan salam buat catatan atau akhir kehidupan yang sedikit panjang dan menganggumkan, buat saya yang pernah melaluinya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.